Pengamat kebijakan Hubungan Internasional Fisipol UGM Katakan Perang dunia ke-3 Sangat Berbahaya Bagi Peradaban manusia
SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Spekulasi mengenai Perang Dunia Ketiga selalu menjadi topik yang sensitif dan sering kali mengundang perdebatan. Kini, ketegangan yang meningkat antara Israel dan Iran memunculkan kembali ramalan mengerikan Baba Vanga soal pecahnya perang besar yang disebut-sebut sebagai awal Perang Dunia 3.
Demikian analisis pengamat kebijakan Hubungan Internasional dari Fisipol UGM Dafri Agussalimujar Dafri, kepada wartawan, Minggu (22/6/2025). Juga analisis Profesor Anthony Glees dari Universitas Buckingham yang dikutip dari Economic Times yang melansir Mirror, pekan lalu.
Pengamat kebijakan Hubungan Internasional dari Fisipol UGM Dafri Agussalim mengatakan, bila AS ikut menyerang Iran, maka akan menimbulkan aksi reaksi. Negara besar lain yang juga sekutu Iran tentu akan datang membantu.
"Begitu Amerika misalnya terlibat di situ, maka akan ada negara-negara besar lain juga yang terlibat. Seperti misalnya Rusia, mungkin Turki, atau mungkin juga China, dan seterusnya. Dan itu sangat membahayakan," kata Dafri kepada wartawan.
Dafri menilai negara-negara Islam kemungkinan akan bergerak mendukung Iran. Indonesia termasuk dalam negara Islam yang dimaksud Dafri akan mendukung Iran.
"Kemungkinan negara-negara Islam bergerak mendukung Iran," tuturnya.
"Karena masalahnya ini bukan soal Iran semata, ini soal Palestina," sambungnya.
Menurut Dafri, perang dunia ke-3 akan sangat berbahaya bagi eksistensi dan peradaban manusia. Perang dunia ke-3 bisa berdampak luas kepada ekonomi, sosial, politik di Indonesia. Terutama soal harga minyak.
Dafri turut menyorot ketika Presiden Prabowo Subianto memilih memenuhi undangan dari Presiden Rusia Vladimir Putin ketimbang ikut Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 yang dilaksanakan di Kanada. Diketahui, KTT G7 dihadiri negara-negara besar seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.
"Alih-alih ikut pertemuan G7, malah Prabowo ke Rusia, ketemu Putin. Di sana (Rusia) jelas sekali akan ada kerja sama pertahanan, keamanan. Jadi ini sangat strategis isu semacam itu. Itu sinyal yang sangat kuat menurut saya bahwa kita menjaga jarak sekarang dengan Amerika," lanjutnya.
Bila negara besar seperti AS, Rusia, China terlibat peperangan, maka akan terjadi perang dunia 3. Dafri memandang perang kali ini akan sangat berbahaya, karena bisa saja menggunakan nuklir.
"Kalau terjadi perang nuklir nggak ada yang menang, semuanya hancur. Apalagi dengan kemampuan senjata nuklir sekarang ini. Tetapi jangan lupa dalam sejarah manusia itu tidak selalu serasional yang kita asumsikan," sambung Dafri.
Menurutnya, perang dunia ke-3 akan sangat berbahaya bagi eksistensi dan peradaban manusia. Perang dunia ke-3 bisa berdampak luas kepada ekonomi, sosial, politik di Indonesia. Terutama soal harga minyak.
Ramalan Baba Vanga
Baba Vanga, peramal buta asal Bulgaria yang meninggal tahun 1996, meramalkan bahwa "konflik besar antara Timur dan Barat" akan dimulai setelah keruntuhan Suriah.
Ramalan tersebut kini kembali menjadi sorotan di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah dan masih berlangsungnya perang Rusia-Ukraina.
"Begitu Suriah jatuh, perkirakan akan terjadi perang besar antara Barat dan Timur. Pada musim semi, perang di Timur akan dimulai dan akan terjadi Perang Dunia 3. Perang di Timur yang akan menghancurkan Barat," kata Vanga seperti dikutip para pengikutnya, pada Kamis (19/6/2025).
Ramalan ini dipandang sejumlah kalangan sebagai pertanda potensi konflik lebih luas yang melibatkan kekuatan besar dunia, terutama dengan meningkatnya keterlibatan negara-negara besar di konflik Israel-Iran.
Ancaman Donald Trump
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran memiliki waktu maksimum dua minggu untuk menghindari kemungkinan serangan udara AS. Keterlibatan AS dalam pusaran konflik Iran vs Israel bisa menyeret Rusia hingga China untuk ikut berperang.
Dilansir dari Crisis Group dan World Population Review, ada beberapa perang paling berdampak yang tengah berlangsung pada 2025, ancaman menuju Perang Dunia III?. Ini terkait ketegangan geopolitik yang kian mendalam.
Rentetan konflik bersenjata di berbagai kawasan, mulai dari perang Rusia-Ukraina, eskalasi Israel-Iran, hingga konflik India-Pakistan.
Crisis Group dan World Population Review, menyoroti ketidakpastian semakin meningkat usai Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat mengalami pergeseran signifikan.
