Ekowisata Mangrove Wonorejo, Menjaga Keindahan Alam Surabaya yang Terlupakan

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Surabaya yang dikenal dengan taman-taman hijau yang menawan, menyimpan sebuah destinasi wisata alam yang unik dan menarik: Ekowisata Mangrove Wonorejo. Terletak di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, kawasan hutan mangrove ini menawarkan keindahan alam yang asri dan menjadi tempat pelarian yang ideal bagi warga Surabaya yang ingin menikmati suasana alami tanpa harus keluar kota. Namun, sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, kawasan yang dulu ramai pengunjung ini mulai sepi dan jarang terdengar gaungnya.

Ekowisata Mangrove Wonorejo menyuguhkan pemandangan hutan bakau yang rimbun, membentang sepanjang sungai menuju laut. Kawasan ini bukan hanya menjadi tempat untuk menikmati udara segar dan kedamaian, tetapi juga memiliki nilai edukasi lingkungan yang penting. Pengunjung dapat mempelajari tentang ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai benteng alami dalam melindungi pesisir dari abrasi dan intrusi air laut, serta sebagai habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna, termasuk burung migran.

Dulunya, Ekowisata Mangrove Wonorejo menjadi destinasi favorit bagi keluarga dan rombongan sekolah. Mereka bisa menikmati perjalanan menyusuri sungai dengan perahu, sambil belajar tentang tanaman bakau dan pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Namun, sejak pandemi Covid-19, jumlah pengunjung menurun drastis. Meski kawasan sudah kembali dibuka, minat wisatawan tampaknya belum pulih sepenuhnya, sebagian besar karena kurangnya promosi yang dilakukan.

"Pada akhir pekan, dulu tempat ini selalu ramai. Banyak keluarga dan rombongan sekolah datang untuk belajar sambil bermain. Sekarang, sepi sekali," ujar Eko Prasetyo (41), salah satu pengelola perahu wisata, Minggu (27/10).

Ekowisata Mangrove Wonorejo, yang kini berfungsi sebagai kawasan konservasi, juga berperan dalam pelestarian keanekaragaman hayati. Kawasan ini meliputi sekitar 200 hektar dan menjadi rumah bagi ratusan spesies burung migran, kepiting bakau, serta ikan-ikan kecil. Selain itu, hutan mangrove ini juga berfungsi sebagai penahan erosi dan melindungi pesisir Surabaya dari dampak perubahan iklim.

Pengunjung yang datang bisa memilih untuk berjalan-jalan di jalur jogging track sepanjang 1 km yang mengelilingi kawasan hutan mangrove, atau menyewa perahu untuk menyusuri sungai sejauh 5,4 km menuju hutan mangrove. Tarif untuk menyewa perahu bervariasi, dengan paket rombongan di hari kerja (weekday) seharga Rp 25.000 per orang dewasa dan Rp 15.000 untuk anak-anak. Untuk akhir pekan, pengunjung dapat bergabung dengan rombongan lain dengan tarif yang sama.

Meski sebagian fasilitas seperti jalur kayu, gazebo, dan dermaga masih terawat, beberapa bagian kawasan tampak mulai memudar dan kurang terawat akibat kurangnya pengunjung. 

"Sayang sekali kalau dibiarkan begitu saja. Tempat ini punya potensi besar, selain keindahan alam, juga bisa jadi edukasi untuk anak-anak," ujar Siti Rahma (34), salah seorang pengunjung asal Gunung Anyar.

Untuk itu, banyak pengunjung berharap pemerintah kota bisa kembali memperhatikan dan menghidupkan kembali potensi wisata ini dengan upaya revitalisasi dan promosi yang lebih intens. Ekowisata Mangrove Wonorejo bukan hanya sekedar destinasi wisata, tetapi juga merupakan paru-paru hijau bagi Surabaya dan bagian dari identitas kota yang ramah lingkungan. Jika tidak segera digerakkan, bukan tidak mungkin, pesona alam ini akan perlahan terlupakan di tengah pesatnya pembangunan kota.

Mengunjungi Ekowisata Mangrove Wonorejo tidak hanya memberikan kesempatan untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam demi masa depan yang lebih lestari. Sebagai destinasi wisata edukatif, tempat ini menawarkan pengalaman yang berbeda dan bermanfaat, baik untuk pengunjung muda maupun dewasa.sby-01/raf

Berita Terbaru

Resmikan Landfill Mining TPA Ngipik, Bupati Gresik Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah

Resmikan Landfill Mining TPA Ngipik, Bupati Gresik Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah

Selasa, 24 Feb 2026 21:28 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 21:28 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Gresik – Upaya serius mengatasi persoalan sampah terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Gresik. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui p…

Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

Menlu Jelaskan 8.000 Personel TNI Jaga Perdamaian

Selasa, 24 Feb 2026 19:40 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:40 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk berkontribusi aktif dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global melalui…

SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

SBY Pesan, Indonesia Jangan Lugu

Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB

Sejarah Perang Dunia II, Indonesia Tidak Terlibat Langsung Perang tapi Tetap Terdampak   SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang …

Yaqut Klaim Pembagian Kuota Jaga Keselamatan Jemaah

Yaqut Klaim Pembagian Kuota Jaga Keselamatan Jemaah

Selasa, 24 Feb 2026 19:36 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:36 WIB

Sidang Praperadilannya Dikawal Puluhan Banser. KPK tak Hadir, Ditunda 3 Maret      SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gu…

Jaksa Tuding Penjualan Laptop Chromebook era Nadiem, Kayak Sedekah

Jaksa Tuding Penjualan Laptop Chromebook era Nadiem, Kayak Sedekah

Selasa, 24 Feb 2026 19:34 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:34 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Jaksa Penuntut Umum (JPU) heran dengan harga jual laptop Chromebook dari PT Hewlett-Packard Indonesia (HP) lebih murah daripada…

KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes

KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes

Selasa, 24 Feb 2026 19:33 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 19:33 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Mitigasi potensi risiko korupsi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, mulai dibahas Tim…