SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Bahlil Lahadalia, adalah pejabat publik. Dalam dirinya melekat jadi seorang publik figure. Dia, saat ini punya dua jabatan sekaligus. Seorang menteri dan Ketua Umum Partai Golkar. Dua jabatan ini mentereng. Ya di kabinet, ya partai dan publik. Kenapa sudah punya dua jabatan strategis, masih ingin kuliah doktor yang ditemukan tidak beres.?
Padahal ia Oktober 2024 lalu diumumkan telah lulus doktor melalui ujian terbuka di Universitas Indonesia.
Awal Maret pekan lalu, gelar doktor Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, ditangguhkan oleh Universitas Indonesia (UI).
Kini Bahlil, belum bisa menyematkan gelar doktor di depan namanya. Ia diminta untuk memperbaiki disertasinya. Sekaligus minta maaf ke civitas UI. Masya Allah.
*
Namamya kini jadi bahan rasan rasan publik di media sosial. Bahlil jadi tranding topic. Sedihnya bukan tranding topic prestasi. Tapi terkena tsunami atas raihan gelar doktornya.
Apa Bahlil tidak paham, orang kuliah itu bertujuan untuk menambah wawasan, keterampilan, dan jaringan pertemanan. Kuliah juga dapat membuka peluang karier yang lebih baik.
Selain memperluas pengetahuan yang sudah dimiliki dan tentu saja menambah wawasan baru. Dalam banyak kasus, kuliah itu juga belajar pemecahan masalah, belajar komunikasi, belajar berpikir kritis dan menambah skill baru.
Bahkan bisa memperluas jaringan pertemanan, karena bisa bertemu dengan dosen, mentor, dan sesama mahasiswa dari berbagai latar belakang. Termasuk memperluas networking.
Apalagi kuliah doktor (S3). Tentu untuk meningkatkan kemampuan penelitian ilmiah secara mandiri. Bahkan dituntut bisa menghasilkan karya ilmiah yang original. Selain, diharapkan bisa memberikan kontribusi signifikan dalam bidang keilmuan yang ditekuni.
Ayah saya kuliah doktor merasa dilatih memperdalam kemampuan penelitian, desain penelitian, pengumpulan data, analisis data, dan penulisan karya ilmiah yang berkualitas tinggi.
Mengingat kuliah doktor memungkinkan seseorang untuk menjadi ahli atau pakar dalam bidang keilmuan tertentu, dengan kemampuan analitis yang mendalam . Lha, kini disertasi Bahlil dikorek korek oleh UI mulai dari aspek materi penelitian hingga etika.
***
Saat ini, sejumlah nitizen kaget seorang Bahlil Lahadalia, bisa meraih predikat Cumlaude dalam Waktu 1 Tahun 8 Bulan?. Luar biasa cerdasnya seorang Ketua Umum Partai Golkar.
Padahal, Bahlil pernah diumumkan telah meraih gelar doktor setelah menjalani ujian terbuka doktor pascasarjana Kajian Strategik dan Global di Universitas Indonesia (UI), Depok, Rabu (16/10/2024).
Disertasinya yang mengangkat judul “Kebijakan, Kelembagaan, dan Tata Kelola Hilirisasi Nikel yang Berkeadilan dan Berkelanjutan di Indonesia", saya perhatikan sesuai bidang yang ditekuninya selama sebagai menteri.
Namun, gelar tersebut menuai polemik. Beberapa warganet mempertanyakan masa studi yang terbilang singkat untuk Program S3. Disertasi Bahlil juga diduga bukan merupakan hasil karyanya sendiri.
Disertasi Bahlil yang berjudul Kebijakan, Kelembagaan, dan Tata Kelola Hilirisasi Nikel yang Berkeadilan dan Berkelanjutan di Indonesia pun diduga kuat adalah hasil plagiat. Hal ini diketahui saat seorang warganet mencoba mengecek disertasi Bahlil menggunakan Turnitin, perangkat lunak yang kerap digunakan untuk mendeteksi plagiarisme dalam karya tulis.
Hasilnya, similarity index disertasi Bahlil mencapai 95 persen dengan karya milik mahasiswa asal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Adapun karya mahasiswa itu berjudul Pengelolaan Nikel oleh Perusahaan Pertambangan di Indonesia.
