•   Kamis, 14 November 2019
Agrobisnis

Fluktuasi dan Kopi Impor Jadi Topik Aduan Petani ke Jokowi

( words)
Beberapa petani kopi yang tengah berjalan menyusuri kebun kopi SP/Metr


SURABAYAPAGI.com - Selisi harga kopi organic dengan nonorganic relative besar sekitar lebih kurang Rp 45 ribu per kg. menegnai hal itu, Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono, membrikan sebuag trosoban dengan meminta petani kopi organik merambah sektor hilir.

Hal itu dilakukan agar petani mendapat nilai tambah keuntungan dari industry pengolahan yang bisa membantu petani bertahan menghadapi fluktuasi harga biji kopi.

"Itu salah satu terobosan. Karena dia mampu mewujudkan produk organik yang dihargai mahal tentunya," kata Kasdi saat mengunjungi kebun kopi Kelompok Tani Tani Manunggaling Karso di Kecamatan Tutur, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (8/10).

Serta Kasdi meminta petani tidak hanya menjual biji kopi, baik green bean basah maupun kering. Sebab, harganya sangat fluktuatif, khususnya kopi robusta. Ia meminta petani menjual biji kopi yang sudah diolah atau sudah dikemas.

Selain fluktuasi harga, Petani kopi yang tergabung dalam Paguyuban Petani Sunda Hejo meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengerem laju impor kopi yang berasal dari negara-negara Amerika Latin dan Vietnam.

Perwakilan petani kopi, Hamzah, mengeluhkan banjirnya pasokan kopi impor yang mengalir ke kedai-kedai kopi dalam negeri. Hamzah mengungkapkan, Amerika Latin lebih banyak mengirim kopi arabika, sementara Vietnam lebih banyak jenis robusta.

"Ada masalah besar Pak, di setiap kedai kopi muncul kopi impor Amerika Latin dan Vietnam. Mohon kebijakan agar impor tidak gampang mengalir. Karena harga akan lebih rendah di kami," ujar Hamzah kepada Jokowi di Istana Negara, Kamis (10/10).

Menurutnya, kopi impor asal Amerika Latin dan Vietnam memiliki harga jual lebih murah ketimbang kopi lokal. Alasannya, produski kopi impor sudah menggunakan otomatisasi mesin.

"Sedangkan kami masih pakai tangan metiknya. Kalau kami tak bisa bersaing, harga kopi bisa turun," kata Hamzah.

Presiden Jokowi sendiri mengaku akan menindaklanjuti masukan dari para petani. Dalam sebuah kesempatan pada Agustus 2019 lalu, Jokowi juga sempat menyindir pengelola mal-mal yang selalu menempatkan merek kopi asing di posisi paling strategis.

Meski tak menyebutkan merek kopi tersebut, Jokowi menilai bahwa seharusnya merek-merek kopi lokal bisa mendapat posisi yang setara.

"Kalau sudah mau minum kopi yang ditaruh di depan si ’itu’. Saya nggal usah sebut sudah tahu semuanya. Kopi kita kurang enak? Coba datang ke Tuku Coffee, datang ke Kenangan. Nggak ada bedanya. Harga separuh atau sepertiga," ujar Presiden di hadapan para pengelola pusat perbelanjaan dan pemilik merek-merek lokal, Kamis (15/8).

Jokowi pun meminta Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) untuk memfasilitas pemilik merek lokal demi bisa mendapat lokasi berdagang yang strategis.

Presiden juga mengingatkan pengelola mal atau pusat perbelanjaan untuk bisa memberikan prioritas bagi merek lokal, bukan merek asing.

Berita Populer