•   Jumat, 28 Februari 2020
Surabaya

Tanggapan Komunitas Roodebrug Soerabaia Terkait Revitalisasi Kota Tua

( words)
Suasana Jalan Panggung


SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Kota tua Surabaya menjadi salah satu tempat ikonik yang tidak bisa dilewatkan untuk dikunjungi. Kini, kota tua Surabaya, khususnya di kawasan utara sedang dilakukan revitalisasi.
Namun, permasalahannya, revitalisasi ini menuai pro dan kontra dari berbagai pihak karena pada pelaksanaannya tidak sesuai apa yang didiskusikan bersama komunitas masyarakat.
Pada Selasa (22/1) Surabaya Pagi mengunjungi Jalan Karet yang ternyata masih berlanjut proses pengecatan atau disebut mock up. Mu’i, selaku ketua RW di kawasan Jalan Karet dan Jalan Kembang Jepun mengaku tidak tahu menahu soal proses tersebut.
“Tidak ada sosialisasi tiba tiba sudah mulai perbaikan. Bila saya diberikan pemberitahuan akan bisa disampaikan pada warga pemilik bangunan”, ujarnya yang ditemui di kawasan Kembang Jepun.
Ia menyatakan hanya diberikan perintah oleh pihak kelurahan agar memberikan tempat untuk menaruh pasir. “Kalau nantinya warna warni, menurut saya malah seperti anak kecil.
Saya jelas keberatan apalagi kan bangunan lama dan bersejarah”, tambahnya. Mu’i juga menambahkan bahwa revitalisasi tidak sekedar mengecat bangunan melainkan juga harus meningkatkan perekonomian masyarakat.

Image

Selain permasalahan mengenai sosialisasi adanya mock up atau proses pengecatan yang nantinya dijadikan bentuk visualisasi, ternyata di Jalan Panggung muncul permasalahan mengenai penggusuran pedagang ikan. Romli selaku ketua keamanan di Jalan Panggung menjelaskan mengenai pencarian nafkah orang sekitar.
“Dulu di pinggir jalan banyak orang yang menjual ikan. Kini pedagangnya kocar kacir karena tidak boleh berjualan lagi. Kami belum menerima kabar mengenai penempatan untuk para pedagang”, ujarnya.
Sementara itu, Ady Setyawan selaku ketua komunitas Roodebrug Soerabaia memberikan kritik dari aspek budaya kepada pihak Pemerintah Kota Surabaya, ketika ditanya mengenai Jalan Panggung.
“Menurutku, kota tua memiliki karakteristik tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan kampung biasa. Bila diberikan cat warna warni seperti sekarang ini maka karakternya menjadi bias”, ujarnya dengan menambahkan warna warni di Jalan Panggung cenderung asal asalan.
Menghidupkan suasana kota tua Surabaya menurut Ady Setyawan tidak hanya berbatas pada sekedar ngecat, melainkan Pemkot harus mampu menghidupkan cerita dibalik tempat tersebut.
Dua hal yang menjadi catatan untuk pihak Pemkot Surabaya yaitu program harus mampu mengangkat cerita sejarah di kawasan dan kendala literatur mengenai Surabaya di tahun 60-70an harus diatasi dengan mengumpulkan koleksi memoar. Semuanya dilakukan agar punya nilai sejarah yang sesungguhnya. Pr

Berita Populer