SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Sebagai antisipasi terhadap kebijakan Uni Eropa (UE) yang akan menindak tegas mobil impor yang mendapat subsidi dari pemerintah China, kini Volvo mengalihkan produksi kendaraan listriknya ke Belgia untuk menghindari tarif impor tersebut.
Uni Eropa sendiri, akan memberikan informasi kepada para pembuat kendaraan listrik di Cina, pada awal pekan depan, apakah akan mengenakan tarif sementara pada 4 Juli 2024, yang akan meningkatkan bea masuk yang lebih besar dari saat ini sebesar 10 persen.
Disitat dari Reuters pada Selasa (11/06/2024), jika tarif impor tersebut mulai diberlakukan, maka Volvo yang mayoritas sahamnya dimiliki Geely, akan mempertimbangkan dan benar-benar menghentikan penjualan kendaraan listrik buatan Cina ke pasar Eropa.
Selain mengalihkan produksi model Volvo EX30 dan EX90 ke Belgia, produsen mobil tersebut juga mungkin memindahkan perakitan beberapa model Volvo ke Inggris Raya.
Sebagai informasi, investigasi anti-subsidi, yang diluncurkan pada 4 Oktober 2023, dapat berlangsung hingga 13 bulan. Komisi Uni Eropa bisa menetapkan bea anti-subsidi 9 bulan setelah investigasi dimulai.
Hubungan antara China dan Uni Eropa memanas sebab beberapa faktor, termasuk hubungan Beijing yang semakin dekat dengan Moskow setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Uni Eropa berusaha mengurangi ketergantungannya pada kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu, terutama untuk bahan dan produk yang dibutuhkan untuk transisi ramah lingkungan.
Sedangkan saat ini, Volvo akhirnya menepati janjinya pada tahun lalu untuk menghentikan produksi mobil dieselnya. Keputusan ini, sekaligus mengakhiri era kendaraan dengan bahan bakar solar milik pabrikan asal Swedia setelah berkiprah selama 45 tahun.
Diketahui, model diesel terakhir Volvo adalah XC90 berkelir biru, yang dirakit di pabrik Torsland. Kendaraan ini, tidak akan menjadi milik konsumen, karena bakal disimpan di museum untuk generasi mendatang ke museum World of Volvo, di Gothenburg, Swedia. jk-02/dsy
Editor : Desy Ayu