SURABAYAPAGI.com, Madiun - Petani di Desa Wonorejo Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur mengeluh dan meringis melihat harga ketela anjlok bebas saat panen raya, di kisaran Rp 400 hingga Rp 900 per kilogram (Kg). Tentu saja harga tersebut masih jauh dari keuntungan yang didapatkan.
"Pernah hanya Rp 400 sampai Rp 700 hingga Rp 900 per kg," ujar Andri Andri (35), petani ketela asal Desa Wonorejo Kecamatan Mejayan, Jumat (07/02/2025).
Menurut Andri, saat ini harga terbaru sudah Rp 1.100 per kg jenis ketela untuk pabrik, bukan ketela konsumsi rumah tangga. Meski begitu, harga tersebut dinilai masih sangat rendah dan belum bisa memperoleh keuntungan.
"Sangat kurang, paling hanya untuk balik modal makanya kadang malas tanam. Biaya pupuk mahal harus beku pupuk non subsidi. Paling tidak harga per kg Rp 2.500 atau Rp 3 ribu lumayan," tandas Andri.
Hal senada juga disampaikan Siti Murni (40), petani ketela Desa Morang Kecamatan Kare Madiun. Dimana, saat musim panen raya ketela justru penjualannya seret dan susah.
"Susah jual ini (Ketela), harusnya panen 2 bulan lalu harga hanya Rp 700 per kg. Baru terjual kemarin, tapi sistem borong. Luas 3.000 meter persegi lahan hanya laku Rp 1,7 juta, biasanya Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Daripada nanti tidak terjual, saya kasih tengkulak," tandas Murni.
Sama halnya, salah satu tengkulak ketela bernama Kusnendar asal Desa Batok Kecamatan Kare mengaku saat ini harga ketela Rp 1.100 per kg. Harga tersebut untuk kualitas rendemen ketela bagus dan terendah Rp 900 ribu.
"Saat ini per Kg 1.100 dulu pernah tembus Rp 1.900 per kg. Itu harga kwalitas bagus rendemennya," tandas Kusnendar.
Sementara itu, diketahui sebelumnya, Kementerian Pertanian menetapkan harga singkong menjadi Rp 1.350 per kilogram setelah sebelumnya sempat turun ke harga Rp 1.000 per kilogram sebagai bentuk perlindungan kepada petani singkong sekaligus respons Pemerintah dalam menjaga tingkat kesejahteraan petani. md-01/dsy
Editor : Desy Ayu