SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Data yang dirilis Litbang Kompas pada Jumat (19/7), elektabilitas Khofifah, di angka 26,8%. Sementara tokoh yang menempati urutan kedua di survei ini yakni Mensos yang juga kader PDIP Tri Rismaharini dengan angka 13,6%.
Hasil survei Kompas ini dilirik Ketua DPP PKB Luluk Nur Hamidah. Ia yakin , cagubnya bisa mengalahkan pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak yang diusung koalisi besar. Alasannya elektabilitas Khofifah belum di atas 50%.
Menurut Luluk, PKB dan PDIP akan saling menguntungkan jika berkoalisi di Jatim dan pelung menang lebih besar. Padahal elektabilitas KH Marzuki Mustamar, masih 0,4%.
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, juga senang elektabilitas Menteri Sosial sekaligus Elite PDIP Tri Rismaharini, berada di posisi kedua untuk Pilgub Jawa Timur. Hasto mengatakan Risma menjadi salah satu kandidat yang dicermati oleh partainya.
Pertanyaannya, bila PKB-PDIP "berduet" di Jatim, siapa cagub dan siapa cawagub. Apakah PKB yang menang pemilu 2024 di Jatim, rela KH Marzuki Mustamar, jadi orang kedua Risma, wanita yang dikenal temperamental?
***
Survei Litbang Kompas ini juga menyoroti latar belakang kandidat calon kepala daerah "harus" orang asli Jawa Timur.
Artinya, Khofifah-Emil dan KH Marzuki Mustamar-Risma, semuanya orang Jawa Timur.
Dari aspek geokultural, duet Khofifah-Emil, lebih menyentuh. Apalagi Khofifah, punya wakil Emil, yang relatif lebih berusia muda ketimbang Risma. Bukan hal sulit, Emil menarik mayoritas pemilih muda yang jumlahnya didominasi oleh kaum Millenial dan pemilih pemula Generasi Z.
Mengutip data KPU Jatim 2024, pemilih dari kelompok usia muda antara lain, Pre-boomer (lebih dari 79 tahun): 745.895 orang; Baby boomers (60-78 tahun): 5.344.220 orang; Generasi X (44-59 tahun): 9.310.933 orang; Millenial (28-43 tahun): 9.615.106 orang; Generasi Z (17-27 tahun): 6.386.684 orang.
***
Membaca temuan tersebut, peneliti Litbang Kompas Yohan Wahyu mengatakan, pergeseran porsi dengan lebih banyaknya pemilih muda menjadi potensi disrupsi dalam memetakan pemilih Jatim. Pasalnya, pemilih muda memiliki karakter lebih otonom atau mandiri dalam menentukan pilihan politiknya.
Survei Litbang Kompas ini dilakukan pada 20-25 Juni 2024, dengan melibatkan sebanyak 500 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di Provinsi Jawa Timur.
Juga demografi pemilih di Jawa Timur menjelang Pemilu 2024 didominasi pemilih produktif berusia 17-40 tahun kelompok pemilih generasi Z dan generasi millenial. Dari total 31.402.838 DPT Pemilu 2024 di Jatim sebesar 16.001.790 merupakan pemilih muda.
Tercatat jumlah masyarakat yang masuk ke dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024 Jatim sebesar 31.402.838 jiwa, dengan rincian 15.495.556 laki-laki dan 15.907.282 perempuan.
KPU Jawa Timur telah menetapkan jumlah warga yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2024 sebesar 31.402.838 pemilih.
Berdasar hasil analisis KPU, pemilih pada hajatan lima tahunan tersebut didominasi warga usia produktif. Yang juga cukup besar adalah generasi muda. Tercatat 6,3 juta pemilih berusia 17–26 tahun. Artinya, 20,34 persen pemilih di Jatim adalah generasi Z.
Pertanyaannya, apa berbekal 27 kursi DPRD Jatim, PKB siap mengadu Kiai Marzuki dengan Khofifah?.
Kabarnya, Mentri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini digadang-gadang menjadi wakil dari KH Marzuki Mustamar di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2024.
Bila duet KH Marzuki-Risma atau Risma- KH Marzuki ini menjadi realita, dari laptop saya di ruang redaksi, saya menghitung duet ini sulit mengalahkan petahana Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak.
Hitungan saya ini termasuk memasukan komponen modal sosial Khofifah-Emil. Bahkan tiga bulan jelang pembukaan pendaftaran calon kepala daerah oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), sejumlah partai politik (parpol) telah memberikan dukungan untuk mantan Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa maju kembali di pemilihan kepala daerah (Pilkada) Jatim 2024. Apalagi, presiden terpilih yang juga Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyampaikan deklarasi dukungan untuk Khofifah di Pilkada Jatim 2024.
Nafas Gerindra, memperpanjang aliran darah Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Golkar, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dan Perindo. Ditambah, pengaruh Khofifah sebagai Ketum Muslimat NU.
Meski, mantan Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Umum PP Muslimat NU ini tidak ingin maju lagi menjadi Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) pada periode berikutnya, kedekatan emosionalnya dengan Muslimat Nahdlatul Ulama tidak bisa disepelekan.
Ini karena Khofifah telah menjadi Ketua Umum PP Muslimat NU sejak 2000 hingga saat ini. Hal ini menjadikan dirinya sebagai Ketua Umum terlama kedua setelah Mahmudah Mawardi yang memimpin Muslimat NU selama 29 tahun.
Dilansir dari laman resmi, Muslimat NU merupakan salah satu Badan Otonom dari Nahdlatul Ulama. Didirikan di Purwokerto pada 26 Rabiul Akhir 1365 Hijriah bertepatan dengan 29 Maret 1946.
Muslimat selama ini bergerak dalam memperjuangkan hak-hak wanita dan cita-cita nasional secara mandiri. Juga saya catat selama 5 tahun memimpin provinsi berpenduduk 41.814.500 orang, Khofifah bisa merekatkan semua komponen bangsa di Jatim. ([email protected])
Editor : Moch Ilham