SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saya tahu ajaran Yesus sangat mengecam kemunafikan, yaitu berpura-pura baik atau saleh namun hatinya tidak tulus.
Alkitab (Roma 12:9) secara jelas menyatakan, "Hendaklah kasih itu jangan pura-pura!". Ini berarti kasih harus tulus dari hati, bukan sekadar sandiwara.
Yesus bahkan akan menutup pintu surga bagi mereka yang berpura-pura benar, seolah-olah mereka orang kudus padahal sebenarnya mereka adalah pembuat kejahatan, seperti yang dijelaskan dalam Matius 7:21-23.
Yesus mengajarkan bahwa orang dapat dikenali dari buah perbuatannya. Orang yang munafik akan "berbuah" kejahatan, bukan kebaikan sejati.
Istilah ini berasal dari bahasa Yunani hupokrithes, yang berarti "aktor" atau "seseorang yang mengenakan topeng". Dalam Alkitab, kemunafikan dikecam keras, misalnya oleh Yesus terhadap para ahli Taurat dan Farisi yang membebani orang lain dengan hukum tetapi tidak mematuhinya, serta oleh nabi-nabi lain yang menegur orang yang hanya memuliakan Tuhan dengan bibir tetapi hati mereka jauh dari-Nya.
Yesus sering mengkritik orang Farisi dan ahli Taurat, karena kemunafikan mereka, menyebut mereka "keturunan ular beludak" (Matius 23:33), "seperti kuburan yang dilabur putih" (Matius 23:27), dan "serigala yang buas" (Matius 7:15).
Yesaya menyebutkan bahwa ibadah orang Israel hanya didasarkan pada perintah manusia yang dihafal, sementara hati mereka jauh dari Tuhan (Yesaya 29:13).
Yohanes Pembaptis menyebut orang-orang yang datang kepadanya tanpa ketulusan sebagai "keturunan ular beludak" . San menuntut agar mereka menghasilkan "buah-buah yang sesuai dengan pertobatan" (Lukas 3:7-9).
Bahkan Rasul Petrus pun pernah ditegur karena bertindak munafik, menunjukkan bahwa kemunafikan dapat menimpa siapa saja (Galatia 2:11-13).
Mengapa Alkitab mengecam kemunafikan
Kemunafikan dianggap sebagai dosa yang merusak hubungan dengan Tuhan dan sesama.
Kemunafikan menghalangi seseorang untuk menerima anugerah dan kuasa Tuhan untuk hidup dalam kebenaran.
Yesus memperingatkan bahwa kemunafikan akan berakibat pada hukuman ilahi.
Yesus menolak orang yang hatinya jahat dan penuh intrik, meskipun mereka memberi dengan penampilan luar yang baik, karena pemberian seperti itu tidak tulus dan hanya ingin diperhatikan. (Maria Sari)
Editor : Moch Ilham