Dua model tengah memperagakan diri dengan pakaian adat khas Lamongan dalam uji publik kemarin. FOTO:SP/MUHAJIRIN KASRUN

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Busana Adat Khas Lamongan mulai diuji publikkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Uji publik itu mulai dilakukan dengan mengenalkan Busana Adat Khas Lamongan tersebut, dalam Pembinaan Seniman Lamongan di halaman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kemarin petang.

Uji publik baju adat khas Lamongan ini mendapatkan apresiasi langsung dari bupati Fadeli, yang hadir dalam uji publik tersebut bersama Wabup, Sekkab dan Kepala OPD, karena selama ini yang digunakan dalam acara resmi adalah pakaian khas Jawa Timuran.

“Pakaian Adat Khas Lamongan ini jika nanti sudah diresmikan, bisa dipakai dalam berbagai kegiatan resmi di Lamongan. Selain itu, ini bisa menjadi kebanggan bagi masyarakat Lamongan karena memiliki pakaian khas sendiri yang berakar dari kekayaan budaya lokal,” ujar Fadeli.

Karena itu dia memerintahkan agar dilakukan uji publik dulu untuk desain Busana Adat Khas Lamongan tersebut. Juga agar sering ditampilkan dalam berbagai event, sebagai bagian dari sosialisasi.

“Tujuannya agar ada masukan dari masyarakat. Jika sudah diterima, nanti Kita resmikan dalam sebuah aturan,“ kata dia.

Dia berharap uji publik tersebut sudah selesai sebelum peringatan Hari Jadi Lamongan (HJL) ke 450 pada 26 Mei mendatang. Karena dia akan mewajibkan untuk pertama kali, penggunaan Busana Adat Khas Lamongan ini dalam HJL.

“Ini sebenarnya sudah bagus. Apalagi adanya penggunaan batik khas singomengkok. Deskripsi Pakaian Adat Khas Lamongan agar dicetak dalam jumlah banyak untuk disampaikan pada masyarakat,“ pesan dia.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ismunawan mengungkapkan Busana Adat Khas Lamongan ini sudah melalaui beberapa kali kajian. Juga sudah melalui seminar yang dihadiri oleh para budayawan.

Elemen khas dari Busana Adat Khas Lamongan ini adalah penggunaan batik singomengkok dan desain kebaya yang bernuansa Islam.

Nuansa Islam ini tampak pada panjang kebaya yang dibuat hingga lutut. Model kebaya panjang seperti inilah yang membedakan dengan kebaya pada umumnya. Termasuk penggunaan hijab yang semakin mengentalkan nuansa tersebut.

Busana Adat Khas Lamongan ini juga merupakan perpaduan sejumlah budaya lokal. Seperti pengaplikasian kowakan pada busana pria yang mengambil ciri khas busana adat tambal sewu di Desa Sambilan Kecamatan Mantup.

Sementara pengaplikasian Batik Singomengkok pada udeng dan sembong pada busana pria serta jarit pada busana perempuan sebagai bagian dari pelestarian budaya masyarakat Lamongan di wilayah utara.

Desain batik ini terinspirasi dari Gamelan Singomengkok yang digunakan Sunan Drajat dalam berdakwah.

Selain itu ada penggunaan aksesori bros untuk kebaya yang menggunakan model teratai berjuntai dengan motif gunungan yang ada di Sendang Dhuwur. jir