SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Bersedekah itu kebajikan. Itu perbuatan yang mulia sekali. Setiap sedekah yang dilakukan mendapat pujian dari Tuhan. Bahkan mendapat upah dari Bapa Sorgawi.
Dalam pengertian iman Kristen, sedekah adalah wujud iman yang dinyatakan dalam bentuk perbuatan baik kepada sesama, tanpa mengharapkan balas jasa apapun, termasuk perkenanan Tuhan.
Bagaimana bersedekah yang diajarkan alkitabiah? Yesus memberikan jawaban sebagai penuntun bersedekah yang benar.
Yesus memberikan petunjuk dalam Khotbah diatas bukit. Dituliskan di Matius 6:1-4.
“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga..”
Disebut, “ Jangan melakukan kewajiban agama dihadapan orang supaya dilihat mereka..
Sementara KJV mengatakan, “Perhatikan, jangan kamu bersedekah dihadapan orang untuk dilihat oleh mereka.”
Dalam Bahasa asli Yunani, kata yang digunakan adalah “δικαιοσύνη,n dikaiosuné {dik-ah-yos-oo’-nay}” . Ini memiliki beberapa pengertian:
1) dalam arti luas: keadaan dirinya yang sebagaimana mestinya, kebenaran, kondisi berterima kepada Allah
1a) doktrin tentang cara manusia untuk mencapai perkenaan Tuhan;
1b) integritas, kebajikan, kemurnian dari hidup, kebenaran, berpikir dan merasa dengan benar dan bertindak;
2) dalam arti yang lebih sempit, keadilan atau kebajikan yang memberi masing-masing haknya.
Dan perintah memberi sedekah ini bisa baca di Ul 15:7-8, 10-11:
“Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan.
Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu.
Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.”
Alkitab juga mengajarkan bahwa kita harus mengasihi sesama seperti diri sendiri (Markus 12:31). Dalam 1 Yohanes 3:18, kita diajak untuk mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.
Mengasihi adalah kata yang mudah sekali kita ucapkan. Kasih sering kali terucap di dalam doa-doa kita. Kasih juga kita lantunkan melalui nyanyian-nyanyian pujian. Namun demikian, apakah kita sudah sungguh-sungguh mengasihi? Apakah kasih itu sebatas ucapan, doa, dan nyanyian saja? Atau, benarkah kasih terwujud nyata dalam tindakan-tindakan kita?
Untuk kesekian kalinya, Yohanes menekankan bahwa kasih merupakan buah dari seorang Kristen sejati. Kali ini Yohanes memakai contoh dari kisah Kain dan Habel. Kemarahan karena cemburu telah membawa Kain kepada tindakan membunuh adiknya, Habel. Dari kasus ini kita diajar bahwa ketika kasih absen dalam kehidupan Kain, akibatnya adalah dorongan untuk melakukan tindak kejahatan.
Berbagi adalah salah satu cara untuk menunjukkan kasih kepada sesama. Semoga bermanfaat. (Maria Sari)
Editor : Moch Ilham