SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Pabrik baterai di Georgia, Amerika Serikat yang merupakan perusahaan patungan antara Hyundai Motor dan LG Energy Solution menghadapi penundaan operasional minimal dua hingga tiga bulan, Senin (15/09/2025).
Hal ini menyusul razia imigrasi besar-besaran yang terjadi pekan lalu. Razia tersebut dilakukan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS ini merupakan operasi penegakan hukum satu lokasi terbesar dalam sejarah departemen tersebut.
Munoz menemukan bahwa para pekerja yang menjadi target razia sebagian besar adalah staf dari pemasok LG. Sekitar 475 pekerja, termasuk lebih dari 300 warga Korea Selatan, ditangkap oleh petugas imigrasi AS. Razia tersebut dilakukan atas dugaan "ilegalitas" status visa dan imigrasi para pekerja di lokasi tersebut.
Sebuah pesawat telah menjemput para pekerja dari Atlanta untuk dibawa pulang ke Korea Selatan, setelah Seoul dan Washington sepakat untuk membebaskan mereka.
Kedua negara juga berencana untuk membahas pembentukan program visa khusus bagi para pekerja yang dibutuhkan untuk pembangunan situs serupa oleh perusahaan-perusahaan Korea Selatan.
Ketua Eksekutif Hyundai Motor Group, Euisun Chung, mengatakan ia sangat khawatir tentang insiden itu tetapi merasa lega karena para pekerja sudah dalam perjalanan pulang.
"Mungkin pemerintah kami dan pemerintah AS bekerja sama erat, dan regulasi visa sangat rumit. Saya harap kita bisa membuat sistem yang lebih baik bersama-sama," kata Chung di konferensi Detroit.
Munoz menambahkan bahwa Hyundai akan mencari pasokan baterai dari pabrik lain selama menunggu pabrik LG beroperasi, termasuk dari pabrik di Georgia yang merupakan perusahaan patungan dengan pembuat baterai Korea, SK On. jk-03/dsy
Editor : Desy Ayu