Anggota PPS di Madura Tewas Ditembak, Dipicu soal

Rakyat, Korban Pilpres

SURABAYA PAGI, Surabaya – Tensi politik semakin panas menjelang Pilpres 2019. Bahkan, sudah berdampak ke masyarakat bawah. Buktinya, satu nyawa melayang di Jawa Timur diduga dipicu oleh postingan mengenai calon presiden (capres) di media sosial (medsos). Ini terungkap setelah polisi menangkap Idris (30), pelaku penembakan Subaidi (40), anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) di Sampang, Madura.
-----------
"Ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak bahwa harus mengakhiri dan mengurangi diksi yang menghina pribadi dan memprovokasi alias jadi ’kompor’," kata Andre Rosiade, juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Selasa (27/11/2018).
Harapan ini dikhususkan Andre kepada Presiden Joko Widodo. Menurut dia, Jokowi harus menjadi panutan dalam menciptakan situasi politik damai. Andre pun mengungkit pernyataan Jokowi soal ’politikus sontoloyo’ dan ’menabok’ orang yang menyebarkan isu hoax PKI.
"Untuk itu, semua menenangkan diri, terutama presiden harapan kami. Karena presiden adalah kepala negara kita yang harus jadi suri teladan bangsa Indonesia," tandasnya.
"Kalau presiden terus, mohon maaf Pak Jokowi terindikasi jadi ’kompor’, misal ’sontoloyo’, mau ’nabok’, tanpa menurunkan tensi dan tidak memakai diksi yang mempersatukan nantinya takut di bawah akan seperti ini," lanjut politikus Gerindra itu.
Namun di sisi lain, Andre juga mengimbau pendukung Prabowo-Sandi tetap bersikap santun menghadapi perbedaan pilihan politik. Ia mengingatkan keutuhan bangsa tetap jadi yang utama.
"Kami juga tentu meminta teman-teman pendukung Pak Prabowo menahan diri dalam mengeluarkan diksi-diksi seperti itu. Karena bagaimanapun kita berbeda pilihan, pandangan, jagoan presiden, tapi kita adalah bangsa Indonesia," tegas Andre.
Sementara itu, Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma’ruf, Maman Imanulhaq mengatakan koalisinya akan menyambangi kubu Prabowo –Sandi, untuk berkomunikasi ihwal peristiwa cekcok beda pilihan capres yang berbuntut tewasnya seorang pendukung di Sampang.
"Saya sudah berkomunikasi dengan Andre Rosiade, juga Ferry Mursyidan Baldan selaku Direktur Relawan Koalisi Adil Makmur. Kita akan membuat kegiatan bersama," kata Maman dikonfirmasi, Selasa (27/11/2018).
Maman mengatakan timnya melihat tensi politik semakin meningkat menjelang pilpres 2019. Kelompok masyarakat juga mulai terpancing melakukan perdebatan yang di luar rasionalitas seperti yang terjadi di Sampang. "Ini tentu menjadi perhatian dan keprihatinan besar bagi kami semua," ujarnya.
Dalam waktu dekat, lanjunya, koalisinya akan menggelar kegiatan bersama yang melibatkan relawan Prabowo-Sandiaga di beberapa tempat seperti Subang dan Cisalak.
Selain menjalin komunikasi dengan kubu Prabowo, timses melakukan pengarahan kepada seluruh relawan untuk tetap menjaga suasana demokrasi menjadi tenang. "Kami meminta seluruh relawan untuk tidak menggunakan kalimat-kalimat provokatif, menghina, mengejek, apalagi fitnah hoax," kata dia.
Awal Kejadian
Peristiwa penembakan ini terjadi pada Rabu (21/11) sekitar pukul 13.00 WIB di Dusun Gimbuk, Desa Sokobanah Laok.Persoalan ini bermula ketika akun Idris (30) berkomentar di laman facebook seseorang yang memposting ’Siapa pendukung Jokowi yang ingin merasakan pedang ini’.
Akun milik Idris memberikan komentar ’Saya pingin merasakan tajamnya pedang tersebut’.
