SURABAYAPAGI.COM, Mekkah - Jemaah haji Indonesia mulai memadati Makkah. Sebelum tiba di Makkah, jamaah berihram di Masjid Bir Ali, tapi bagi jemaah lansia dan memiliki risiko kesehatan tinggi (risti) diperbolehkan tetap di dalam bus.
Pelaksana Bimbingan Ibadah di Sektor Bir Ali, Moh. Khusen, menyampaikan demi keamanan dan kenyamanan, jemaah lansia dan risti dianjurkan untuk tetap di bus saat miqat di Bir Ali. Mereka tidak perlu turun dari bus, karena niat umrah bisa dibimbing langsung di dalam kendaraan.
Ini karena proporsi lansia yang cukup besar, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi memperkuat sistem layanan dengan pendekatan ramah lansia dan inklusif.
Ketua PPIH Arab Saudi, Muchlis Hanafi, menjelaskan bahwa perhatian terhadap jemaah lansia, disabilitas, dan risiko tinggi menjadi prioritas sejak hari pertama kedatangan di Arab Saudi.
Jumlah jemaah haji lansia (prioritas lanjut usia) dalam kuota haji reguler tahun 2025 adalah 10.166 orang. Selain itu, terdapat 177 jemaah haji khusus prioritas lansia.
Pemerintah Arab Saudi meminta agar tidak ada lagi jemaah haji yang berumur 90 tahun dengan pertimbangan kesehatan.
Kepala Daerah Kerja Makkah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Ali Machzumi meminta jamaah calon haji Indonesia yang berada di Makkah untuk menggunakan payung saat berada di luar ruangan, mengingat suhu yang mencapai 42 derajat celcius.
"Kita rasakan pada hari ini cuaca ini jam 12 siang. Cuaca sudah angka 42...+44 °C," kata Muklis, jamaah haji asal Malang, yang dihubungi Rabu sore wib (14/5)
Jemaah Lansia Kesulitan Beradaptasi
Dokter spesialis jiwa di KKHI Madinah, dr Kusufia Mirantri, SpKJ mengungkapkan bahwa tekanan fisik, perubahan lingkungan drastis, kelelahan, serta perpisahan sementara dan/atau tanpa pendampingan dari keluarga dapat menjadi pemicu stres signifikan bagi jamaah.
"Banyak jemaah, terutama lansia atau mereka yang memiliki kerentanan sebelumnya, mengalami kesulitan beradaptasi. Stress dan gangguan penyesuaian ini dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk, mulai dari gangguan tidur, kecemasan berlebih, hingga gejala psikosomatis," ujarnya dalam keterangan tertulis dikutip dari Sehat Negeriku, Rabu (14/5/2025).
dr Kusifia menekankan penting bagi sesama jemaah maupun pendamping atau keluarga untuk mengenali tanda-tanda awal masalah kejiwaan agar dapat memberikan dukungan dan mencari bantuan profesional.
Ada beberapa tanda-tanda gangguan masalah kejiwaan yang bisa dikenali, pertama dari perubahan perilaku yang mencolok.
"Coba perhatikan, jika ada jemaah yang biasanya ceria dan mudah bergaul tiba-tiba menjadi mudah tersinggung, atau sebaliknya, menarik diri secara ekstrem, lebih suka menyendiri, dan enggan berinteraksi dengan orang lain," ujar dokter yang akrab disapa dr Upi ini.
Kedua, kesulitan tidur atau insomnia. Ketiga, adanya kecemasan atau ketakutan yang berlebihan. Merasa sedikit cemas di lingkungan baru adalah wajar. Namun, jika kecemasan tersebut menjadi berlebihan, tidak rasional, dan mengganggu aktivitas sehari-hari misalnya, takut keluar kamar, takut ke masjid meski ditemani, atau panik berlebihan saat berada di keramaian, ini memerlukan perhatian serius.
Keempat, kebingungan terhadap tempat, waktu, dan orang (disorientasi). Jemaah yang mengalami masalah kejiwaan mungkin menunjukkan tanda-tanda kebingungan.
Jumlah Tenaga Kesehatan Menurun
Sebeumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan jumlah tenaga kesehatan yang dikerahkan di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) tahun 2025 menurun karena jemaah haji Indonesia mendapatkan akses yang lebih baik dan eksklusif ke rumah sakit di Arab Saudi. Hal ini menyebabkan jemaah haji tidak perlu ditunda terlalu lama di KKHI, sehingga kebutuhan tenaga kesehatan bisa dikurangi.
Budi juga mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk meminimalisir jumlah kematian jemaah haji di Arab Saudi, termasuk dengan memperketat syarat kesehatan dan mengoptimalkan peran rumah sakit di Arab Saudi. Dengan adanya akses yang lebih baik ke rumah sakit di Arab Saudi, diharapkan pelayanan kesehatan kepada jemaah haji akan lebih cepat dan efisien, serta dapat mengurangi angka kematian.
Singkatnya, penurunan jumlah tenaga kesehatan di KKHI pada tahun 2025 disebabkan oleh akses jemaah haji yang lebih baik ke fasilitas kesehatan di Arab Saudi, sehingga mengurangi kebutuhan tenaga kesehatan di KKHI, dan upaya pemerintah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan mengurangi angka kematian jemaah haji. n sb2, ec, rmc
Editor : Moch Ilham