Catatan Politik oleh H. Tatang Istiawan, Wartawan Surabaya Pagi

Pak Prabowo,

Minggu yang lalu, saya telah membaca summary Novel Ghost Fleet atau Armada Hantu . Novel ini berkisah ihwal skenario Perang Dunia III antara dua poros utama yakni Amerika Serikat dengan duet China-Rusia.

Penulis P.W. Armada Hantu Singer dan August Cole, menulis kisah dengan latar cerita di terletak di Selat Malaka dan bekas Republik Indonesia. Lokasi ini terletak diantara Pulau Sumatra dengan Negara Singapura, Malaysia dan Thailand.

Sebagai penulis berlatar belakang think tank kebijakan luar negeri AS yang berbasis di Washington, keduanya menulis novel ini untuk menyeimbangkan penelitian menyeluruh dalam teknologi pertahanan.

Nah, tulisan yang terkait perkembangan geopolitik ini untuk menciptakan visi sekaligus persepsi tentang bagaimana perang dunia ke depan?. Katakan, “penelitian” Singer dan Cole, dianggap sebuah investasi dari pendekatan ahli teknis pertahanan dan keamanan, nyatalah telah menggoda Anda.

Pertanyaannya, cara pandang apa Anda menganggap buku teks ini bukan fiksi?, sehingga Anda cuplik seolah bisa dikonsumsi publik sebagai sumber informasi apa saja, termasuk memberi warning kepada pemerintahan sekarang, Jokowi.

Nah, terlepas persepsi dan intepretasi yang Anda gambarkan, saya menilai buku ini cukup dinikmati sebagai “kisah” fikti yang mengadu tiga negara adi daya, Amerika Serikat, Cina, dan Rusia, melalui sebuah imajinasi dari Singer dan Cole.

Dan yang namanya tulisan imajinasi, berbeda dengan fantasi, atau ilusi. Tulisan yang mengandung ilusi adalah pembengkokan realitas, lalu tulisan fantasi merupakan ranah tanpa asal-usul realitas.

Sedangkan tulisan imajinasi, kadang masih bertolak dan membicarakan hal-hal yang realitas. Misal dalam sebuah lukisan, ada pelukis mengores pada kanvas-kanvas sebagai hasil dari ‘tulisan imajinasi’nya. Dalam contoh ini ‘estetikasi atas imajinasi’ itu dapat disaksikan; seperti pada stilisasi topeng dengan latar nuansa surealis pada A.

Disana ada garis-garis naif pada figur dan obyek lukisannya sendiri dan kosmolognya tebal tipis tekstur. Sementara torehan warna dan tarikan garis pada lukisan terimpirasi pelukis lain.

Pak Prabowo,

Saya berpendapat bagaimana pun dan apapun ‘’kebenaran’’ kisah novel fiksi Ghost Fleet ini, jujur telah membuai sejumlah pembaca, termasuk Anda. Membuai bagaimana peperangan mungkin terlihat seperti pada dua bidang yang sama sekali baru yaitu dunia maya dan luar angkasa.

Perang dunia maya seperti ini pernah dibahas dalam seminar "Memposisikan Forum Menteri Pertahanan Asean Dalam Political-Security Community Asean," di Jakarta, tahun lalu. Dewan Pengarah Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Dorodjatun Kuntjoro Jakti, pernah mengingatkan, militer Asean harus mewaspadai bahaya perang dunia maya dan perang bawah laut di masa mendatang. Diingatkan, masalah-masalah pertahanan di masa datang akan lebih dipengaruhi oleh transformasi lingkungan yang dipacu perkembangan Teknologi Informasi.

Bahkan. ekonom sekelas Dorodjatun pun sadar bahwa dulu setiap negara boleh berbicara kekuatan militer dunia tidak akan jalan jika tidak didukung kekuatan udara.

Sekarang, ternyata tidak perlu kekuatan udara. Sekarang butuh dukung `cyber space`. Bahkan saat cyber space`-nya diacak, kekuatan udara itu tidak akan ada artinya yaitu ratusan pesawat terbang tidak akan mengudara.

Dalam pandangan dosen UI Jakarta ini, sekarang lingkungan pertahanan bergerak cepat menjadi lima domain yakni darat, laut, udara, ruang angkasa, dan dunia maya. Sarannya, semua para petinggi militer Asean diminta untuk merumuskan langkah-langkah antisipatif terhadap perubahan lingkungan pertahanan yang dikendalikan teknologi informasi.

