•   Kamis, 14 November 2019
Peristiwa Politik

DPR Kecam Fachmi Soal Bandingkan biaya BPJS dengan Pulsa Telepon

( words)
Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto (kiri) dan Dirut BPJS Fahmi Idris dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Selasa (5/11/19).


SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Dalam rapat kerja antara Anggota Komisi IX DPR dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sempat memanas saat membahas soal iuarn BPJS. Rapat itu diadakan di Kompleks Parlemen, Senayan.

Pasalnya, saat Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay mendengar pernyatakan dari Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris bahwa iuran BPJS lebih murah daripada membeli pulsa telepon. Saleh langsung merasa geram dan melakukan protes secara konfrontasi.

“Jadi perlu dicatat. Saya protes karena Dirut BPJS sangat menyederhanakan masalah. Padahal, masalah-masalah itu sangat kompleks,” kata Saleh saat rapat kerja Komisi IX DPR dengan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, BPJS, DJSN, dan Badan Pengawas BPJS di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (6/11).

“Coba bayangkan iuran BPJS dibandingkan pulsa telepon, itu sangat-sangat tidak komparatif, tidak kompatibel, dan tidak komparabel. Tidak boleh dibandingkan seperti itu,” lanjut politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu.

Bahkan, Fachmi diajak oleh legislator dapil Sumatera Utara II itu untuk sekali-sekali ke kampungnya melihat bahwa masih ada warga yang susah yang gajinya Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu sehari.

“Tidak usah menunggu setengah jam, 20 menit saya tunjukkan ini loh orang yang gajinya Rp 20 ribu, Rp 30 ribu sehari,” katanya.

Lebih lanjut, Saleh menegaskan, dirinya tidak setuju analogi dirut BPJS yang sebelumnya menyebut bahwa untuk membayar iuran BPJS Kesehatan, masyarakat bisa menabung Rp 2 ribu per hari. Jadi, kalau dalam satu keluarga itu ada suami, istri, dan satu anak, berarti setiap hari harus menambung Rp 6 ribu.

Namun, di kampung itu, rata-rata banyak yang punya anak. kalau ada anak lima, maka ditambah suami dan istri, iuran yang harus dibayar adalah untuk tujuh orang. Artinya, sehari harus menabung Rp 14 ribu. Kalau sepuluh hari Rp 140 ribu. Kalau 30 hari sudah Rp 420 ribu.

“Jadi pertanyaannya, lebih murah mana iuran BPJS atau pulsa telepon?,” kata Saleh.

Masih konteks yang sama, Saleh menambahkan, pulsa telepon itu adalah kebutuhan sekunder, bahkan tersier. Menurut dia, orang yang tidak punya telepon bisa hidup senang, gembira, tertawa, beraktivitas, dan sekolah.

“Lantas, kalau tidak punya akses kesehatan, orang bisa meriang, merinding, bahkan meninggal dunia. Jadi tolong cabut itu (pernyataan),” katanya.

Dalam hal itu, Saleh kembali mengingatkan dirut BPJS tidak usah berbicara macam-macam ketika banyak orang mempertanyakan ihwal kenaikan iuran. Dia menyarankan sebaiknya dirut BPJS menyatakan bahwa kenaikan iuran itu adalah urusan pemerintah.

“Karena undang-undangnya yang menaikkan itu pemerintah, bukan dirut BPJS. Kenapa dikomentari? Itu tidak pas,” kata Saleh.

Sebelumnya, Fachmi menyebut iuran BPJS Kesehatan lebih murah dibanding pulsa telepon. Hal itu dia katakan mengomentari kenaikan tarif Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan. Sesuai perpres, iuran peserta mandiri untuk kelas I menjadi RP 160 ribu. Kelas II Rp 110 ribu, dan kelas III Rp 42 ribu.

Menurut Fachmi, kalau dikalkulasi per tahun, memang besaran pembayaran mencapai jutaan, tetapi dihitung secara harian iuran BPJS lebih murah dibanding pulsa karena hanya menyisihkan Rp 2 ribu per hari.

“Kalau bicara perbandingan lebih murah dari pulsa,” ujar Fahmi di kantor pusat Kemenkes, Jakarta Pusat, Jumat (1/11).

Berita Populer