Akhirnya pada November 2024 gelar Doktor yang dimiliki Bahlil ditangguhkan. Penangguhan ini berdasarkan hasil rapat empat organ UI.
Keputusan ditangguhkannya gelar Doktor milik Bahlil telah ditandatangani Ketua MWA UI, Yahya Cholil Staquf.
"Mengingat langkah-langkah yang telah diambil oleh UI, kelulusan BL mahasiswa Program Doktor (S3) SKSG ditangguhkan mengikuti Peraturan Rektor Nomor 26 Tahun 2022, selanjutnya akan mengikuti keputusan sidang etik," demikian pernyataan UI.
Yahya mewakili UI menyampaikan permintaan maaf terkait kegaduhan gelar doktor milik Bahlil yang menuai kritik di masyarakat. Ia mengakui bahwa sumber kegaduhan itu berasal dari kekurangan pihak internal UI.
Oleh karena itu, saat ini pihak universitas sedang mengambil langkah antisipasi baik dari sisi akademik maupun etika.
Senat Akademik dan Dewan Guru Besar telah melakukan audit investigatif terhadap penyelenggaraan Program Doktor (S3) di SKSG yang mencakup pemenuhan persyaratan penerimaan mahasiswa, proses pembimbingan, publikasi, syarat kelulusan, dan pelaksanaan ujian. Selama proses audit investigasi dilakukan, UI memutuskan menunda pemberian gelar doktor kepada Bahlil untuk sementara waktu. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh proses pendidikan di lingkungan UI berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.
***
Belakangan ini beredar risalah rapat pleno tertanggal 10 Januari 2025 di media sosial. Isinya Dewan Guru Besar (DGB) UI merekomendasikan agar disertasi Bahlil dibatalkan, karena ditemukan beberapa pelanggaran.
Salah satunya adalah adanya ketidakjujuran dalam pengambilan data. Menurut risalah yang beredar, data penelitian disertasi Bahlil didapatkan tanpa izin narasumber dan penggunaannya tidak transparan.
Dalam konferensi pers Jumat (7/3/2025), Universitas Indonesia (UI) mengumumkan Bahlil, untuk memperbaiki disertasi.
"Memutuskan untuk melakukan pembinaan kepada promotor, kopromotor, direktur, kaprodi,dan mahasiswa terkait sesuai tingkat pelanggaran, proporsional," kata Rektor UI Prof Heri Hermansyah dalam konferensi pers di kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (7/2) siang .
"Juga Bahlil, diminta sampaikan permintaan maaf ya jelas kepada pihak-pihak terkait," tambah Humas UI Prof Arie Afriansyah.
Selain diminta meminta maaf, Ketua Umum Partai Golkar itu juga diminta melakukan revisi atau perbaikan penulisan disertasi doktornya.
Rektor UI Prof Heri Hermansyah menegaskan, dalam kasus Bahlil, Universitas Indonesia (UI) juga melakukan pembinaan kepada promotor, kopromotor, direktur, kaprodi,dan mahasiswa terkait sesuai tingkat pelanggaran, proporsional. Namun, Rektor tak menjelaskan apakah Bahlil harus menjalani sidang terbuka ulang atau tidak.
Usai konferensi pers di kampus UI Salemba, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, buka suara soal polemik disertasi miliknya. Bahlil mengatakan sudah mendengar keputusan itu. "Saya kan mahasiswa, apa pun yang diputuskan oleh UI saya akan ikut," kata Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (7/3/2025).
Bahlil mengatakan akan memperbaiki disertasi tersebut. Dia mengatakan disertasi miliknya tidak diulang. "Tapi yang saya tahu memang perbaikan, ya kita perbaiki, karena memang saya belum mengajukan perbaikan. Nggak (mengulang disertasi)," ujarnya.
Realitanya urusan disertasi Bahlil, telah memunculkan kegaduhan. Bukan kegaduhan politik. Tapi kegaduhan menyangkut nilai akademik. Disana ada cerminan intelektualitas. Sebelumnya Bahlil juga sudah membuat kegaduhan dengan kebijakan penjualan LPG 3 kg. ([email protected])
Editor : Moch Ilham