Analisis Politik

Kiai Dibutuhkan 5 Tahunan, Masya Allah

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Raditya M Khadaffi
Raditya M Khadaffi

i

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Kiai, setiap menjelang pemilu ramai dikunjungi capres, cawapres sampai caleg. Misal capres Prabowo Subianto, tugaskan Gus Miftah, silaturahmi kepada para kiai, para ulama, habaib, gus-gus. Cak Imin, malah datangi sendiri para kiai, para ulama, sampai gus-gus.

Akal sehat saya pahami. Maklum, kiai, dan para ulama, dianggap sebagai pewaris Nabi Muhammad yang bertugas menyampaikan spirit moral dari agama islam agar diikuti oleh umat islam secara luas.

Bahkan, Kiai juga dianggap sebagai pendidik yang senantiasa menganjurkan dan mengingatkan para santri maupun masyarakat untuk menegakkan yang hak dan mencegah berbuat mungkar. Termasuk memerangi yang bathil (amar ma’ruf nahi munkar).

Maka itu, untuk menjadi seorang kiai tidaklah mudah. Kiai harus memiliki bekal keilmuwan yang mumpuni di bidang agama dan memiliki cara atau metode dakwah yang menarik.

Akumulasi status sosial dan ekonomi ditambah dengan luasnya pengetahuan agama, menjadikan kiai sebagai pemimpin kharismatik yang disegani di masyarakat. Malahan seringkali menjadi sumber referensi dalam setiap masalah yang dihadapi oleh masyarakat .

Menurut akal sehat saya, kiai dan politik merupakan dua hal yang sering di perbincangkan oleh sejumlah elite politik. Dalam pandangan saya, ada peran ganda kiai. Ya sebagai pendidik moral dan agama. Plus keterlibatannya dalam dunia politik.

Fenomena turut sertanya kiai dalam perebutan kekuasaan di pemerintahan menurut saudara yang Gus, memiliki makna tersendiri bagi kiai. Mengingat kiai selalu dikaitkan dengan kepentingan akhirat. Sedangkan politik adalah kepentingan yang bersifat duniawi.

Gus Imam, meski Ansor, mengaku tidak harus coblos PKB. Dua kali pilpres, ia memilih PDIP. Faktor utama pesan orang tuanya tentang sosok Soekarno.

Bagi Gus Imam, keputusan sejumlah kiai untuk terjun menjadi politisi tidak salah. Ini jika politik yang dijalankan secara jujur, adil dan amanah.

Misal, Jusuf Kalla saat kampanye tahun 2014 berziarah ke makam KH Mohammad Kholil di Kelurahan Mlajeh Bangkalan. Selain, melakukan pertemuan dengan Fatayat dan Muslimat NU di kantor DPC PKB Bangkalan.

Kelirukah jika tahun ini, Prabowo Subianto memberikan surat tugas kepada Gus Miftah. Surat tugas itu berisi permintaan Prabowo untuk didoakan maju sebagai capres di Pilpres 2024.

Surat tugas itu diberikan Prabowo saat menghadiri Milad ke-11 Pondok Pesantren Ora Aji asuhan Gus Miftah di Kalasan, Sleman, Yogyakarta, pekan lalu.

Juga Ketum PKB Muhaimin Iskandar, sebelumnya sowan ke para kiai pengasuh pondok pesantren di Jombang. Ia meminta doa untuk maju sebagai cawapres mendampingi Anies Baswedan di Pilpres 2024.

Kunjungan Cak Imin ke ponpes di Jombang dimulai Minggu pagi. Cak Imin juga mengunjungi kediaman Ketua Dewan Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum KH Hasib Wahab Hasbullah atau Gus Hasib di Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang.

 

***

 

Rekam jejak digital saya, hampir setiap pemilu 5 tahunan, kalangan kiai dan santri tidak pernah absen menjadi salah satu kelompok yang kerap didatangi elite politik . Kata wartawan saya di daerah, saat ini, banyak sejumlah figur potensial caleg dan calon presiden intens berkunjung ke sejumlah pondok pesantren. Ada mitos, kedekatan dengan kiai, diyakini melapangkan jalan untuk memperoleh simpati dari kalangan pemilih Muslim, selain untuk merebut ceruk suara kalangan santri.

Selepas Lebaran 2022 lalu, jejak digital saya mencatat Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, menemui ulama pemimpin ponpes di Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), dan Jawa Barat (Jabar).

Antara lain, Ponpes Tebuireng, Jombang, Jatim, pimpinan KH Abdul Hakim Mahfudz; Ponpes Al-Anwar, Rembang, Jateng, pimpinan Muhammad Najih Maimoen, putra KH Maimoen Zubair; serta Ponpes Buntet, Cirebon, Jabar, pimpinan KH Adib Rofiuddin Izza. Apakah para kiai itu mendukung Prabowo? Belum tentu.

