Hasil Survei Lokal

Milenial Jawa Timur Pesimistis Soal Vaksin

Banyak generasi milenial di wilayah Jawa Timur pesimistis terhadap program vaksinasi covid-19. SP/Patrick

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Pemerintah Provinsi Jawa Timur dinilai harus lebih masif dalam memberi pemahaman atau mengedukasi terkait program vaksin Covid-19 kepada masyarakat, terutama kepada generasi Millenial.

Pasalnya, dari hasil riset yang dilakukan oleh Lembaga survey lokal yakni Surabaya Survey Center (SSC), banyak di kalangan generasi milenial di Jawa Timur masih pesimistis terhadap program vaksinasi Covid-19 yang tengah dijalankan pemerintah.

Dari survei SSC tersebut, menunjukkan banyak milenial yang tidak yakin vaksinasi Covid-19 mampu mengatasi penyebaran virus Corona.

Hal ini diungkapkan oleh peneliti SSC, Didik Sugeng Widiarto. Dari penelitian SSC, tambah Didik, ada 30,2 persen responden yang pesimistis vaksinasi bisa mengurangi penyebaran Covid-19. Namun, sebanyak 57,1 persen responden menyatakan sikap optimistis.

"Sisanya 12,7 persen memilih tidak tahu atau tidak menjawab," kata Didik saat merilis surveinya.

Menurut Didik ada beragam alasan para milenial tidak bersedia divaksin, salah satunya karena khawatir terhadap efek samping vaksin.

Lembaga survey SSC ini mencatat ada 23,6 persen milenial khawatir untuk divaksin. Sedangkan 41 persen tidak bersedia karena tidak merasa tertular covid-19.

"Terkait kekhawatiran terhadap efek samping vaksin, tentunya ini menjadi tugas bagi pemerintah untuk bisa meyakinkan semua kalangan bahwa vaksinasi yang dilakukan dijamin aman," ungkap Didik.

 

Harus Diedukasi

Dari data yang didapat, Didik menilai edukasi terkait vaksinasi perlu dilakukan lebih masif oleh pemerintah. "Jadi, biar masyarakat tidak lagi pesimistis terkait vaksinasi,” pungkas Didik.

Penelitian itu dilakukan oleh SSC pada 5-25 Maret 2021 di 38 kabupaten/kota di Jatim.

Sebanyak 1.070 responden dipilih menggunakan metode stratified multistage random sampling. Sedangkan margin of error kurang lebih 3 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Penentuan responden dari kalangan milenial dalam setiap KK dilakukan dengan bantuan kish grid. 

 

Baru 22 Persen

Sementara, tindakan pesimistis kaum milenial terhadap vaksinasi direspon oleh anggota Komisi IX DPR RI Darul Siska. Menurut Darul Siska, hingga April 2021, program vaksinasi baru mencapai 22 persen dari target.

"Berdasarkan penjelaan tiga pembicara, kami melihat potensi kita untuk gagal melakukan vaksinasi itu juga besar. Karena sampai hari ini persentase kita baru 22 persen dari target," kata Darul, Senin (12/4/2021).

Darul juga mengkritik Kemenkes yang menampilkan Indonesia masuk negara ke delapan tercepat dalam vaksinasi. Menurutnya tidak bisa dibandingkan dengan kesuksesan vaksinasi. Sebab yang perlu dilihat adalah pencapaian herd immunity dilihat dari presentase vaksinasi dengan jumlah penduduk.

"Dalam soal vaksinasi itu kalau jumlah penduduk dan presentase yang sudah divaksin itu melihat dari kaca mata pencapaian herd immunity salah satu upaya mencapainya adalah dengan vaksinasi," jelas politikus Golkar ini.

Menurutnya Kemenkes harus menyajikan data vaksinasi secara objektif bagaimana kemampuan untuk mencapai herd immunity tersebut. "Ini yang barangkali kalau bisa disajikan kepada kita akan melihat secara objektif kapan sih kemampuan kita untuk mencapainya," jelas Darul.

Selain itu, Darul menyoroti kekurangan stok vaksin akibat embargo vaksin AstraZeneca yang dibuat di India. Menurutnya, Kemenkes perlu membuat skenario pesimis program vaksinasi ini. Supaya bisa membuat masyarakat tetap waspada terhadap Covid-19.

"Dengan demikian kita mengantisipasi kegagalan untuk melakukan vaksinasi ini baik untuk kita lakukan supaya kita waspada," jelasnya. alq/erk/cr2/rmc