•   Jumat, 3 April 2020
Catatan Politik Tatang

Banjir Makin Meluas, untuk apa Dana APBD Selama ini

( words)


Surat Terbuka untuk Walikota Risma, yang Suka Turun Lapangan Saat Banjir (2-habis)

Bu Risma,
Staf Anda mengatakan saat banjir Minggu yang lalu, Anda membersihkan selokan di kawasan monumen Bambu Runcing. Di kawasan ini, Anda, bersih-bersih selokan bersama Kepala Dinas PU Bina Marga, Kepala Dinas Kominfo, Kasat Pol PP serta Kepala Dishub Kota Surabaya.
Anda bahkan dilaporkan meminta mendatangkan mobil tangki untuk mempercepat menyedot air dengan mobil damkar dan disiramkaan ke taman.
Dan usai melakukan bersih-bersih di kawasan Bambu Runcing, sekitar pukul 21.00 WIB Anda sudah berada di kawasan Wonokromo. Di Wonokromo, Anda juga mencari cara agar genangan di jalan cepat surut.
Inikah yang dinamakan pejabat turun lapangan?.
Saya masih ingat zaman Soeharto, berkuasa. Saat itu, saya masih bertugas meliput di lapangan. Saya diberitahu bahwa maksud Soeharto turun ke lapangan adalah untuk mengetahui kinerja anak buah. Terutama mengecek sejauh mana anak buah Soeharto, memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Maksud Soeharto, turun ke lapangan, agar dirinya tidak mendapat lap ABS (asal bapak senang).
Nah, malam itu Anda ke lapangan bersama beberapa kepala dinas, Apakah Anda juga melakukan niatan seperti Soeharto, mengecek kinerja anak buah?
Anak buah yang mana? Mengingat, semua pejabat di bawah Anda yang menangani masalah banjir ikut sidak.
Lalu, apa alasan Anda turun ke lapangan saat hujan? Apakah Anda ingin hujan-hujan seperti anak kecil yang bila hujan, beramai-ramai ke luar rumah? Ataukah Anda ingin dilihat publik, seolah Anda ini pejabat yang suka turba (turun ke bawah)?

Bu Risma,
Saya dengar Anda akan dipromosikan DPP PDIP menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Bila benar, Anda bisa belajar dari cara kerja Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, saat itu.
Jokowi, yang diusung DPP PDIP, saat itu berjanji akan terus mengajak para birokratnya untuk turun ke lapangan. Tujuannya jelas yaitu memantau dan meninjau permasalahan warga Jakarta. Maklum, kegiatan turun ke lapangan, bagi Jokowi harus dijadikan kewajiban para pejabat dan birokrat di DKI Jakarta.
Pertanyaan besarnya, benarkah dengan turun langsung menyapa warga, para birokrat dapat mengetahui langsung "penyakit" yang ada di masyarakat?,
Anda dibicarakan tidak hanya saat banjir, tetapi saat turun ke jalan mengatur lalulintas, Anda ramai diperbincangkan netizen. Ini setelah video kegiatan Anda mengatur lalulintas beredar.
Saya sendiri menyaksikan dalam video durasi 1 menit 42 detik , Anda tampak cekatan mengatur lalu lintas di salah satu perempatan di Surabaya.
Kompetenkah seorang Walikota seperti Anda mengatur lalulintas? Padahal ini tugas kepolisian dan Dinas Perhubungan. Apakah keliru bila ada warga kota yang menuding Anda melakukan pencitraan?.
Secara akal sehat, tudingan pencitraan itu bisa dijawab melalui program-program mengatasi banjir dan kemacetan di Surabaya.
Sudahkah ada realisasinya? Jujur, sampai banjir Jumat dan Sabtu malam minggu lalu, program mengatasi banjir dan kemacetan belum dirasakan oleh warga kota Surabaya.

