Danone Produsen Aqua, UGM dan BRIN, Bicara
SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pekan lalu, ditemukan sumber air Aqua oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ini saat Dedi Mulyadi, mengunjungi pabrik perusahaan, viral di media sosial.
Pasalnya, muncul anggapan sumber air didapat dari sumur bor biasa.
Dalam video yang diunggah di kanal YouTube 'Kang Dedi Mulyadi Channel (KDM)' salah seorang staf perusahaan mengatakan bahwa sumber air dari Aqua berasal dari bawah tanah yang diambil melalui proses pengeboran.
Aqua mengklarifikasi bila sumber air yang dimaksud adalah 'akuifer dalam', memang apa sih maksudnya?
Menanggapi hal ini, Danone selaku produsen air minum Aqua menegaskan bahwa sumber air yang digunakan bukan berasal dari air permukaan maupun air tanah dangkal.
Sumber air Aqua diambil dari akuifer dengan kedalaman 60-140 meter yang terlindungi secara alami oleh lapisan kedap air, sehingga bebas dari kontaminasi aktivitas manusia dan tidak mengganggu penggunaan air masyarakat.
"Aqua menggunakan air dari akuifer dalam yang merupakan bagian dari sistem hidrogeologi pegunungan," tegas pernyataan tersebut, yang diterima redaksi Surabaya Pagi, Minggu siang (26/10).
Merek Aqua sendiri selama ini dikenal dengan iklan 'Air Mineral Pegunungan' yang mana produsen menegaskan bahwa sumber air berasal dari dari pegunungan vulkanik yang merupakan tanah dalam (akuifer dalam).
Akuifer Batuan di Dalam Tanah
Guru Besar Teknologi Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Ir Heru Hendrayana mengatakan sederhananya akuifer adalah batuan di dalam tanah yang mengandung air.
"Air tanah itu tentunya lebih baik kualitasnya daripada air permukaan, pasti. Karena dia ada di bawah permukaan, dia mengalir melalui pori-pori sehingga mengalami purifikasi alamiah, penyaringan alamiah," kata Prof Heru, Jumat (24/10/2025).
Sumber air akuifer dalam ini bisa ditemukan dalam kedalaman 70 hingga ratusan meter ke bawah, sehingga membuat kualitasnya jauh lebih baik daripada air tanah dangkal.
Air Tanah Tertekan
Peneliti hidrologi dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Rachmat Fajar Lubis menekankan sumber air di alam secara umum terbagi menjadi tiga, yakni air hujan, air permukaan, dan air tanah. Dari ketiganya, air tanah merupakan sumber utama bagi banyak perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK).
"Air tanah sendiri ada dua karakter," jelasnya, Minggu (26/10/2025).
"Ada yang disebut air tanah bebas, dan ada air tanah tertekan. Air tanah bebas adalah air tanah yang tekanannya sama dengan udara di sekitarnya, berada dekat permukaan, dan sering dikenal sebagai air tanah dangkal."
Air tanah bebas ini, lanjutnya, sangat dipengaruhi oleh kondisi permukaan tanah, kalau hujan bisa ikut meluap atau banjir, dan kalau kemarau ikut kering. Karena itu, masyarakat biasa umumnya menggunakan air jenis ini untuk sumur rumah tangga, terlebih pengambilannya mudah dan tidak terlalu dalam.
Berbeda dengan air tanah bebas, air tanah tertekan yang kemudian disebut akuifer dalam, memiliki tekanan lebih tinggi dari permukaan tanah dan dilindungi oleh lapisan kedap air di atasnya. Jenis air ini tidak mudah terpengaruh oleh musim maupun aktivitas di permukaan.
"Air tanah tertekan bisa tetap mengalir meskipun kemarau panjang. Inilah yang menjelaskan mengapa sungai meski kemarau panjang, sungai-sungai tetap ada airnya," lanjutnya.
Namun, karena letaknya yang dalam dan terlindung, pengambilan air tanah tertekan harus melalui izin resmi dan dikenakan pajak air tanah, tidak bisa dilakukan sembarangan.
Beralihnya Perusahaan AMDK
Peneliti BRIN menjelaskan baik mata air maupun air tanah yang didapat dengan dibor sebenarnya bisa sama-sama mengambil air dari lapisan akuifer yang sama. Hanya saja, cara pengambilannya berbeda.
Terkait Aspek Mikrobiologis
"Sekarang, jika disurvei, hampir semua perusahaan AMDK memang menggunakan metode bor, meskipun lokasinya berdekatan dengan mata air," katanya.
"Tujuannya untuk menjaga kualitas air, terutama dari risiko kontaminasi bakteri. Salah satu kemajuan pemahaman yang paling pesat adalah terkait aspek mikrobiologis, khususnya bakteri. Jadi, meskipun mata air berasal langsung dari bawah permukaan tanah, potensi terpapar bakteri tetap ada. Misalnya, di sekitar mata air sering tumbuh lumut atau terdapat aktivitas biologis di tanah, yang secara alami mengandung berbagai jenis bakteri."
Menurutnya, penelitian menunjukkan mata air alami tetap berpotensi mengandung bakteri, terutama jika di sekitar lokasi banyak aktivitas manusia, hewan, atau vegetasi padat. n ec/dc/rmc
Editor : Moch Ilham