Dorodjatun, adalah ekonom dan bekas pejabat di pemerintahan Indonesia yang pernah ditugaskan sebagai Dubes AS. Pikiran-pikirannya sama dengan Singer dan Cole, warga Amerika Serikat yang menjadi staf tink tank negaranya

Jadi, yang saya simak, penulis fiksi ilmiah imajinatif ini mengajak pembaca untuk menginjak bidang yang ditekuni selama bertahun-tahun. Dan ternyata hanya sedikit pemikir seperti Singer dan Cole yang menulis novel fiksi dengan keahlian dan wawasan konkret.

Maka itu, Singer dan Cole melukiskan tentang keberhasilan penggunaan laser berbasis ruang angkasa di China. Penggunaan satelit-satelit ini untuk menonaktifkan secara dini satelit militer Amerika sekaligus peralatan komunikasinya. Hal ini, ditulis oleh keduanya, sebagai tidak memiliki preseden dalam sejarah, tetapi Singer dan Cole mengaku punya argumentasi bahwa skenario cepat seperti yang dilakukan China itu menjadi mungkin, karena teknologi ruang terus berevolusi.

Pak Prabowo,

Pada halaman pembuka bukunya, ditulis sebuah tampilan tentang pengkhianatan yang mematikan dari astronot Amerika oleh rekan-rekannya dari Rusia di stasiun luar angkasa internasional. Ini mengingatkan pembaca bahwa perang esok, seperti kesetiaan nasional, tidak akan ditambatkan ke garis di bumi. Benarkah? walahualam.

Bahkan oleh Singer dan Cole, ditulis bahwa sebelum peristiwa utama novel ini terjadi, Indonesia telah jatuh ke dalam keadaan gagal setelah perang kedua di Timor. Pertanyaannya, kapan peristiwa itu akan terjadi atau bahkan sudah terjadi. Dalam novel ini tidak ditulis oleh Singer dan Cole. Demikian juga perang kedua di Timor.

Keduanya malah menulis, tentang sebuah bom kotor diledakkan di Dhahran, Arab Saudi, yang menyebabkan lonjakan besar-besaran harga minyak. Kemudian, ada lapangan gas alam yang baru ditemukan di Palung Mariana. Temuan ini telah memberi China keamanan energi. Pertanyaannya, akibat lonjakan harga minyak, apa relevansi dengan gambaran tentang kehancuran NKRI, pada tahun 2030 nanti?

Data yang saya peroleh, tahun 2018 ini rata-rata harga minyak diperkirakan akan terus meningkat. Ini ekses dari pemangkasan biaya produksi dan tumbuhnya konsumsi minyak Amerika Serikat, Eropa, Tiongkok dan India.

Kondisi ini bertolak belakang dengan kejadian dua tahun sejak penghujung 2014. Sejak dua tahun lalu. tercatat harga minyak jatuh. Malahan sempat di bawah USD 30 per barel pada awal 2016. Dan kini, harga minyak dunia merangkak naik dan saat ini berada di kisaran USD 57 (WTI Crude Oil). Pemulihan harga seperti ini tak lepas dari kesepakatan negara-negara penghasil minyak pada November 2016. Kesepakatan untuk memangkas produksi dan ekspor sebesar 1,8 juta barel per hari.

Bahkan ada rencana pemangkasan produksi dan ekspor akan diperpanjang hingga kuartal pertama tahun 2019. Hal ini untuk memulihkan harga minyak dunia yang sebelum anjlok berada di kisaran USD 100 per barel.

Jadi, rendahnya harga minyak dunia memang berdampak buruk bagi sejumlah Negara termasuk Indonesia. Tak hanya pada industri migas, tapi juga perkenomian sejumlah negara dan daerah penghasil minyak. Padahal, pasar menikmati harga bahan bakar yang lebih murah. Ini ancaman bagi pemerintahan Jokowi-JK sekarang.

Pak Prabowo,

Dalam novel ini, dilukiskan ada kerusuhan yang mengarah pada pemecatan Partai Komunis Tiongkok. Kemudian Tiongkok diperintah oleh campuran pengusaha dan pemimpin militer yang dikenal sebagai Direktorat.

