Terawan Akui Vaksin Nusantara Dijegal BPOM

Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta- Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, akhirnya mau bicara secara terbuka alias blak-blakan. Buka-bukaan Terawan diawali dengan suatu pertanyaan kenapa dirinya diam meski Vaksin Nusantara yang diinisiasinya, dijegal BPOM?.

Ia sebut BPOM mengklaim ada pelanggaran dalam uji klinik fase I sehingga dinyatakan tidak boleh berlanjut ke uji klinik fase II yakni penyuntikan ke manusia.

Tapi nyatanya, sejumlah tokoh nasional bersedia menjadi relawan uji klinik fase II seperti Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Aburizal Bakrie, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, eks Mensesneg Sudi Silalahi, eks Menkes Siti Fadillah Supari.

Gegara jegalan BPOM itu, pengembangan Vaksin Nusantara dialihkan ke penelitian berbasis pelayanan yang diawasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Yang semula berada dalam platform penelitian vaksin dan berada di bawah pengawasan BPOM, sekarang dialihkan ke Penelitian Berbasis Pelayanan yang pengawasannya berada di bawah Kemenkes," kata Terawan, mengutip penjelasan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI (Menko PMK) Muhadjir Effendy dalam keterangan tertulis, Selasa (20/4/2021).

Pengalihan ini, kata Terawan, ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito, Senin (19/4/2021) yang disaksikan Menko Muhadjir.

Sejumlah anggota Komlisi VII terhenyak saat pendapat Muhadjir, dibeberkan oleh Dr.Terawan saat menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) Komisi VII DPR dengan Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19, Rabu (16/6/2021).

Dalam RDP tersebut Terawan memperlihatkan kepada Komisi VII DPR RI seperti apa membuat Vaksin Nusantara.

Untuk memperjelas gambaran informasi, Terawan pun membawa sebuah tempat berbentuk persegi panjang yang disebutnya sebagai perangkat Vaksin Nusantara.

Terlihat, tempat sebagai pelindung Vaksin Nusantara itu dipegang oleh Terawan. Hal ini berbeda dengan jenis vaksin lainnya di mana membutuhkan cold chain atau rantai dingin untuk menjaga suhu vaksin ideal.

"Inilah yang nanti di kemudian hari didistribusikan ke mana saja, sehingga tidak perlu cold chain untuk mendistribusikannya. Cukup semua peralatan ini," kata Terawan.

Terawan menjelaskan apa saja isi dari box berisi perangkat Vaksin Nusantara. Satu per satu barang yang ada di perangkat itu pun dikeluarkan Terawan.

Lalu Terawan menjelaskan bagaimana tahapan membuat Vaksin Nusantara yang kerap disebut vaksin sel dendritik imunoterapi.

Terawan terlihat lihai dalam menjelaskan pembuatan Vaksin Nusantara layaknya tengah mempraktekkan demo memasak

 

90% Bahan dari Indonesia

Terawan akui 90 persen bahan Vaksin Nusantara sudah tersedia di dalam negeri.

“Hampir 90 persen bahan industri sudah ada di Indonesia, bahkan dibuat di Indonesia,” ungkap Terawan dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR di Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Terawan juga mengaku masih terdapat beberapa bahan Vaksin Nusantara yang masih diimpor dari Amerika Serikat, seperti larutan antigen protein dan media diferensiasi. “Beberapa dibuat di AS seperti larutan antigen dan media diferensial, kita memang belum sampai Research and Development (R&D) untuk membuat itu,” bebernya.

Kendati demikian, ia optimistis Indonesia dapat membuat sendiri dua bahan itu suatu saat nanti. “Bisa kita lakukan di sini, namun karena paten sudah dimiliki AS kita harus kerja sama, termasuk media diferensiasinya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengatakan bahwa uji klinis fase kedua Vaksin Nusantara hampir selesai dilakukan dan cenderung sukses. “Saya bersyukur boleh berkontribusi dalam membantu pemerintah mengatasi pandemi Covid-19 di bidang kesehatan,” katanya.

Ia mengemukakan, dari hasil uji klinis fase I oleh tim peneliti Universitas Diponegoro dan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi Semarang, telah menunjukkan bahwa imunitas Vaksin Nusantara masih awet pada bulan ketiga setelah penyuntikan. Terawan bersama timnya mengaku akan terus berupaya untuk mewujudkan Vaksin Nusantara. “Kami berharap bisa digunakan,” ucapnya.

Dalam dengar pendapat ini. Terawan juga memperagakan pembuatan Vaksin Nusantara di depan Anggota dan Pimpinan Komisi VII DPR. Pada rapat itu Terawan membawa beberapa perangkat Vaksin Nusantara. n jk/erc/rmc