SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu), ADP (39) yang tewas di kos Menteng, Jakarta Pusat, Jasad ADP ditemukan oleh penjaga kos pada Selasa (8/7) pukul 08.30 WIB. Korban ditemukan dengan wajah terbungkus plastik dan dililit lakban kuning. Kematiannya mulai diungkap Polri dengan menggunakan metode penyelidikan kriminal berbasis ilmiah atau scientific investigation. Sementara belum ditemukan ada unsur pembunuha.
Dalam penyelidikan, Polda Metro Jaya, mengungkap asal usul lakban kuning yang melilit wajah diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu), ADP (39) .
Polisi menyebut lakban tersebut ternyata dibeli korban dari Jogjakarta.
"Terkait dengan lakban kuning, berdasarkan keterangan istri korban, bahwa lakban tersebut dibeli pada akhir bulan Juni di Toko Merah, Gedong Kuning, Yogyakarta," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi kepada wartawan, Senin (28/7/2025).
Ponsel Belum Ditemukan
Juga meski ponsel milik diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu), ADP (39), belum ditemukan. Polisi telah mengantongi isi chat korban dalam ponsel tersebut.
"Walaupun handphone hilang, tidak menghambat dalam pengungkapan dan untuk menemukan fakta apa yang terjadi. Karena ada bukti digital cyber, yang dapat mengandalkan device lain, yang kebetulan terisi, ada handphone korban, WA dan e-mail-nya," tambah Kasubbid Penmas Polda Metro Jaya AKBP Reonald Simanjuntak kepada wartawan, Senin (28/7/2025).
Reonald mengatakan isi chat berhasil terbaca berdasarkan e-mail yang tercantum dalam perangkat elektronik korban lainnya yang sudah diamankan penyidik. Isi chat tersebut kemudian disinkronisasi dengan chat para saksi, dari istri hingga rekan kerja korban.
"Iya (isi chat sudah didapatkan), melalui e-mail yang ada di koneksi laptopnya, kemudian dikombinasikan dengan istrinya, dengan atasannya, dengan rekan kerjanya, terus yang rekan kerja yang pada saat itu sama-sama belanja di salah satu unit, salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta pusat," kata dia.
"Terus dikombinasikan lagi dengan WA istri, WA teman, WA yang orang-orang yang sebelum yang bersangkutan itu ditemukan sudah tidak bernyawa. Itu handphone-nya kan semua sudah disinkronkan dengan apa yang terjadi," imbuhnya.
Selain itu, ada percakapan korban dengan sopir taksi pada malam hari sebelum korban tewas. Polisi sudah meminta keterangan sopir taksi tersebut.
"Bahkan juga sopir taksi itu juga, sopir taksi yang mendapatkan orderan yang untuk mengantarkan orderan itu juga sudah diambil keterangan," tuturnya.
Sempat Berbelanja di Mal Elite
Diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sempat berbelanja pada malam hari sebelum ditemukan tewas dengan wajah terlilit lakban di kos Menteng, Jakarta Pusat (Jakpus). Korban berbelanja di salah satu mal elite di kawasan Jakpus.
"Jadi sempat belanja di salah satu tempat perbelanjaan di Jakarta Pusat," ungkap Kasubbid Penmas Polda Metro Jaya AKBP Reonald Simanjuntak kepada wartawan, Senin (28/7/2025).
Setelah itu, di hari yang sama pada Senin (7/7) malam, korban pergi ke rooftop gedung Kemlu RI. Diketahui korban sempat berdiam diri di rooftop Kemlu selama 1 jam 26 menit.
Kemudian, korban meninggalkan tas gendong dan tas belanjaan di tangga dekat rooftop gedung Kemlu untuk pulang ke kamar kosnya di kawasan Menteng, Jakpus. Tas ransel korban berisikan obat-obatan hingga rekam medis rawat jalan dari salah satu rumah sakit (RS).
"(Isi tas) Laptop, terus pakaian yang baru dibeli, terus ada beberapa obat-obatan yang korban bawa, terus pokoknya belanjaan yang baru dia beli, terus beberapa nota, beberapa alat-alat kantor," kata dia.
"Bahwa ada ditemukan surat rawat jalan beliau dari salah satu rumah sakit umum di Jakarta, tanggal saya lupa, tapi di catatan bulan Juni 2025," imbuhnya.
Gelar Perkara Lengkap
Polda Metro Jaya melakukan gelar perkara kasus kematian misterius diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berinisial ADP (39). Senin hari ini, polisi melakukan gelar perkara kasus tersebut.
Kasubbid Penmas Polda Metro Jaya AKBP Reonald Simanjuntak mengatakan gelar perkara dilakukan bersama unsur eksternal. Mereka terdiri dari Kompolnas, Komnas HAM hingga Kemlu RI.
"Untuk eksternalnya dari Kemenlu, tempat korban bekerja, dan termasuk juga ada TKP rooftop itu. Kemudian komponen sebagai pengawas eksternal kami, ya biar transparan, kemudian Komnas HAM," kata AKBP Reonald, Senin (28/7/2025).
Selain itu, ada juga berbagai ahli mulai dari kedokteran forensik yang melakukan autopsi, laboratorium forensik hingga ahli psikologi forensik. Nantinya semua hal akan disinkronisasi untuk membuat terang kasus kematian diplomat Kemlua tersebut.
