Origami, Butuh Ketelitian yang Lebih

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Origami merupakan seni melipat kertas. Bahan utama yang digunakan tentu saja adalah kertas. Hasil dari origami, ialah suatu hasil kerja tangan yang sangat teliti. Tim SurabayaPagi kemudian bertemu dengan Fenchilia Zang selaku praktisi yang sering berbagi ilmu terhadap seni melipat kertas tersebut.

Awal mulanya ialah ketika sang anak, yaitu Brians Tjipto Meidianto yang memulai bermain origami sejak usia 4 tahun dan membuat ia turut belajar terhadap seni melipat kertas tersebut. Menurut Fenchilia, ia dan sang anak sudah sering menjadi pemateri workshop origami, bahkan sejak sang anak masih duduk di bangku sekolah dasar saat kelas 3 SD. Pada awalnya ia lebih sering menjadi assisten dari Brians, namun saat ini ia juga dipanggil jadi pemateri bila sang anak sedang sibuk dalam urusan sekolah.

Untuk usia taman kanak-kanak, ia biasanya memberikan materi yang mudah dimengerti, dengan melipat dan membuat mainan, hewan seperti yang mereka ketahui ialah nemo dan lain sebagainya. Kertas yang digunakan juga lebih banyak yang membeli dari luar negeri karena kualitas yang dimilik tidak mudah robek dan mudah untuk dibentuk.

Ia memaparkan bahawa origami banyak memiliki manfaat yang belum diketahui oleh banyak orang. “Untuk manfaat dari origami itu banyak sekali, kalau untuk fashion saya pikir sudah banyak yang mengetahui, seperti di Hong Kong saat ini yang sedang booming untuk baju-baju disana. Namun untuk bidang ilmu kedokteran juga sudah ada penelitiannya,. Lalu di bidang matematika juga, seperti bangun ruang misalnya.” Ujar Fenchilia.

Ibu dan anak yang menyukai seni melipat kertas ini juga membagikan pengetahuan bila sebetlunya origami merupakan seni melipat kertas yang bersal dari negara China, namun banyak masyarakat yang lebih mengenal origami dari negara Jepang. Bagi Fenchilia hal itu adalah kekeliruan yang harus diluruskan.

“Origami sebetulnya sudah menjadi salah salah satu program studi di Amerika dan dosen disana yang sudah mempatenkan keilmuan tersebut, jadi sepertinya sudah bukan dikenal sebagai seni lagi menurut saya, tapi sudah menyeluruh,” jelas Fenchilia.

Bermain origami juga bisa dilakukan oleh semua usia, namun tantangan yang terbayang adalah mengimajinasikan kertas menjadi sesuatu bentuk dan hal tersebut harus pelan-pelan dilatih, serta dengan belum banyaknya orang-orang yang menguasai origami tersebut.

Harapan untuk Fenchilian dan Brians ialah ingin terus membagikan ilmu yang bermanfaat terutama pada bidang seni melipat kertas, karena memiliki banyak maanfaat yang belum diketahui banyak orang, khususnya untuk para generasi muda yang saat ini dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif.byta