Kereta Cepat Utangan, Hak Rakyat Awasi

author surabayapagi.com

- Pewarta

Kamis, 14 Sep 2023 20:50 WIB

Kereta Cepat Utangan, Hak Rakyat Awasi

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Presiden Joko Widodo, Rabu (13/9/2023) melakukan uji coba Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Jokowi menjajal kereta cepat dari Stasiun KCJB Halim, Jakarta Timur, mengajak artis dan influence. Selain ada Raffi Ahmad, ada Marsha Timothy, Vino G Bastian, Tsamara, Gading Martin, Cak Lontong, Yuni Shara, Asri Welas, Armand Maulana, Nirina Zubir hingga Dewa Bujana. Jokowi, happy sampai guyonan makan siang dengan para artis itu.

Pertanyaan, apakah tahun 2063, presiden nanti bisa berhappy ria, kayak Jokowi, dua hari lalu?. Walaualam.

Baca Juga: Amicus Curiae, Terobosan Hukum

Saya menghitung nasib Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) buatab pabrik CRRC Qingdao Sifang, Shandong, Tiongkok itu mendasarkan proyeksi pemerinta bahwa laba baru bisa dipetik 40 tahun setelah beroperasi Oktober 2023. Tanggal 13 September lalu masih tahap uji coba.

Mengacu penyusutan harga mobil baru sekitar 15-20% dari harga jualnya pada tahun pertama setelah pembelian, Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) buatan China, ini 20 tahun lagi terdepresiasi bisa diatas 50%. Apalagi urusan teknologi, keunggulan kereta cepat ini bisa melorot. Waktu 20 tahun buat teknologi waktu yang lama. Apalagi menunggu waktu 40 tahun lamanya.

Urusan teknologi mobil, booming dunia digital mengubah wajah industri mobil sangat pesat. Terus berkembang dan berubah kontinyu, seolah tak berkesudahan. Regenerasi mobil begitu cepat terjadi. Kini, titik temu antara produk luxury cars dengan yang bukan begitu tipis. Apalagi banyak bermunculan pemain baru dari China dan India.

Era 90-an ditandai dengan penemuan On-board diagnostics dan Connected cars. Masuk tahun 2000, perubahan begitu cepat. Hampir setiap tahun ada aplikasi baru teknologi di dalam mobil. Mulai dari Bluetooth, kamera mundur sampai mobil autonomous.

Juga pesawat terbang, dari tahun ke tahun telah mengalami berbagai perubahan dan perkembangan . Ini bukti pesawat pun juga melalui “evolusi” hingga bisa menjadi seperti sekarang. Kini pergi ke New York dari Jakarta, yang notabene jaraknya sekitar 16.167 km, ditempuh cuma sekitar 20 sampai 22 jam saja. Luar biasa tak perlu sampai sehari.

 

***

 

Terkait kejar laba sampai tahun ke 40, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengusulkan harga tiket Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau KCJB sebesar Rp 150.000 hingga Rp 300.000. KCIC ikuti hasil studi yang dilakukan oleh Polar Universitas Indonesia.

Dengan asumsi harga tiket sebesar itu, balik modal diperkirakan mencapai 40 tahun. Itu pun dengan asumsi keterisian jumlah penumpang terpenuhi yaitu 31 ribu perhari. Mampukah? Banyak ahli transportasi meragukan. Maka ada yang perkiraan balik modal bisa lebih panjang. Apakah ini yang namanya

sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional pemerintah? Walahualam. Ini sudah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 3 tahun 2016 tentang Percepatan Proyek Strategis Nasional.

Pertanyaan lagi siapa pemilik KCJB? Pemiliknya adalah PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Perusahaan ini juga yang akan menanggung utang dari China beserta beban bunganya. Konsorsium ini melibatkan sembilan perusahaan.