Lakban Rumah Korban di Jogja
Ade Ary mengatakan lakban tersebut juga ada di rumah korban di Jogja. Polisi akan menyita lakban tersebut untuk dijadikan sebagai pembanding.
Sementara itu, berdasarkan keterangan rekan kerja, lakban tersebut biasanya dipakai pegawai Kemenlu RI saat bepergian ke luar negeri. Fungsinya, kata Ade Ary untuk mempermudah mencari barang saat di bandara.
"Bahwa lakban tersebut biasa digunakan pegawai Kemenlu yang berpergian ke luar negeri, guna mempermudah mencari barang saat di bandara, mengingat fungsinya sebagai penanda karena warna yang mencolok," jelasnya.
Diketahui pada Senin (7/7) malam, korban sempat pergi ke rooftop gedung Kemlu RI selama 1 jam 26 menit lamanya. Korban meninggalkan tas gendong dan tas belanjaan di sana.
Jasad ADP lalu ditemukan oleh penjaga kos pada Selasa (8/7) pukul 08.30 WIB. Korban ditemukan dengan wajah terbungkus plastik dan dililit lakban kuning.
Tas Gendong dan Belanjaan ADP
Polisi juga mengungkap kepergian ADP (39) ke gedung Kemenlu RI dan meninggalkan tasnya sehari sebelum ditemukan tewas di kos Menteng, Jakarta Pusat. Ternyata ini isi tas tersebut.
Dari foto yang diamankan polisi, tas gendong dan belanjaan milik ADP, disimpan di tangga dekat rooftop gedung Kemenlu. Tapi, tak ada temuan ponsel di tas korban tersebut.
"Jadi ditemukan lah tas itu di lantai 12 di samping tangga darurat," kata Kasubbid Penmas Polda Metro Jaya AKBP Reonald Simanjuntak kepada wartawan, Senin (28/7/2025).
Reonald menjelaskan sebelum ke gedung Kemlu korban sempat ke pusat perbelanjaan di wilayah Jakarta Pusat. Sementara, tas ransel korban berisikan obat-obatan hingga rekam medis rawan jalan dari salah satu rumah sakit.
"(Isi tas) laptop, terus pakaian yang baru dibeli, terus ada beberapa obat-obatan yang korban bawa, terus pokoknya belanjaan yang baru dia beli, terus beberapa nota, beberapa alat-alat kantor," kata dia.
"Bahwa ada ditemukan surat rawat jalan beliau dari salah satu rumah sakit umum di Jakarta, tanggal saya lupa, tapi di catatan bulan Juni 2025," imbuhnya.
Peristiwanya Sudah Terang
Komisioner Kompolnas Choirul Anam atau Cak Anam yang ikut melakukan evaluasi penyelidikan di Mapolda Metro Jaya, mengaku sudah tahu penyebab kematian ADP. Cak Anam bersama unsur eksternal seperti Komnas HAM, Kemenlu hingga pihak kedokteran juga dihadirkan.
"Hari ini peristiwanya kemarin terang, dan tadi semakin terang. Nah, habis itu penyebab kematiannya juga udah jelas. Tinggal diumumkan aja sama Polda Metro," kata Cak Anam, usai melakukan evaluasi penyelidikan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin sore (28/8/2025).
Cak Anam mengatakan, dalam kegiatan evaluasi, penyidik Polda Metro Jaya menjelaskan rangkaian penyelidikan dari awal hingga hari ini. Kegiatan korban yang terekam CCTV juga dijelaskan hingga akhirnya ditemukan tewas.
"Itu semua dicek dan salah satu yang paling penting begini, disandingkan antara komunikasi WA dengan time frame yang ada di CCTV. Itu memiliki logika mendasar atas peristiwa yang sangat kuat," ujarnya.
Tim kedokteran yang hadir dalam evaluasi juga memaparkan hasil autopsi korban. Dokter menjelaskan penyebab sejumlah luka pada tubuh korban.
"Tadi kami dijelaskan oleh dokter forensik, di mana tubuh itu menandakan apa, itu dijelaskan, mana yang memar, mana yang lebam, kurang lebih memarnya kenapa, lebamnya kenapa itu dijelaskan," tuturnya.
Selain itu turut dipaparkan hasil laboratorium digital forensik dari barang elektronik korban. Cak Anam menyebut banyak temuan yang membuat kasus tersebut semakin terang.
"Dari rekam jejak digital, banyak variasi yang akhirnya ditemukan dan didalami dan ditemukan. Kemudian dari segi autopsi, banyak item autopsi yang semakin lama semakin dibuka lebih terang dan lebih kompleks," imbuhnya.
Cak Anam menambahkan kasus kematian diplomat Kemlu ADP segera memasuki tahap akhir. Pihak Polda Metro Jaya akan segera mengumumkan hasil penyelidikan kasus tersebut.
"Sehingga menurut kami dengan pendekatan scientific, dengan komparasi yang cukup detail di kasus ini, sebagai satu bentuk peristiwa, peristiwanya sudah terang," tuturnya n erc/jk/cr2/rmc
Editor : Moch Ilham