Keesokan harinya Idris didatangi oleh seseorang yang tidak terima dengan komentar Idris di laman Facebook itu. Kepada orang yang mendatangi itu, Idris mengatakan akun Facebook miliknya sudah tidak bisa dia kendalikan karena ponsel miliknya sudah dijual.
Sehari kemudian, beredar video yang memperlihatkan Idris saat didatangi oleh orang tersebut. Polisi menyatakan posting-an di video itu dibumbui kalimat yang menyudutkan dan mengancam Idris.
Idris, yang tidak terima dengan video itu, kemudian menghampiri Subaidi, yang diketahui merupakan pengunggah video itu. Idris menembak Subaidi di dada kiri hingga akhirnya tewas.
Saat dimintai konfirmasi, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan motif kasus ini bukan karena politik. Hal ini karena pelaku tersinggung dari status yang dibuat korban.
"Polda Jawa Timur menyimpulkan kalau motif dari pada pembunuhan di Sampang itu masalah politik itu terlalu dini. Tidak terkait pemilu, ini ada ketersinggungan yang bersangkutan terhadap postingan di media sosialnya," kata Barung, Selasa (27/11) kemarin.
Direncanakan
Polisi menyebut penembakan itu merupakan pembunuhan berencana. Sebab ada persiapan yang dilakukan tersangka Idris (30), yakni membawa senjata api.
"Ini adalah masalah yang sudah jelas adakah pembunuhan berencana? karena ada persiapan yang dilakukan oleh tersangka terhadap korban itu, yaitu dengan mempersiapkan senjata api rakitan dengan pelurunya itu, dengan melakuan pencegatan," papar Barung.
Menurut Barung, pelaku yang juga mencegat korban Subaidi (40) termasuk dalam hal merencanakan. Hal ini berarti ada tenggang waktu yang disiapkan oleh pelaku. "Jadi mempersiapkan dan mencegat yang bersangkutan, jadi ada tenggang waktu yang dipersiapkan bersangkutan untuk membunuh korban," terang dia.
Saat ditanya berapa pelaku yang telah ditahan, Barung mengatakan sementara memang hanya ada satuNamun, pihaknya sedang melakukan pendalaman. "Sementara satu yang sudah kami tahan di Polres Sampang, kemungkinan kasus ini akan kami lakukan pendalaman terus karena kami tidak ingin terseret kemana-mana, tetapi murni ini adalah pidana," tandas Barung.
Polarisasi Politik
Pengamat politik Karyono Wibowo, kasus ini merupakan peringatan serius. Menurutnya, kasus ini harus menjadi pelajaran bagi elite politik di Indonesia terutama mereka yang tengah terlibat dalam kontestasi Pilpres 2019 saat ini.
“Peristiwa ini harus menjadi peringatan serius bagi siapapun yang terlibat dalam kompetisi pemilu agar tidak selalu melontarkan pernyataan yang menyudutkan lawan politiknya dengan cara-cara antagonis dan sarkastik,” ungkap Karyono,kemarin.
Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) ini menambahkan, suasana panas yang terjadi di tingkat elite juga telah menjalar ke masyarakat. Insiden penembakan yang terjadi Madura itu membuktikan telah terjadi polarisasi politik yang serius di tengah masyarakat.
Lebih lanjut Karyono memperinci, peristiwa ini bisa menjadi sinyal potensi konflik di Pilpres 2019 yang tak boleh dianggap enteng. Itulah sebabnya semua pihak terutama aparat keamanan, peserta dan penyelenggara pemilu harus mengantisipasi agar jumlah konflik menjelang pilpres tidak bertambah.
Kejadian ini, lanjut dia, kian menegaskan bahwa media sosial rawan menimbulkan segregasi (pengucilan) dan konflik sosial. “Hal itu harus menjadi pembelajaran publik pengguna sosial agar menggunakan etika dan kesantunan dalam berkomunikasi di media sosial,” tandasnya.
Karyono juga menegaskan, para elite politik berkewajiban memberikan pendidikan politik, terutama kepada konstituennya, serta memberikan contoh perilaku politik yang sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan sesuai konstitusi.
“Jika masyarakat belum bisa menerima perbedaan, sementara elite politik justru mempertajam perbedaan, apalagi dengan menggunakan isu politik dan identitas maka pemilu bisa menjadi ajang konflik,” tukasnya. n