SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Janji manis panitia lomba lari Indo Run Madiun 2025 berubah jadi mimpi buruk bagi atlet asal Kenya, Miller Kipruto Ngetich (34). Sudah hampir sepekan, juara pertama kategori 5K putra ini terpaksa tertahan di Kota Madiun hanya untuk menunggu hadiah Rp4 juta yang tak kunjung cair.
Miller sejatinya sudah dijadwalkan terbang ke Pontianak untuk mengikuti lomba berikutnya pada 28 September. Namun rencana itu buyar karena panitia lomba di Madiun tidak menepati janji.
“Honestly, I’m disappointed. I trained in Bali for five days, then planned to go to Pontianak. But I couldn’t because I had to stay here and wait for the prize money. I even tried to call the organizer’s number, but no one answered,”
Dalam bahasa Indonesia “Sejujurnya, saya kecewa. Saya berlatih di Bali selama lima hari, lalu berencana ke Pontianak. Tapi saya tidak bisa karena harus tinggal di sini menunggu hadiah. Saya bahkan mencoba menghubungi nomor panitia, tapi tidak ada yang menjawab,” ujar Miller, Jumat (26/9/2025).
Ironisnya, nasib serupa juga dialami rekan senegaranya, Edwin Kimutai, yang meraih juara pertama kategori 10K. Bedanya, Edwin langsung terbang ke Malaysia usai lomba meski hadiah belum juga diterimanya.
Miller sendiri kini bertahan di sebuah penginapan murah di Jalan Sukoyono, Demangan, dengan tarif Rp56 ribu per malam. Alih-alih menikmati gelar juara, ia justru terjebak menunggu kepastian dari panitia yang terkesan lepas tangan.
Meski kecewa berat, Miller tetap menaruh kesan positif. Ia memuji keramahan warga kota Madiun dan kualitas rute lari yang dinilainya nyaman.
“Madiun is a nice place, and the people are very friendly. The running route was also good. But the problem was during the prize ceremony. The prize announcement was delayed, and no one from the committee answered my calls. That was disappointing,”
Dalam bahasa Indonesia “Madiun adalah kota yang menyenangkan, dan orang-orangnya sangat ramah. Jalur larinya juga bagus. Tapi masalah muncul saat penyerahan hadiah. Pengumuman pemenang ditunda, dan tidak ada panitia yang menjawab telepon saya. Itu sangat mengecewakan,” ujarnya.
Kasus ini menjadi catatan buruk bagi penyelenggaraan event lari berskala internasional di Kota Madiun. Alih-alih mengharumkan nama daerah, panitia justru menodai reputasi dengan ingkar janji terhadap atlet mancanegara. man
Editor : Moch Ilham