Ditulis bahwa China dan Rusia juga telah mengembangkan kemampuan untuk mendeteksi dan melacak kapal bertenaga nuklir dengan menggunakan radiasi Cherenkov. Teknik ini memungkinkan China untuk secara efektif menetralkan armada kapal selam nuklir Angkatan Laut AS. Bahkan China berencana untuk menguasai rantai pulau ketiga dan mengamankan dominasi di Pasifik barat.

Singer dan Cole, menulis China, bakal meluncurkan serangan cyber besar-besaran terhadap Amerika Serikat dan melumpuhkan banyak sistem teknologi canggih. Termasuk F-35 Lightning, yang dikompromikan dengan microchip yang terinfeksi dalam rantai pasokan.

Serangan tersebut mencakup penggunaan senjata anti-satelit secara ekstensif, yang menyebabkan penonaktifan Global Positioning System dan hilangnya beberapa satelit komunikasi dan pengintaian bagi militer Amerika.

Sementara pejuang dan drone Rusia dapat meluncurkan serangan di pangkalan militer AS di Okinawa. Kedua penulis ini menulis kehadiran militer Amerika di Jepang dinetralkan.

Menurut Singer dan Cole, didukung oleh Rusia, China mampu menangkap Hawaii setelah pertempuran berdarah. China mendirikan Kawasan Administratif Khusus Hawaii. Serangan itu mengarah pada kehancuran total Armada Pasifik Amerika Serikat.

Armada hantu 'tituler' yang ditulis oleh Singer dan Cole, dilukiskan mengacu pada armada cadangan Angkatan Laut Amerika Serikat. Armada ini oleh Amerika Serikat diaktifkan kembali sebagai fallback berteknologi rendah.

Dibagian lain, kedua penulis ini melukiskan bahwa Penduduk O?ahu meluncurkan sebuah pemberontakan, yang dikenal sebagai Mujahidin Pantai Utara. Penduduk ini melawan penjajah China. O’ahu, satu dari delapan bagian dari Kepulauan Hawaii.

Pak Prabowo,

Saya mencatat saat ini, di Indonesia ada kelompok tertentu diluar pemerintahan Jokowi, yang sudah menggembar-gemborkan bahaya politik ekonomi dari RRC. Kelompok ini sering bertandang bersama Anda.

Kelompok ini menyebut pemerintahan RRC sudah mengirimTentara sebagai pekerja di Tibet. Akhirnya Tibet, dikuasai dan dijadikan sebagai bagian Negara RRC. Kemudian RRC juga mempengaruhi Angola untuk melarang Islam dengan dalih tidak sesuai adat istiadat disana. Berikutnya RRC hapuskan utang Zimbabwe dengan kompensasi mata uang China Yuan jadi mata uang resmi Zimbabwe.

Kelompok ini menyebut Negara kedalutan Indonesia juga berpotensi menjadi negara yang diincar China. Potensi seperti ini merujuk pada tanda-tanda seperti piutang besar yang diberikan RRC untuk Indonesia.

Nah, apakah pola seperti ini yang digambarkan oleh Singer dan Cole, Indonesia tahun 2030 akan menjadi bekas Negara Indonesia?. Nah, ternyata dalam Novel fiksi ini tidak dijelaskan detail, bagaimana Indonesia tinggal menjadi bekas Negara dan dengan cara Indonesia bubar? apakah ancaman dari luar atau dalam negeri sendiri.

Realita yang muncul di media sosial, oposan Jokowi, sering membahas kekhawatiran akan nasib piutang RRC, yang dikonversi penguasaan kedaulatan melalui misi ekonomi seperti di Hawai, Tibet, Anggola dan Zimbabwe. Selain pengiriman tenaga kerja RRC ke berbagai proyek industry di Indonesia.

Pada akhirnya, Angkatan Laut Amerika Serikat, ditulis mampu membebaskan Hawaii, dibantu oleh Komando Operasi Khusus Amerika Serikat dan pesawat yang diaktifkan kembali dari boneyard Angkatan Udara Amerika Serikat. Jadi naskah imajinatif ini mengandung paradoks juga.

