•   Sabtu, 7 Desember 2019
Hukum & Pengadilan

PN Siap Eksekusi Pengurus Gereja Bethany Surabaya

( words)
Pdt Leonard Limanto dan Pdt Abraham Alex Saputra


Budi Mulyono,
wartawan Surabaya Pagi

---------------
Dugaan skandal di gereja Bethany Indonesia (GBI) yang menyeret pendeta Abraham Alex Tanuseputra dan anaknya, Aswin Tanuseputra serta pendeta Leonard Limanto, kembali mencuat.


Image

Terbaru, pengadilan negeri (PN) Surabaya berencana menindaklanjuti eksekusi kepengursan gereja Bethany yang berlokasi di jalan Nginden Intan Timur I/29 Surabaya. Sebenarnya, eksekusi pernah dijadwalkan 2017 silam. Namun gagal dilaksanakan.

Sebelum eksekusi dilaksnakan, PN Surabaya menggelar rapat koordinasi (Rakor). Berdasarkan surat PN Surabaya bernomor W14-UI/14916.Hk.01/10/2019, rakor tersebut digelar pada hari ini, Selasa (12/11/2019) di PN Surabaya, jalan Arjuna.

Surat ini ditandatangani oleh panitera PN Surabaya Djamaludin sejak 23 Oktober lalu. Tertera daam surat sebagai terundang ada nama Kapolestabes Surabaya dan Kapolsek Sukolilo Surabaya sebagai institusi yang berperan sebagai back up keamanan pelaksanaan eksekusi nantinya.

Sedangkan, eksekusi terhadap pengambil alihan kewenangan Mejelis Pekerja Sinode (MPS) ini berdasarkan penetapan ketua PN Surabaya bernomor 82/EKS/2016/PN Sby jo Nomor 928/Pdt.G/2013/PN Sby.

Juru bicara PN Surabaya, Martin Ginting membenarkan adanya jadwal rakor tersebut. Menurutnya, rakor merupakan tahapan normal yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan agenda eksekusi.

“Benar, besok (Selasa,12/11/2019) bakal digelar rapat koordinasi guna menindaklanjuti eksekusi yang sebelumnya sudah dikeluarkan penetapannya oleh ketua PN. Dan itu (rakor) merupakan tahapan normal dilakukan sebelum dilakukannya setiap pelaksanaan eksekusi,” ujar Martin Ginting dikonfirmasi Surabaya Pagi, Senin (11/11/2019).

Terpisah, Hanapie, kuasa hokum pendeta Leonard Limato,pendiri Sinode Gereja Bethany Indonesia juga membenarkan adanya agenda rakor tersebut. “Betul..kok tahu..? Besok (hari ini, red) kita diundang PN Surabaya untuk rakor persiapan menjelang tindak lanjut eksekusi kepengurusan MPS GBI,” ujarnya saat dikonfi rmasi, Senin (11/11/2019).

Masih kata Hanapie, sebenarnya eksekusi sudah dijadwalkan sejak 2017 lalu. Namun gagal dilaksanakan oleh juru sita PN Surabaya. Gagalnya eksekusi tersebut dikarenakan adanya perlawanan segelintir jemaat akibat kurangnya komunikasi yang dibangun antara pengurus Sinode kepada jemaat GBI Nginden terkait mekanisme eksekusi ini.

“Jadi saat itu (2017), jemaat beranggapan bahwa yang bakal dieksekusi adalah fi sik gerejanya, padahal itu tidak benar, yang dieksekusi adalah kepengurusannya, dari pengurus lama diganti pengurus yang sah berdasarkan putusan pengadilan bernomor 928/Pdt.G/2013/PN.Sby. Jadi, meskipun pelaksanaan eksekusi ini berhasil dilaksanakan, jemaat masih bisa beribadah dan tidak menghilangkan fungsi gereja,” beber Hanapie.

Seiring berjalannya waktu, masih menurut Hanapie, akhirnya jemaat GBI Nginden memahami kondisi saat ini. Dan bisa dipastikan, tidak bakal ada lagi perlawanan yang akan dilakukan segelintir jemaat , pada pelaksanaan eksekusi yang bakal dilakukan nantinya, seperti yang terjadi pada pelaksanaan eksekusi tahun 2017 lalu.

“Apabila pada hari H pelaksanaan eksekusi masih ada oknum yang mencoba menghalangi, kita pastikan itu bukan jemaat Bethany. Karena waktu 2 tahun ini kita nilai sudah cukup memberikan penjelasan kepada jemaat. Bahkan mayoritas jemaat menunggu pelaksanaan eksekusi guna kepastian susunan kepengurusan ini,” imbuhnya

Untuk diketahui, polemic kepengurusan Majelis Pekerja Sinode GBI Nginden ini berawal dari adanya gugatan yang diajukan pendeta Leonard Limato terhadap pendeta Abraham Alex Tanuseputra, yang berujung perdamaian. “Pada intinya isi perdamaian itu menyatakan bahwa membatalkan semua produk dari akte perubahan versi Abraham Alex, termasuk pengangkatan anaknya sendiri Aswin Tanu Seputro sebagai ketua Sinode,” terang Hanapie. Tambah Hanapie, Sinode GBI didirikan oleh pendeta Leonard Limato pada 2002.

Setahun selanjutnya, 2003, pendeta Abraham Alex masuk ke dalam kepengurusan Sinode, dan menjabat sebagai ketua masa pelayanan 2003 hingga 2007. Berdasarkan anggaran dasarorganisasi, setiap 4 tahun sekali,harus diadakan sidang raya guna menentukan kepengurusan Sinode yang baru.

“Namun, Abraham Alex mengangkat dirinya sebagai penguasa yang absolut, dan mengangkat anaknya sendiri Aswin Tanu Seputro sebagai ketua sinode dengan menganti akta pendirian versi Abraham Alex ke notaris, dan disebut sebagai akta perubahan. Lah akta perubahan itu melalui proses hukum di pengadilan (dading) akhirnya dinyatakan batal dan harus dieksekusi,” tambahnya.

Berita Populer