SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Pabrikan otomotif terbesar di China, BYD kini memasuki fase perlambatan, setelah bertahun-tahun melesat dan menempatkan diri sebagai produsen kendaraan energi baru (NEV) terbesar di dunia. Meski demikian, BYD telah mempersiapkan langkah strategi guna melesatkan kembali penjualannya.
Pasalnya, penjualan BYD yang sempat meroket dalam beberapa tahun terakhir justru merosot dalam beberapa bulan belakangan. Adanya penurunan penjualan domestik terjadi karena keunggulan teknologi BYD tidak lagi sedominan sebelumnya, Rabu (10/12/2025).
Di mana, efek "mengejutkan" yang selama ini menjadi ciri inovasi BYD disebut mulai memudar. Salah satunya, kondisi kompetisi industri yang semakin ketat, belum lagi persaingan yang bergerak ke arah perlombaan harga murah.
Selain itu, performa pengisian daya pada suhu rendah menjadi salah satu kendala yang harus segera dituntaskan melalui lompatan teknologi. Sehingga, BYD bakal menekankan bahwa teknologi tetap menjadi jantung daya saing BYD, ditopang oleh tim riset yang berisi 120 ribu teknisi.
Diketahui, nantinya dalam 2–3 tahun mendatang, BYD akan menggenjot investasi riset dan pengembangan guna menghadirkan inovasi yang lebih revolusioner. Selain memperkuat sisi teknis, BYD juga akan membenahi strategi pemasaran yang dinilai kurang agresif di tengah kondisi pasar yang sebelumnya menguntungkan dan bakal langsung menjadi daya saing di pasar.
BYD juga akan memperkuat penetrasi di pasar internasional untuk mendongkrak volume penjualan secara lebih stabil. Pada November lalu, BYD mencatat penjualan 480.186 unit NEV. Tahun ini, BYD diketahui merilis lebih sedikit teknologi baru.
Perusahaan sempat mengandalkan pembaruan fitur pengemudian pintar pada banyak model, namun strategi tersebut tidak mampu mengangkat penjualan. Sehingga, BYD kemudian merilis varian berharga lebih rendah tanpa sistem mengemudi pintar untuk mengejar pasar. Sementara itu, kompetitor seperti Geely justru kian agresif dengan menghadirkan model-model hybrid dan kendaraan listrik terjangkau, menambah tekanan dalam kompetisi NEV di China. jk-04/dsy
Editor : Desy Ayu