Usai di Tetapkan Tersangka, Kades Sidomukti Buka Suara

Pengacara Sebut Uang Rp 210 Juta adalah Sumbangan, dan Masih di Rekening Desa, Apa yang di Korupsi?

author Muhajirin

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Tim Penasehat Hukum Kades Sidomukti, melakukan klarifikasi atas penetapan tersangka oleh Polres Lamongan kepada sejumlah media. SP/MUHAJIRIN
Tim Penasehat Hukum Kades Sidomukti, melakukan klarifikasi atas penetapan tersangka oleh Polres Lamongan kepada sejumlah media. SP/MUHAJIRIN

i

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Usai ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi kepengurusan surat tanah, Kades Sidomukti Kec/Kab Lamongan melalui pengacaranya, mengklarifikasi kalau uang 210 juta yang dituduhkan sebagai uang pungli itu, bukan pungli dan uang masih di rekening atas nama desa.

Hal itu disampaikan oleh penasehat hukum terlapor, Heri Tri Widodo, S.H.,M.H bersama tim, kepada wartawan, Kamis (2/1/2025), menanggapi penetapan tersangka oleh Polres Lamongan beberapa hari yang lalu.

Disebutkan olehnya, pihaknya telah mengkaji, nilai kerugian dari dugaan pungli dalam kepengurusan surat tanah, dengan barang bukti uang sebesar Rp 210 juta. "Saat ini uang itu masih utuh dalam rekening desa. Bukan di rekening pribadi dan dimanfaatkan pribadi. Siapa yang dirugikan dan yang diuntungkan dalam hal ini,” ujar Heri, didampingi tim penasehat hukum lainnya Sutanto Wijaya, S.H.,M.H, Nang Engki Wijaya Anom Suseno, S.H.,M.H dan Minarto, S..

Dijelaskan pula, jika nilai uang sebesar Rp 210 juta itu jajaran internal desa juga mengetahui. Dan lagi, terlapor juga sudah meminta petunjuk camat lalu dilakukan musyawarah desa (Musdes) hingga uang tersebut dimasukkan ke rekening desa Sidomukti dan masih utuh.

Kemudian untuk unsur memaksa seseorang untuk memberikan sesuatu, tambah Heri, juga masih ia pertanyakan. Padahal, menurutnya keterangan kliennya yang dimaksud itu adalah sebuah komitmen dan berdasarkan kesepakatan. “Sedikitpun itu tidak ada unsur penekanan maupun paksaan,” terangnya sembari meminta penyidik harus transparan.

Sementara Penasehat Hukum lainya Nang Engki Wijaya Anom Suseno, S.H.,M.H menegaskan kembali awal mula istilah komitmen itu muncul. Mulanya, ada 2 bidang tanah yang dijual oleh pelapor kepada pengembang perumahan. Dan itu bukan kades yang melakukan pengurusan.

Setelah berproses, dan dilakukan verifikasi ternyata ada kelebihan tanah. Itu dibuktikan dengan adanya surat dari BPN. Dari situlah istilah komitmen dan adanya kesepakatan diantaranya keduanya muncul.

“Oleh pemilik tanah dijanjikan lah kepada Kades dengan komitmen jika kelebihan tanah ini laku terjual, diluar harga tanah sebelumnya, maka pemilik tanah akan menyumbangkan 50 persen hasil penjualan tanah tersebut untuk kas desa, hingga keluarlah nominal Rp. 210 juta tersebut dari penjual tanah. Dan itu bukan dari Kades Sidomukti,” jabarnya.

Sedangkan sangkaan terhadap kades akan permintaan fee pengurusan sertifikat, tidak terbukti, karena sedikitpun uang Rp 210 juta tersebut tidak digunakan untuk kepentingan pribadi oleh Kades. “Lalu apakah dalam hal ini negara dirugikan ? Justru negara yang diuntungkan sebenarnya,” urai Engky sebutan akrab advokat asal Tuban ini.

Dalam hal ini, terang Engky, apakah komunikasi menanyakan komitmen itu merupakan sebuah ancaman atau pemaksaan.? Menurutnya unsurnya sangat lemah dan tidak bisa dikategorikan dalam pemaksaan. “Harapan kami, semoga jaksa bisa lebih teliti dan obyektif lagi dalam menilai kasus ini,” pintanya.