Tercatat, PT Kereta Cepat Indonesia China merupakan perusahaan dengan jenis konsorsium (pembiayaan bersama suatu proyek atau perusahaan yang dilakukan oleh dua lembaga yaitu antara BUMN Indonesia dengan China Railways . Mereka bentuk dengan skema Business to Business (B2B), yaitu 60 persen sahamnya dikuasai oleh PT Pilar Sinergi BUMN .

Ini karena besarnya biaya bunga kereta cepatcukup tinggi. Pada November 2022, saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Dwiyana Slamet, menjabarkan komponen apa saja yang membuat proyek kereta cepat menjadi overrun atau membengkak dari perkiraan .

Pertama, pembebasan lahan. Pada kendala pertama ini, initial budget sudah disusun pada tahun 2015, namun pengadaan lahan baru dimulai tahun 2016 sampai dengan 2021. Sehingga ada eskalasi harga sesuai hasil KJPP (kantor jasa penilai publik).

Juga perpajakan. Perubahan tarif PPN dari 10 persen menjadi 11 persen. PPN dan PPh atas transaksi pemanfaatan lahan atau hak pakai atas HPL PT PSBI.

Termasuk kendala cash flow dan budgeting karena tertundanya pemenuhan base equity dari pemegang saham. Selain pencairan pinjaman mengakibatkan progres konstruksi melambat sehingga mengakibatkan tambahan financing cost. Bahkan ada kegiatan yang budgetnya belum dianggarkan.

Overrun lainnya hasil kajian Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yaitu;

1. Adjustment for change in cost USD401,3 juta atau 27,6 persen

2. Financing Cost USD373,9 juta atau 25 persen

3. Dampak Pajak atas Pengadaan lahan USD157 juta atau 10,8 persen

4. Pengadaan Lahan dan kompensasi USD91,9 juta atau 6,3 persen

5. Relokasi fasos fasum USD87,2 juta atau 6,02% persen

6. GSM - R Clearance USD77,3 juta atau 5,34% persen

7. PPN USD50,5 juta atau 3,4 persen

8. Aksesibilitas Stasiun USD43 juta atau 3 persen

9. Supply Listrik USD38 juta atau 2,6 persen

10. Biaya Pegawai dan umum USD30,7 juta atau 2,1 persen

11. Persiapan operasi dan pemeliharaan USD27,2 juta atau 1,8 persen

12. Training persiapan operasi dan pemeliharaan USD24,7 atau 1,7 persen

13. variation order USD22,3 juta atau 1,54 persen

14. lain lain USD22,3 juta atau 1,54 persen.

 

Proyek kereta cepat pertama di Indonesia yang menghubungkan Jakarta-Bandung ini masih menyisakan masalah.

Kereta cepat Jakarta-Bandung ini diakui pemerintah bagian dari Belt and Road Initiative (BRI) China. Maklum, proyek itu didanai oleh konsorsium perusahaan negara Indonesia dan China yang dikenal sebagai PT KCIC

Masalah yang timbul meliputi target pembangunan yang molor, pembengkakan biaya proyek sebesar Rp18 triliun, dan bunga pinjaman yang dinilai pemerintah terlalu memberatkan.

Terungkap mega proyek tersebut diperkirakan memakan biaya investasi hingga Rp 113,9 triliun. Jumlah tersebut meleset dari perhitungan awal sebesar Rp 84,3 triliun. Investasi ini juga melampaui perkiraan investasi yang ditawarkan Jepang sebelumnya.

Sebagai informasi, komposisi pembiayaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung adalah 75 persen berasal dari pinjaman China melalui China Development Bank (CDB). Sisanya merupakan setoran modal dari konsorsium dua negara, yakni Indonesia-China.

Baca Juga: Apple akan Bangun Akademi Developer di Surabaya

Dalam Perpres Nomor 107 Tahun 2015, pembiayaan Kereta Cepat Jakarta-Bandung dilarang menggunakan anggaran pendapatan belanja negara (APBN).

