•   Jumat, 28 Februari 2020
Properti

Ada 3 Rumah Abu Keluarga di Jalan Karet

( words)
Nuansa Pecinan jaman dulu sangat terasa di Jalan Karet ,Surabaya.


Menyusuri sepanjang Jl. Karet Surabaya, masyarakat Kota Surabaya seakan menikmati suasana Tionghoa dengan berbagai Langgam arsitektur Pecinan. Kawasan yang kini telah menjadi kawasan perdagangan ini memang kental dengan gaya pecinan yang ada di Jl Kembang Jepun di samping area tersebut.

Wartawan SurabayaPagi, Arlana

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Ada beberapa bangunan gaya Pecinan yang menghiasi sepanjang Jl. Karet. Tampak tata ruang, jalanan, dan bangunan gedung mempunyai struktur kuat beraroma negeri Tirai Bambu.

Di Jl. Karet sendiri masyarakat masih bisa merasakan adanya kawasan mewah warisan nenek moyang yang kini banyak yang tak berpenghuni atau berubah fungsi. Jalanan juga terasa teduh dan tampak anggun. Warna-warna monokrom serta bergradasi menjadikan Jl. Karet berkesan artistik.

Bila menilik lebih jauh, arsitektur lanskap dan bangunan di kota Surabaya adalah percampuran antara pengaruh kolonial Belanda, China, Jawa, sebagian modern dan post-modern. Jalan Karet yang sudah sangat tua meninggalkan jejak Pecinan bercampur kolonial belanda yang kuat.

Surabaya sebagai salah satu kota tua di Indonesia dan Asia Tenggara, kebanyakan memiliki bangunan rumah toko, yang berlantai dua. Rumah-rumah toko ini terinspirasi dari tradisi Eropa dan China Peranakan. Gaya lama ini masih bisa disaksikan dengan jelas di kawasan perdagangan kota lama di Jl. Kembang Jepun, Jl. Gula, Jl. Slompretan, Jl.Rajawali dan Jl. Karet sendiri.

Di Jalan Karet terdapat tiga rumah abu keluarga Han, The, dan Tjoa yang kini menjadi rumah sembahyang para masyarakat Tionghoa yang menjadi jujugan alternatif para wisatawan yang melintas di Jalan Karet.

Saat ini aroma pecinan masih membekas di area tersebut ciri khas bangunan China abad pertengahan membuat masyarakat seakan berjalan kembali lorong waktu era lampau.

Sejak dahulu Jalan Karet tekenal menjadi pusat perniagaan dan perdagangan masyarakat Tionghoa. Meski kini Jalan Karet mengalami banyak perubahan semisal beberapa bangunan yang beralih fungsi menjadi gudang dan bongkar muat, Jalan Karet tetap tidak kehilangan jati dirinya sebagai saksi bisu tumbuh kembangnya peradapan tionghoa di Kota Pahlawan.

Berita Populer