Lembaga ini juga soroti konflik domestik di Sudan, Myanmar, Haiti, dan Kongo. Ini menunjukkan kegagalan dunia dalam menjaga perdamaian.
Ini dipicu Perang Rusia-Ukraina, pada 2014 yang kini berubah menjadi konflik besar dengan dampak luas.
Invasi Rusia sejak Februari 2022 telah menghancurkan sebagian besar wilayah Ukraina dan memicu ketegangan global, terutama setelah Rusia meluncurkan rudal hipersonik sebagai respons terhadap serangan Ukraina yang didukung Barat.
Berjudi dengan Perang Dunia III
Dukungan AS menjadi sorotan setelah ketegangan diplomatik mencuat antara Presiden Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Trump menuduh Ukraina bergantung penuh pada bantuan Amerika dan memperingatkan, "Anda berjudi dengan Perang Dunia III," dalam pertemuan yang berakhir tanpa konferensi pers.
Pada 1 Juni 2025, Ukraina meluncurkan Operasi Jaring Laba-laba, serangan drone besar-besaran yang menarget lima pangkalan udara strategis Rusia dengan 117 quadcopter tersembunyi.
Serangan ini merusak atau menghancurkan lebih dari 40 pesawat, mewakili sepertiga armada pembom strategis Rusia.
Serangan tersebut menandai babak baru dalam peperangan modern dan menunjukkan kemampuan Ukraina untuk bertindak secara mandiri tanpa koordinasi dengan AS.
Israel Lancarkan Operasi Militer di Gaza
Lalu, Konflik antara Israel dan Hamas. Konflik ini memuncak sejak serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober 2023, yang mendorong Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza.
Pada November 2024, negara-negara Arab dan Muslim berkumpul di Riyadh menyerukan gencatan senjata dan solusi dua negara. Namun, tindakan militer Israel dan blokade bantuan kemanusiaan terus menuai kritik global.
Dukungan Iran terhadap Hamas menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik menjadi perang regional di Timur Tengah.
Juga Konflik India-Pakistan
Serangan di Pahalgam, Kashmir, pada April 2025 yang menewaskan 26 warga sipil dan memicu eskalasi serius antara India dan Pakistan.
India menuding kelompok militan pro-Pakistan sebagai pelaku, lalu menangguhkan perjanjian bilateral dan menutup perbatasan.
Pakistan membantah terlibat dan merespons dengan larangan perdagangan serta penutupan wilayah udara. Pada 7 Mei, India meluncurkan Operasi Sindoor, menyerang kamp militan di Kashmir dan Punjab menggunakan jet Rafale dan rudal presisi.
Pakistan membalas dengan Operasi Bunyan ul Marsous tiga hari kemudian, menargetkan pangkalan militer India melalui roket, drone, dan serangan siber.
Ambisi Jangka Panjang Putin
Keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik di berbagai belahan dunia selalu meningkatkan risiko
Siaga Perang Dunia III di 2025. Para ahli memperkirakan potensi konflik global pada tahun 2025.
Profesor Anthony Glees dari Universitas Buckingham mengatakan bahwa ambisi jangka panjang Putin adalah untuk merebut kembali wilayah yang pernah menjadi bagian dari Uni Soviet.
Glees mengatakan bahwa Putin tidak akan puas dengan kesepakatan damai yang dipaksakan oleh Barat dan kemungkinan akan mengincar perluasan lebih lanjut, menargetkan negara-negara NATO pasca-1997.
“Pada tahun 2025, Putin akan memajukan rencana strategisnya untuk melemahkan dan memaksa negara-negara NATO pasca-1997, termasuk Polandia, Finlandia, dan negara-negara Baltik, untuk meninggalkan aliansi tersebut,” kata Glees dikutip dari Economic Times yang melansir Mirror, Senin lalu.
Prabowo Atas Serangan ke Iran
Pada April lalu, Presiden Prabowo Subianto sempat berbicara tentang potensi penyerangan ke Iran dan bisa pemicu perang dunia III. Pernyataan Prabowo itu kini viral setelah Iran dan Israel saling berbalas serangan.
Dilihat pada Jumat (20/6/2025), dalam potongan video itu, Prabowo menyebutkan serangan terhadap Iran bakal memicu reaksi dari Rusia. Prabowo menyebutkan situasi ini sangat berbahaya.
"Yang sangat berbahaya yang bisa memicu orang dunia ketiga. Ini tidak main-main, benar-benar. Saya pelajari tiap malam, saya lihat, this is very dangerous time, very dangerous time. Amerika siap mau nyerang Iran, Rusia mengatakan, jangan menyerang Iran. Kalau menyerang Iran, berhadapan dengan saya, Rusia. What is that mean? Masalah Iran nanti perang dunia ketiga. Dan kita sudah non-blok, kita sudah benar," kata Prabowo
Potongan video Prabowo itu adalah wawancara Prabowo bersama bersama 7 pemimpin redaksi di kediamannya, Hambalang, Jawa Barat, Minggu, 6 April 2025, atau 2 bulan lalu sebelum Israel memulai serangan terhadap Iran. n er/jg/bin/afp/rtr/cnn/rmc
Editor : Moch Ilham