Misal, pengasuh Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk Guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, KH Basir Abdullah Sajad, sudah menerima kunjungan Jusuf Kalla.

Alasannya, ia belum menjatuhkan pilihannya.

Kiai sepuh dan paling berpengaruh di Kabupaten Sumenep ini, mengaku masih menunggu petunjuk dari Yang Maha Kuasa tentang siapa calon presiden terbaik melalui salat istikharah.

Ada apa elite mulai banyak yang melirik kiai. Tentu doanya!

Bisa juga demokrasi telah ternodai atau status kiai terkotori oleh segelintir yang disebut kiai palsu yaitu ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan kiai. Sampai saya mendengar dari beberapa caleg, kini banyak kiai KKO. Apa itu? Kanan kiri oke.

Diakui atau tidak, peran dan gerakan politik kiai, sampai saat ini mampu mewarnai perjalanan demokrasi di Indonesia. Beda dengan dulu, kiai ikut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia ini.

Saya juga mendengar suara minor politik kiai ya itu tadi kiai KKO . Tren yang saya ikuti, masih banyak kiai tidak pernah terlepas dari yang namanya politik. Terutama kiai kharismatik. ([email protected])

Berita Terbaru

‎Rochim Sebut Maidi Perintah Lisan Garap Proyek CSR TPA Winongo  ‎

‎Rochim Sebut Maidi Perintah Lisan Garap Proyek CSR TPA Winongo ‎

Sabtu, 20 Jun 2026 20:53 WIB

Sabtu, 20 Jun 2026 20:53 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Terdakwa kasus dugaan korupsi CSR TPA Winongo, Rochim Ruhdiyanto, mengaku mendapat perintah lisan dari Wali Kota Madiun nonaktif Mai…

Pemkab Madiun Bersama Komisi IX DPR RI Sosialisasikan Alkes dan PKRT ke Masyarakat

Pemkab Madiun Bersama Komisi IX DPR RI Sosialisasikan Alkes dan PKRT ke Masyarakat

Sabtu, 20 Jun 2026 19:54 WIB

Sabtu, 20 Jun 2026 19:54 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Upaya menekan lonjakan kasus penyakit tidak menular (PTM) yang terus membebani pembiayaan kesehatan menjadi perhatian serius. Untuk i…

Lampu Lalin Mati, Perempatan Mayjend Panjaitan Semrawut Tanpa Pengaturan

Lampu Lalin Mati, Perempatan Mayjend Panjaitan Semrawut Tanpa Pengaturan

Sabtu, 20 Jun 2026 16:55 WIB

Sabtu, 20 Jun 2026 16:55 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Arus lalu lintas di perempatan Jl. Mayjend Panjaitan Kota Madiun tampak semrawut setelah lampu lalu lintas di lokasi tersebut padam …

‎Maidi Disebut Penentu Nilai CSR, Saksi Sidang Ungkap Permintaan Rp 600 Juta Demi Perizinan Lancar

‎Maidi Disebut Penentu Nilai CSR, Saksi Sidang Ungkap Permintaan Rp 600 Juta Demi Perizinan Lancar

Sabtu, 20 Jun 2026 15:08 WIB

Sabtu, 20 Jun 2026 15:08 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Fakta baru kembali terungkap dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pemerasan berkedok tanggung jawab sosial perusahaan (TS…

Saksi Sidang Korupsi Madiun Ungkap Maidi Peras Pengusaha Bayar CSR 1,1 Miliar 

Saksi Sidang Korupsi Madiun Ungkap Maidi Peras Pengusaha Bayar CSR 1,1 Miliar 

Sabtu, 20 Jun 2026 14:04 WIB

Sabtu, 20 Jun 2026 14:04 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun - Pengusaha pengembang perumahan Citra Puri Majapahit 3 dan Citra Puri Pajajaran Joko Wijayanto mengungkapkan peran Wali Kota Madiun n…

Ali Mufthi Tekankan Keteladanan KH Sholeh Nahrawi untuk Mencetak Santri Berilmu dan Bermoral

Ali Mufthi Tekankan Keteladanan KH Sholeh Nahrawi untuk Mencetak Santri Berilmu dan Bermoral

Sabtu, 20 Jun 2026 13:53 WIB

Sabtu, 20 Jun 2026 13:53 WIB

SurabayaPagi, Probolinggo – Anggota DPR RI sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, Ali Mufthi, mengajak generasi muda, khususnya kalangan santri, untuk m…