Bu Risma,
Hampir semua pejabat politik tahu bahwa ukuran kinerja seorang kepala daerah adalah kinerja. Targetnya apa?, yang tercapai apa?, lalu dibandingkan dan dari turun ke lapangan baru dilihat kinerjanya?
Menurut akal sehat saya, yang dimaksud atau kerja lapangan benaran seorang kepala daerah adalah Anda dan masyarakat yang menilai.
Kalau saya jadi Anda, dikritik sebagai pejabat yang suka pencitraan akan berterima kasih. Terutama kepada pihak-pihak yang mengkritisi aksi turun lapangan Anda saat banjir. Sebagai jurnalis, saya menganggap kritik ini sebagai masukan.
Dan sebagai pejabat politik, jika saya menjadi Anda, jujur saya tidak terlalu menanggapi tudingan sedang melakukan pencitraan.
Cara pandang saya ini, karena warga kota Surabaya yang kritis, tahu bahwa pejabat publik memang harus dekat dengan rakyat.
Jadi, Anda jangan takut dianggap pencitraan. Gaya Anda yang sering turun lapangan Anda anggap pejabat yang ingin dicintai rakyatnya. Harapan positifnya, agar cara kerja Anda bisa menjadi rujukan bagi seluruh birokrat di Pemkot Surabaya untuk juga dekat dengan rakyat.
Pertanyaan besarnya dengan Anda membersihkan selokan dan mengatur lalulintas, apakah Anda akan memetakan permasalahan kompleks masalah banjir dan kemacetan di Surabaya?
Benarkah dengan turun hujan-hujan pada saat banjir Anda ingin menangkap secara “live” aspirasi warga kota yang kebanjiran? Tentu aspirasi tanpa sensor, tanpa rekayasa dan tanpa mengandalkan laporan palsu.
Akal sehat saya mengatakan turun lapangan, blusukan, terjun ke lapangan, menginjak tanah, menyentuh bumi, atau “sidak” (inspeksi mendadak), atau bahkan “turba” (turun ke bawah), sebuah kosakata membangun kinerja?
Apakah Anda yang tahun ini akan turun tahta sebagai walikota, khawatir akan kehilangan “citra dan cinta” di hati warga Surabaya?,
Jadi tidak bisa disalahkan bila ada diantara warga kota yang melihat “turba” Anda saat hujan dan kemacetan, dengan tuding miring. Adakah ini kepalsuan atau kepura-puraan cinta dengan warga kota?
Satu hal yang lebih penting, turun lapangan atau blusukan dengan segala bentuknya adalah sarana seorang kepala daerah untuk menangkap secara tepat kondisi dan kebutuhan rakyatnya?
Misalnya, bila minggu yang lalu banjir dimana-mana, apakah minggu ini atau minggu depan, bila ada hujan ekstrem, Surabaya tidak banjir dan macet lagi?
Bagi saya, turun lapangan atau blusukan saat hujan dan banjir harusnya menjadi cara bagi Anda menyelesaikan persoalan di masyarakat secara cepat dan komprehensif. Mengingat Anda telah melihat langsung persoalan riil di lapangan.
Bila turun lapangan Anda saat banjir tiba di hampir semua kawasan di Surabaya, blusukan Anda harus benar-benar menyelesaikan persoalan banjir di Surabaya secara serius dan komprehensip.
Dan bukan sekedar bersih-bersih gorong dan selokan saat sidak banjir datang. Ingat banjir di Surabaya sudah berkali-kali. Bahkan dari tahun ke tahun, kawasan banjir makin meluas.
Malahan minggu lalu, hujan hanya berlangsung dua jam, kemacetan dan banjir telah melanda di hampir seluruh penjuru kota Surabaya.
Pertanyaan besarnya, bila banjir makin meluas, untuk apa dana rakyat dari APBD selama ini digunakan? Apakah pembangunan sumur resapan air hujan yang menggunakan dana APBD tidak mempan?
Apakah ini yang namanya wakikota pro rakyat yang sesungguhnya atau walikota yang membangun pencitraan agar dicintai dan dicitrakan walikota perempuan pertama Surabaya. ? (tatangistiawan@gmail.com)

Berita Populer