Pak Prabowo,

Dalam summary novel ini dan menjadi rujukan Anda untuk melakukan komunikasi politik jelang pilpres 2019. Padahal kisah dengan tema perang dunia maya dan angkasa ini, taka da kaitannya dengan kehancuran Indonesia. Istilah bekas Negara Indonesia, dapat menciptakan intepreasi beragam. Apalagi menurut Kapolri Jenderal Tito, baik Singer maupun Cole cukup dikenal dan memiliki reputasi baik dalam Political Sains. Tetapi spesialisasi dua pria AS ini tidak meneliti ke wilayah South East Asia atau Asia Tenggara. Spalagi terkait isu Indonesia bubar 2030. Bisa jadi sebutan bekas Negara Indonesia sekedar bahan cerita yang penuh imajinasi.

Nah, ini sudah bukan rahasia lagi bahwa sebuah novel fiksi adalah novel yang menceritakan sesuatu hal yang tidak benar-benar terjadi. Dalam novel dengan sampul buku berwarna biru ini bisa saja penulisnya yang ahli berimajinasi bercerita tentang suatu kejadian yang tidak terjadi, alias hanya karangan semata. Tema utamanya atau garis besarnya tentang penggambaran perang dunia ke-3.

Dua penulis ini menurut saya memang jago berimajinasi. Ia menemukan sebuah nama dalam kisah Perang Antara Cina dan Amerika Serikat. Keduanya menulis dengan mengawali kisah seorang geologis China bernama Zu Zhin yang sedang berada di sebuah kapal selam. Sebagai seorang geologis yang jauh dari keluarga, Zu Zhin, digambarkan tengah merindukan istrinya.

Konflik kemudian mulai muncul ketika pecah perang dunia ketiga antara Amerika Serikat melawan China dan Rusia. Dalam novel ini, malah digambarkan bahwa China punya teknologi canggih dan mampu melumpuhkan sistem satelit dan Global Positioning System milik Amerika Serikat. Dan ternyata, Amerika Serikat pun tak tinggal diam dan melakukan perlawanan.

Maka itu dimunculkan istilah 'Ghost Fleet' sebagai judul buku. Konon judul buku ini sebagai upaya perlawanan terakhir, di mana secara harfiah arti dari ‘Ghost Fleet’ adalah ‘Armada Hantu’ yang mengacu pada armada cadangan Angkatan Laut Amerika Serikat.

Dari summary yang saya terima dalam novel ini, sebenarnya negara Indonesia tidak punya banyak peran dalam cerita imajinasi. Termasuk perang dunia maya dan angkasa antara Amerika Serikat, China dan Rusia.

Kawasan yang ditulis bekas Negara Indonesia hanya digambarkan sebagai tempat melintasnya pelayaran dunia. “Lebih dari separuh pelayaran dunia melewati jalur ini, yang mengakibatkan setiap titiknya berbahaya dan menjadi kekhawatiran global,” kata Komandan Simmons sambil menunjuk peta wilayah Indonesia, seperti ditulis di novel The Ghost Fleet.

Namun dalam kisah di novel ini, Indonesia ditulis bukan lagi menjadi sebuah negara yang berdiri dan memiliki kedaulatan. Di sana, negara yang punya ideologi Pancasila itu disebut sebagai ‘bekas Negara Indonesia’.

Ditulis, sekitar 600 mil jalur antara bekas Negara Indonesia dan Malaysia, atau kurang dari 2 mil lebarnya pada jarak tersempit, ada peta yang hampir memisahkan masyarakat otoriter Malaysia dari kekacauan. Dan Indonesia lenyap setelah Perang Timor kedua. Pertanyaan perang Timor kedua dimana, kapan dan apa penyebabnya.

Sebagai jurnalis yang usianya lebih muda dari Anda, saya beberapa hari bertanya-tanya mengapa imajinasi Perang Dunia Maya dan Angkasa ini, sampai menggoda politisi sekelas Anda, yang dikenal dekat dengan kalangan intelijen Amerika Serikat.

Pertanyaannya, mengapa Anda begitu cepat menginteprasikan seolah tahun 2030 Indonesia sudah bubar? Begitu cepatnya Anda membuat intepretasi yang menghebohkan seperti sekarang ini, apakah sudah dipikirkan implikasi-implikasinya. Paling tidak saat-saat menjeleng pilpres 2019 pada tahun politik? Atau Anda memang malah ingin membuat kontroversial menjelang Pilpres 2019 untuk mendongkrang perhatian publik yang memiliki hak pilih? Wallaualam. (tatangistiawangmail.com, bersambung)