SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Bagi sebagian umat Islam, kedatangan bulan suci ini sering disambut dengan sorak sorai kegembiraan yang meluap-luap. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa bagi sebagian lainnya, Ramadhan terkadang masih dianggap sebagai "bulan ujian yang berat". Bayangan tentang menahan lapar dan dahaga di tengah cuaca yang mungkin panas, harus bangun dini hari untuk sahur saat mata masih mengantuk, hingga kekhawatiran akan naiknya harga bahan pokok, sering kali membuat kedatangan Ramadhan disambut dengan perasaan campur aduk: antara ingin taat, tapi merasa terbebani.
Ada kunci agar Ramadhan tidak terasa sebagai beban penjara, melainkan sebagai taman surga, terletak pada bagaimana cara kita menyambutnya.
Ramadhan Sebagai Taman Surga, karena
Ramadhan diibaratkan sebagai taman surga .
Ramadhan, merupakan momen istimewa di mana pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu, memudahkan manusia beribadah. Bulan ini penuh keberkahan, ampunan, dan kasih sayang Allah SWT, serta menjadi waktu di mana amal kecil bernilai besar.
Jadi saya setiap memasuki gerbang Ramadhan selalu dengan jiwa yang ringan, lapang, dan penuh cinta.
Ada teman yang merasa berat karena memandang Ramadhan sebagai bulan yang "merampas" kebebasannya (bebas makan, bebas tidur).
Saya baca para ulama tasawuf mengajarkan kita untuk memandang Ramadhan sebagai Dhaifullah (Tamu Allah) yang membawa koper berisi hadiah. Bayangkan jika seorang Raja atau Presiden datang berkunjung ke rumah gubuk Anda dan berjanji akan merenovasi rumah Anda serta melunasi semua hutang Anda. Apakah Anda akan merasa repot menyambutnya? Tentu Anda akan sibuk, lelah menyiapkan hidangan, dan kurang tidur. Tapi apakah kita merasa itu beban? Tidak. Saya merasa itu adalah kehormatan dan peluang emas.
Ramadhan bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah, melainkan momentum besar untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, serta mendekatkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ([email protected])
Oleh:
Hj Lordna Putri
Editor : Moch Ilham