Sekedar diketahui, Polres Lamongan pada Selasa, (24/12/2024) menggelar jumpa pers, dan menyampaikan kalau ES kades Sidomukti ditetapkan tersangka dan resmi di tahan di Mapolres, dalam kasus dugaan korupsi melakukan pungutann liar meminta fee atau uang jasa pengurusan administrasi sertifikat tanah sebesar Rp 210 juta.

"Waktu kejadian pada 16 Juli 2024, dan Kepala Desa Sidomukti sudah ditetapkan tersangka dan resmi ditahan," kata Kapolres Lamongan AKBP Bobby Adimas Condroputra dalam jumpa pers di Mapolres saat itu.

Tersangka ES, dijerat dengan Pasal 12 huruf e Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1998, yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pasal tersebut mengatur hukuman pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun, serta denda minimal Rp 200 juta hingga maksimal Rp 1 miliar bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang terbukti melakukan korupsi dengan memanfaatkan jabatan untuk keuntungan pribadi. jir

Berita Terbaru

Minim Air, Petani Pacitan Terapkan Sistem Tumpangsari Palawija dan Tembakau

Minim Air, Petani Pacitan Terapkan Sistem Tumpangsari Palawija dan Tembakau

Rabu, 07 Okt 2026 11:17 WIB

Rabu, 07 Okt 2026 11:17 WIB

SURABAYAPAGI.com, Pacitan - Melihat fenomena ketersediaan air minim di lahan sebagai dampak kekeringan, sejumlah petani di Kabupaten Pacitan, menyesuaikan pola…

Pastikan Akurasi Penyaluran Bansos, Pemkot Kediri Ajak Warga Daftar Perlinsos Mandiri

Pastikan Akurasi Penyaluran Bansos, Pemkot Kediri Ajak Warga Daftar Perlinsos Mandiri

Rabu, 07 Okt 2026 11:09 WIB

Rabu, 07 Okt 2026 11:09 WIB

SURABAYAPAGI.com, Kediri - Guna meningkatkan akurasi data sosial ekonomi dan memastikan penyaluran bantuan sosial (bansos) tepat sasaran, Pemerintah Kota…

KPK Geledah Rumah Kadis Perdagangan dan PDAM Kota Madiun, Buntut Pengembangan TPPU Maidi

KPK Geledah Rumah Kadis Perdagangan dan PDAM Kota Madiun, Buntut Pengembangan TPPU Maidi

Rabu, 07 Okt 2026 09:49 WIB

Rabu, 07 Okt 2026 09:49 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali lakukan penggeledahan untuk menelusuri dugaan aliran dana yang berkaitan dengan …

Sedang Isi BBM, Buronan Kasus Fidusia Oktavanus Katili Diciduk Tim Tabur Kejari Surabaya

Sedang Isi BBM, Buronan Kasus Fidusia Oktavanus Katili Diciduk Tim Tabur Kejari Surabaya

Rabu, 07 Okt 2026 07:21 WIB

Rabu, 07 Okt 2026 07:21 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya — Pelarian terpidana kasus tindak pidana fidusia, Oktavanus Katili, akhirnya berakhir di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. T…

HUT Jatim Tak Sekadar Seremoni, Ada Servis Motor, Pasar Murah hingga Bantuan Air Bersih

HUT Jatim Tak Sekadar Seremoni, Ada Servis Motor, Pasar Murah hingga Bantuan Air Bersih

Selasa, 06 Okt 2026 21:03 WIB

Selasa, 06 Okt 2026 21:03 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan rangkaian kegiatan memperingati Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur yang berlangsung Oktober …

Usai Keributan Pasar Buah Tanjungsari, Terdakwa Sebut Korban Beraktivitas Normal

Usai Keributan Pasar Buah Tanjungsari, Terdakwa Sebut Korban Beraktivitas Normal

Selasa, 06 Okt 2026 20:20 WIB

Selasa, 06 Okt 2026 20:20 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Fakta baru terungkap dalam sidang perkara dugaan pengeroyokan terhadap Louis Prasetyo di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (…