Tahun Depan, "Pertalite" Rp 12.800

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

Pemerintah Tak Beri Subsidi Lagi, Karena Kebijakan Pertamina Tabrakan dengan Policy Peralihan Kendaraan Konvensional ke Kendaraan Listrik 

 

SURABAYA PAGI, Jakarta - PT Pertamina (Persero) berencana menghapus Pertalite, ke produk BBM beroktan 90 (RON 90), pada 2024. Langkah itu diharapkan Pertamina, bisa membantu menekan emisi karbon dan mengurangi impor bensin. Kebijakan ini seiring dengan komitmen perusahaan migas pelat merah itu untuk menekan gas buang dari bahan bakar kendaraan.

Saat ini BBM Pertalite yang disubsidi pemerintah dijual dengan harga Rp 10 ribu per liter. Sedang BBM Pertamax RON 92 dihargai paling tinggi Rp 12.800 per liter.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif soal kebijakan pengganti Pertalite, Arifin menegaskan tidak ada tambahan subsidi. "Nggak ada tambahan subsidi," kata Arifin di Kompleks DPR/MPR Jakarta, Kamis (31/8/2023).

 

Tak Ada Subsidi

Arifin tak banyak bicara soal subsidi Pertalite akan dialihkan ke Pertamax Green 92. Dia balik bertanya, dari mana ongkos subsidi tersebut. "Ongkosnya dari mana?" katanya.

Arifin lantas menjelaskan, perbedaan harga antara Pertamax dan Pertalite, karena harga minyak mentah (crude). Dia bilang, dengan harga minyak mentah yang tinggi maka biaya produksinya makin tinggi.

"Jadi memang ini perbedaan antara Pertamax dan Pertalite ini gara-gara harga crude. Crude makin naik, kan Pertamax nonsubsidi, biaya produksinya juga naik, makanya gapnya itu makin tinggi. Nah ini subsidinya, dengan subsidinya sekarang aja subsidinya nambah untuk bikin Pertalite dari mana, crude juga kan. Jadi gak ada lagi subsidi," katanya.

 

Bahas Peralihan Pertalite

Dalam pertemuan antara Pertamina dan Komis VII DPR-RI, Rabu malam (30/8/2023) membahas peralihan pertalite, ke produk BBM beroktan 90, belum menyinggung soal harga pengganti Pertalite.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menyampaikan program Langit Biru tahap 2 ini hasil kajian internal Pertamina. Dan ibelum ada keputusan apapun dari pemerintah.

Terkait Pertamax Green 92 menjadi pengganti Pertalite bersubsidi, harga jual kepada konsumen tentu tidak akan akan mengikuti harga pasar.

"Kami mengusulkan ini karena lebih baik, kalau misalnya dengan harga yang sama, tetapi masyarakat mendapatkan yang lebih baik dengan oktan number lebih baik sehingga untuk mesin juga lebih baik sekaligus emisinya, why not?” ," kata Nicke Widyawati, Kamis (31/8/2023).

 

Minta Dukungan DPR

Ia meminta dukungan peluncuran BBM terbaru tersebut ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). "Tahun depan hanya akan ada 3 produk Pertamax, yang pertama Pertamax Green 92 dengan campuran RON 90 dengan 7% etanol yang kita sebut E7. Kedua, Pertamax Green 95 yaitu percampuran Pertamax dengan 8 persen etanol, dan ketiga Pertamax Turbo," kata Nicke, Kamis (31/8/2023).

Pertamina akan mengubah Pertamax menjadi Pertamax Green 92. Meski dengan nilai oktan yang sama, produk yang akan diluncurkan itu lebih rendah emisi karena dicampur dengan bioetanol dari molases tebu.

 

Kebijakan Saling Bertabrakan

Secara terpisah, Direktur Celios, Bhima Yudhistira, menilai, kebijakan penanganan polusi udara saat ini terlihat saling bertabrakan. Di satu sisi ingin menggeser penggunaan kendaraan konvensional ke tenaga listrik. Di sisi yang lain, ingin mendorong BBM oktan tinggi yang notabene akan membuat masyarakat tetap nyaman dengan kendaraan BBM.

Penghapusan BBM pertalite dan pertamax subsidi justru akan membuat masyarakat makin tertarik membeli kendaraan BBM,” kata Bhima.

Ia menambahkan, bila tujuan Pertamina ingin menekan polusi udara, berbagai negara yang sukses tekan polusi udara menitikberatkan pada transportasi publik. Seharusnya pemerintah kompak buat gratiskan selama tiga bulan seluruh moda transportasi publik di Jabodetabek,” ujarnya.

 

Pensiun PLTU Batubara

Kemudian secara paralel, armada pengumpan atau feeder ke pemukiman padat penduduk ditambah, sehingga menjadi jawaban atas masalah transportasi di Indonesia.

Sambil jalan, program pensiun PLTU batubara yang mengepung Jakarta harus dimulai tahun ini yang sudah tua usianya, , teknologi nya sudah usang, ya ditutup. Toh kita sedang oversupply listrik di Jawa-Bali,” saran Bima.

 

32,68 Juta Kiloliter

Produk Pertamax Green 92 diharapkan dapat beredar di tengah masyarakat sebanyak 32,68 juta kiloliter (KL) tahun depan. Hal ini selaras dengan investasi di sektor bio energy yang terus meningkat. Apalagi pemeritah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 20003 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel).