Tapi dalam perjalanannya ada permintaan China yang ingin APBN menjadi jaminan dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Direktur Eksekutif Centre for Indonesia Strategic Actions (CISA) Herry Mendrofa menilai jika APBN dijadikan sebagai jaminan dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung bukan hal yang bijak. Kondisi itu menurutnya dapat merusak tata kelola pembangunan berkelanjutan.

Herry memandang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung seharusnya dijadikan evaluasi oleh pemerintah untuk tidak meneruskan jika pada akhirnya justru merugikan negara dan tidak berdampak luas bagi masyarakat.

Proyek ini digarap bersama melalui perusahaan patungan yakni PT KCIC. Korporasi tersebut beranggotakan konsorsium PT PSBI dengan PT KAI sebagai pemimpin dan konsorsium Beijing Yawan Co. Ltd.

Kereta cepat Jakarta-Bandung akan menjadi jalur kereta api cepat yang menghubungkan dua kota besar di Indonesia. Jalur tersebut akan memiliki panjang 142,3 kilometer, dan akan memiliki kecepatan tertinggi 350 kilometer per jam.

Kereta cepat Jakarta-Bandung akan menghemat waktu perjalanan yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam menjadi hanya beberapa puluh menit. Penghematan waktu ini akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas nasional.

Melihat skema pendanaan, diluar lamanya masa balik modal dan tingginya biaya investasi, China tetap akan diuntungkan dari proyek tersebut. Salah satu alasannya keuntungan bunga utang.

Faktanya, Indonesia merupakan salah satu negara yang mendapatkan utang dari China berdasarkan laporan AidData. Ada berbagai skema yang digunakan untuk aliran utang ini.

Dalam laporan berjudul 'Banking on the Belt and Road: Insight from a new global dataset of 13,427 Chinese Development Projects' dana-dana yang disalurkan China itu bertujuan untuk pembangunan jalur sutera melalui Belt and Road Intiative (BRI) yang selama ini dilakukan di banyak negara.

Nah di Indonesia sendiri dana tersebut digunakan salah satunya untuk proyek infrastruktur. Yaitu Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang awalnya akan dibiayai oleh JICA. Saat itu JICA memasukkan proyek ini ke dalam rencana bantuan pembangunan luar negeri untuk Indonesia.

Catatan jurnalistrik saya, pada periode September 2015, Presiden Joko Widodo memutuskan untuk membatalkan proyek ini dengan menolak tawaran China dan Jepang. Saat itu pembatalan karena proyek ini disebut bisa membuat utang pemerintah membengkak.

Dengan kata lain, meski baru bisa balik modal dalam kurun waktu sekitar 40 tahun, pemerintah China masih mendapatkan sejumlah keuntungan finansial dari bunga utang sebesar 2% dari total pinjaman senilai US$ 3,96 miliar dengan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC

Lalu menilik ke belakangan, proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung sebenarnya pertama kali diajukan Jepang. Negeri Sakura itu menawarkan proposal pembangunan ke pemerintah Jokowi melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).

Saking seriusnya menawarkan proyek tersebut, JICA bahkan telah menggelontorkan modal sebesar 3,5 juta dollar AS sejak 2014 untuk mendanai studi kelayakan.

Nilai investasi kereta cepat berdasarkan hitungan Jepang mencapai 6,2 miliar dollar AS, di mana 75 persennya dibiayai oleh Jepang berupa pinjaman bertenor 40 tahun dengan bunga 0,1 persen per tahun.

Tapi China nerombol. Iakukab review feasibility study yaitu ada potensi break even point (BEP) mencapai 40 tahun. Praktis baru tahun 2063, balik modal.

 

***

 

Baca Juga: Mengapa Gibran dan Bapaknya Diusik Terus

Pakar Transportasi Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas menjelaskan, penambahan waktu konsesi kereta cepat ini tidak sepenuhnya buruk. Tergantung dari kelayakan bisnis, dalam hal ini jumlah penumpang.

"Kalau konsesinya panjang penumpang (80 tahun) target penumpang tidak terpenuhi, maka itu jadi urusan konsorsium. Untung rugi itu tergantung pada bisnisnya nanti," kata Darmaningtyas, kepada CNBC Indonesia, Senin (12/12/2022).

