Tingkatkan Pembenah Tanah Alami, Kelompok Petani Probolinggo Manfaatkan Limbah Eceng Gondok

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Kelompok Tani (Poktan) Masa Baru Desa Jatisari Kecamatan Kuripan yang memanfaatkan limbah eceng gondok sebagai pembenah tanah alami untuk meningkatkan kesuburan lahan. SP/ PRB
Kelompok Tani (Poktan) Masa Baru Desa Jatisari Kecamatan Kuripan yang memanfaatkan limbah eceng gondok sebagai pembenah tanah alami untuk meningkatkan kesuburan lahan. SP/ PRB

i

SURABAYAPAGI.com, Probolinggo - Dalam rangka meningkatkan kesuburan lahan pertanian, para Kelompok Tani Masa Baru di Desa Jatisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur memanfaatkan limbah eceng gondok sebagai pembenah tanah alami. Pasalnya, eceng gondok memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, karena menyerap sisa pupuk di perairan, sehingga hal itu bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah untuk memulihkan kesuburan lahan pertanian.

Selain itu, manfaat inovasi tanaman tersebut untuk lahan pertanian juga dapat memberikan keuntungan lain, yakni memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan nutrisi dari sisa pupuk yang terbawa air, sehingga sangat potensial dimanfaatkan kembali untuk memperbaiki kesuburan tanah

Lanjut, untuk Inovasi pertanian ramah lingkungan yang dikembangkan petani di Probolinggo itu didampingi UPT Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya melalui Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan bersama POPT Pangan dan Hortikultura, serta tim Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kuripan.

Petugas POPT Perkebunan, Ika Ratmawati mengungkap, untuk pembuatan pembenah tanah itu tergolong mudah dan murah, karena menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat di sekitar petani, yakni 5 kilogram eceng gondok, 1 kilogram kulit nanas, 250 mililiter EM4, 250 mililiter molase, dan 10 liter air yang difermentasi selama satu bulan.

"Dengan formulasi tersebut, pembenah tanah sudah siap digunakan. Aplikasinya dengan cara dikocor atau disiram ke tanah dengan perbandingan 1:10 liter air, sehingga yang dibutuhkan hanya kemauan petani untuk memperbaiki kondisi tanahnya," jelasnya, Minggu (05/04/2026).

Menurutnya, pemanfaatan bahan alami itu tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem pertanian secara berkelanjutan. Sehingga, penggunaan pembenah tanah sebaiknya dilakukan saat pengolahan lahan atau sebelum masa tanam.

Sementara Ketua Kelompok Tani Masa Baru, Karsan mengatakan inovasi sederhana seperti itu sangat bermanfaat bagi petani dalam jangka panjang. Dan diharapkan melalui inovasi tersebut para petani di Kabupaten Probolinggo semakin terdorong untuk beralih ke praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, sekaligus menjaga keberlanjutan produktivitas lahan di masa depan yang lebih baik dan aman. pr-01/dsy

Berita Terbaru

Dalang Cilik Naik Panggung, Petrokimia Gresik Dorong Regenerasi Seni Wayang

Dalang Cilik Naik Panggung, Petrokimia Gresik Dorong Regenerasi Seni Wayang

Selasa, 18 Agu 2026 19:45 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 19:45 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Gresik — Upaya melestarikan seni dan budaya tradisional terus dilakukan PT Petrokimia Gresik (Persero). Di tengah pesatnya perkembangan z…

Warga Uji Transparansi Pergantian Pimpinan DPRD Magetan, Rekaman Paripurna Diminta Dibuka

Warga Uji Transparansi Pergantian Pimpinan DPRD Magetan, Rekaman Paripurna Diminta Dibuka

Selasa, 18 Agu 2026 19:22 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 19:22 WIB

‎SURABAYAPAGI.com, Magetan – Proses pergantian pimpinan DPRD Kabupaten Magetan kembali menjadi perhatian. Kali ini, publik meminta dokumen dan rekaman Rapat Par…

AUM Wealth Management Danamon Tumbuh 20 Persen, Bisnis Priority Banking Makin Diperkuat

AUM Wealth Management Danamon Tumbuh 20 Persen, Bisnis Priority Banking Makin Diperkuat

Selasa, 18 Agu 2026 19:10 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 19:10 WIB

SurabayaPagi, Jakarta – PT Bank Danamon Indonesia Tbk kembali memperkuat bisnis pengelolaan kekayaan (wealth management) setelah meraih dua penghargaan dalam A…

Jadi Alarm bagi Ketahanan Pangan, Harga Gabah di Magetan Nyaris Rp9 Ribu per Kg

Jadi Alarm bagi Ketahanan Pangan, Harga Gabah di Magetan Nyaris Rp9 Ribu per Kg

Selasa, 18 Agu 2026 15:33 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 15:33 WIB

SURABAYAPAGI.com, Magetan - Baru-baru ini, harga komoditas gabah di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, sedang berada di level tinggi. Gabah kering giling (GKG)…

Peringati HUT ke 81 RI di Jawa Timur, PLN Jaga Pasokan Listrik Tanpa Kedip di Jawa Timur

Peringati HUT ke 81 RI di Jawa Timur, PLN Jaga Pasokan Listrik Tanpa Kedip di Jawa Timur

Selasa, 18 Agu 2026 15:30 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 15:30 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur sukses menjaga keandalan pasokan listrik tanpa kedip dalam puncak peringatan H…

Waspada Air Liur Tikus, Dinkes Bondowoso Gencar Edukasi Bahaya Hantavirus

Waspada Air Liur Tikus, Dinkes Bondowoso Gencar Edukasi Bahaya Hantavirus

Selasa, 18 Agu 2026 15:27 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 15:27 WIB

SURABAYAPAGI.com, Bondowoso - Guna meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan tikus, termasuk hantavirus yang belakangan ramai diperbincangkan,…