"Jadi kita tentu berharap dari situ ada tambahan supply 1,2 juta kl untuk campuran gasoline ini," imbuhnya.

"Ini sudah sangat pas, satu, aspek lingkungan bisa turunkan karbon emisi. Kedua, mandatory bioetanol bisa kita penuhi. Ketiga, kita menurunkan impor gasoline (bensin)," ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII di Gedung DPR, Rabu (30/8).

 

Naik Oktannya ke 92

Tahun lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor hasil pengolahan minyak atau BBM mencapai 25,7 juta ton atau naik sekitar 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebagai ganti Pertalite, sambung Nicke, perusahaan menyiapkan Pertamax Green 92 yang merupakan campuran BBM RON 90 dan bietanol 7 persen (E7)

"Oleh karena itu, 2024 mohon dukungan, kami akan keluarkan lagi Pertamax Green 92. Sebetulnya ini pertalite kita campur dengan etanol, naik oktannya dari 90 ke 92," ujarnya.

Menurut Nicke, penghapusan ini juga sesuai dengan aturan yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dengan produk BBM yang bisa dijual di Indonesia minimal RON 91, sementara pertalite masih RON 90.

"BBM subsidi kita naikkan dari RON 90 ke RON 92, karena aturan KLHK oktan number yang boleh dijual di Indonesia minimum 91," jelasnya.

Tak hanya itu, Pertamina juga akan merilis pertamax green 95 pada tahun depan. Ini adalah campuran antara pertamax dengan 8 persen etanol.

Nicke menekankan dengan peluncuran dua produk baru ini, maka mulai tahun depan produk BBM bensin Pertamina hanya tinggal tiga jenis yakni pertamax green 92, pertamax green 95 dan pertamax turbo.

 

Upaya Kementerian ESDM

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah berupaya meningkatkan torehan produksi bioetanol fuel grade sebagai bahan bakar nabati (BBN) pendamping Pertamax.

Beberapa tahun terakhir torehan produksi bioetanol fuel grade domestik makin susut di tengah pasokan tetes tebu atau molase sebagai bahan baku yang makin turun. Apalagi, bahan baku itu juga ikut diperebutkan untuk industri lain di luar industri bioetanol. n jk/erc/cr3/rmc

Berita Terbaru

Lomba Karapan Sapi Jelang HUT ke-25 Demokrat, AHY Jaga Kekayaan Budaya Nusantara

Lomba Karapan Sapi Jelang HUT ke-25 Demokrat, AHY Jaga Kekayaan Budaya Nusantara

Minggu, 02 Agu 2026 19:02 WIB

Minggu, 02 Agu 2026 19:02 WIB

SURABAYAPAGI.COM, BANGKALAN – Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) membuka Lomba Karapan Sapi Piala AHY di Stadion Karapan Sapi Bangkalan, …

Jangan Biarkan Jawa Timur Terus Dicap sebagai Sarang Peredaran Narkotika

Jangan Biarkan Jawa Timur Terus Dicap sebagai Sarang Peredaran Narkotika

Minggu, 02 Agu 2026 18:43 WIB

Minggu, 02 Agu 2026 18:43 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim berharap provinsi ini tidak boleh terus dicap sebagai wilayah rawan peredaran narkotika,…

Menteri PPN Tinjau Kawasan Industri Pantura

Menteri PPN Tinjau Kawasan Industri Pantura

Minggu, 02 Agu 2026 17:42 WIB

Minggu, 02 Agu 2026 17:42 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Industri yang terus tumbuh di Kawasan Pantai Utara (Pantura) Lamongan, dan perputaran ekonomi yang terus melesat, membuat…

DPD Matra Lamongan Dikukuhkan, Bupati Ajak Memperkuat SDM Melalui Kelestarian Budaya

DPD Matra Lamongan Dikukuhkan, Bupati Ajak Memperkuat SDM Melalui Kelestarian Budaya

Minggu, 02 Agu 2026 17:40 WIB

Minggu, 02 Agu 2026 17:40 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Pengurus Dewan Pengurus Daerah (DPD) MATRA Kabupaten Lamongan Masa Bakti 2026–2031 dikukuhkan oleh Dewan Pengurus Wilayah M…

Pengelolaan Mangrove Lamongan Tuai Apresiasi Tingkat Jatim

Pengelolaan Mangrove Lamongan Tuai Apresiasi Tingkat Jatim

Minggu, 02 Agu 2026 17:01 WIB

Minggu, 02 Agu 2026 17:01 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Pengelolaan mangrove dalam rangka menjaga kelestarian ekosistem pesisir oleh Pemkab Lamongan, kembali mendapat apresiasi di…

Beri Kenyamanan Akses Warga, Pemdes Klantingsari Bangun Jalan Paving

Beri Kenyamanan Akses Warga, Pemdes Klantingsari Bangun Jalan Paving

Minggu, 02 Agu 2026 15:24 WIB

Minggu, 02 Agu 2026 15:24 WIB

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo – Memberi pelayanan prima bagi masyarakat terus dimaksimalkan Pemerintahan Desa (Pemdes) Klantingsari, Kecamatan Tarik. Salah s…