•   Kamis, 17 Oktober 2019
Bisnis Makro

Rupiah Dibuka Rp14.360 per Dolar AS, Melemah 13 Poin

( words)


SURABAYAPAGI.com - Nilai tukar rupiah dibuka pada posisi Rp14.360 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamis (5/7). Posisi ini melemah 13 poin atau 0,09 persen dari penutupan Rabu (4/7) kemarin, di posisi Rp14.347 per dolar AS.

Beberapa mata uang negara di kawasan Asia juga melemah. Mulai dari won Korea Selatan melemah 0,35 persen, renmimbi China minus 0,16 persen, baht Thailand minus 0,13 persen, peso Filipina minus 0,11 persen, dolar Singapura minus 0,11 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,04 persen.

Hanya, ringgit Malaysia dan yen Jepang yang berhasil menguat dari dolar AS, masing-masing 0,01 persen dan 0,06 persen.

Sementara, mata uang negara maju bervariasi, rubel Rusia melemah 0,06 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,04 persen. Namun, dolar Australia berhasil menguat 0,01 persen dan euro Eropa 0,02 persen.

Penguatan rupiah merupakan kedua tertinggi di kawasan Asia setelah won Korea Selatan sebesar 0,37 persen. Setelah itu, penguatan rupiah diikuti renmimbi China 0,23 persen dan ringgit Malaysia 0,14 persen.

Lalu, yen Jepang 0,08 persen, baht Thailand 0,03 persen, peso Filipina 0,03 persen, dolar Singapura 0,02 persen, dan dolar Hong Kong 0,02 persen. Hanya rupee India yang melemah 0,09 persen di hadapan dolar AS.

Sedangkan, mata uang negara maju justru mayoritas melemah. Rubel Rusia melemah 0,2 persen, euro Eropa minus 0,17 persen, dolar Kanada minus 0,1 persen, franc Swiss minus 0,04 persen, dan dolar Australia minus 0,01 persen. Namun, poundsterling Inggris naik 0,11 persen.

Reza Priyambada, Analis Senior CSA Research Institute melihat rupiah berpeluang kembali menguat, meski dibuka melemah pagi ini. Sebab, dolar AS diperkirakan masih melemah karena pelaku pasar cenderung melepas mata uang Negeri Paman Sam di saat kebijakan pengenaan tarif bea masuk untuk barang impor dari China akan diberlakukan.

"Di sisi lain, penguatan rupiah turut terimbas kenaikan renmimbi China setelah bank sentral negara tersebut melakukan upaya untuk menahan pelemahan mata uang mereka," imbuh Reza.

Selain itu, pelemahan dolar AS juga dipengaruhi sentimen dari penguatan euro Eropa dan pasar menanti sentimen internal di AS. Mulai dari rilis data ketenagakerjaan hingga petunjuk rapat bank sentral AS, The Federal Reserve.

Dari dalam negeri, Reza melihat ada satu sentimen yang mampu menjaga rupiah, yaitu pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang menilai bahwa ekonomi Indonesia kuartal II 2018 bisa menembus 5,2-5,3 persen.

Ia memperkirakan sejumlah sentimen ini kembali berlanjut dan membuat rupiah bisa menguat di kisaran Rp14.339-14.350 per dolar AS. "Pergerakan rupiah mampu memanfaatkan penguatan sejumlah mata uang utama lainnya, selain dolar AS," pungkasnya.

Berita Populer