Sedangkan jika waktu konsesinya 50 tahun, ketika penumpangnya tidak sesuai dengan target maka menjadi beban negara. Karena untung rugi bisnisnya tergantung dari banyaknya keterisian kereta."50 tahun selesai diserahkan ke negara, tapi penumpangnya nggak sesuai dengan target kan malah jadi beban negara harus terus subsidi," katanya.

Saat ini target penumpang, KCIC mematok 31 ribu penumpang per hari. Ini atas dasar kajian studi dari Polar UI.

Angka keterisian penumpang itu menurun jika dibandingkan dari kajian yang dilakukan sebelumnya oleh LAPI ITB yang mencapai 60 ribu penumpang per hari. Alasannya ada dampak pandemi

Meski begitu, menurut Darmaningtyas, angka 31 ribu penumpang per hari saja sulit untuk dicapai. Terlebih dalam upaya memindahkan penumpang kendaraan pribadi ke kereta cepat.

"Nggak mungkin tercapai itu. Karena bisa dicapai kalau pemerintah tidak membangun tol baru. Jakarta ke Bandung kalau bangun tol baru yang membuat perjalanan naik mobil dari Jakarta ke Bandung bisa 1,5 jam orang milih naik mobil pribadi. Karena bisa point to point. kalau kereta cepat nggak bisa point to point," kata Dharmaningtyas.

Selain itu, dia menjelaskan, dari penambahan konsesi ini juga tidak terlalu berdampak signifikan bagi negara. Karena jika proyek ini diserahkan kepada negara tentunya PT KAI (Persero) yang akan mengelola. Sementara saat ini perusahaan BUMN perkeretaapian ini juga menjadi pemegang saham terbesar di konsorsium.

 

***

 

Saya membuat catatan ini terkait hak rakyat untuk tahu. Ini penerapan keterbukaan informasi publik. Ini sebagai upaya menyadarkan masyarakat mengenai haknya untuk memperoleh informasi publik. Artinya bukan lagi pada aspek administratif dan normatif.

Ada program-program untuk menyadarkan masyarakat tentang haknya dalam mengakses informasi publik. Sayang belum banyak menyentuh masyarakat. Kecuali aktivis.

Tapi perspektif membuat masyarakat melek akan keterbukaan informasi publik sudah terjadi.

Menurut saya tinggal budaya keterbukaan informasi publik yang mesti dibentuk pada seluruh lapisan masyarakat. Ini merupakan wujud dari pelaksanaan pasal 28F UUD 1945 yang menjadi tonggak lahirnya hak masyarakat untuk tahu. Apalagi diperkuat dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Ayo awasi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Ini untuk menumbuhkan spirit atau etos keterbukaan informasi publik. Termasuk mencegah terjadinya penyelewengan atau penyimpangan administrasi dan anggaran. Kamsia (terima kasih) rakyat Indonesia bila mau awasi proyek we (kita) kereta cepat buatan China ini adalah generasi terbaru CRH380A, hasil pengembangan tipe oleh CRRC Qingdao Sifang.

Konon, CR400AF memiliki kecepatan desain hingga 420km/jam dan kecepatan operasional 350 km/jam. Sedang satu rangkaian kereta CR400AF terdiri dari 8 gerbong (cars) dengan komposisi empat cars bermotor dan empat cars tanpa motor.

Walaupun memiliki kecepatan yang sangat tinggi, CR400AF konon mampu meredam getaran dan suara di dalam kereta secara optimal karena kereta ini memiliki cabin noise yang lebih renda

Dan dengan kecepatan tinggi tersebut, CR400AF Kereta Cepat Indonesia akan menempuh jarak 142,3 km Jakarta - Bandung hanya dalam waktu 36 menit untuk perjalanan langsung, hingga 46 menit dengan kondisi perjalanan berhenti di setiap stasiun. Kereta api ini made in China lho. ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU