Lapor ke Presiden Prabowo Subianto
SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Subaryono, ayah dari diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan, meminta Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Kapolri untuk mengungkap misteri kematian anaknya.
Arya Daru ditemukan tewas di kamar kosnya di Jakarta dengan wajah tertutup plastik dan terlilit lakban pada 8 Juli 2025.
Subaryono,yang memperkenalkan diri sebagai pensiunan dosen hingga kepala departemen di UGM--, mengatakan jika kondisi fisiknya kian renta di usia 71 tahun, ingatan tak lagi tajam, bicara tidak lagi lancar. Oleh karenanya, dia meminta kepada petinggi negara agar membuat misteri kematian Daru menjadi terang.
"Inilah kami merasakan pada posisi yang sangat lemah dan menghadapi situasi yang sangat sulit. Dan ini adalah menyangkut saya sebagai ASN, anak saya sebagai ASN, maka kami mohon pada pimpinan negara ini, kami mohon kepada yang terhormat Bapak Presiden RI Prabowo Subianto," kata Subaryono dalam sebuah konferensi pers di sebuah kafe, Yogyakarta, DIY, Minggu (24/8).
"Kami mohon dengan rendah hati, setulus-tulusnya, kami mohon bapak bisa menginstruksikan, bisa menyampaikan, kepada Kapolri, kepada Panglima TNI, kepada menteri luar negeri, supaya segera bisa menjelaskan kepada kami misteri yang terjadi pada anak kami," sambungnya.
Akun Instagram Daru Aktif
Sejumlah platform media sosial milik mendiang diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arya Daru Pangayunan alias ADP disebut sempat aktif belum lama ini.
Arya Daru ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa dengan wajah terlilit isolasi atau lakban warna kuning dalam sebuah kos di Jalan Gondangdia Kecil, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/7) lalu.
Penasehat Hukum keluarga Daru, Nicholay Aprilindo mengatakan istri almarhum, Meta Ayu Puspitranti menyebut dirinya mendapati akun Instagram milik Daru aktif beberapa waktu lalu.
Demikian pula pesan yang dikirim ke nomor WhatsApp milik Daru beberapa waktu lalu juga ternyata statusnya 'terkirim'.
Mereka pun mempertanyakan keterangan polisi saat ungkap hasil penyelidikan kasus kematian Daru akhir Juli 2025 lalu bahwa handphone milik almarhum hilang dan belum ditemukan.
"Kami baru mendapatkan informasi dari istrinya, keluarganya bahwa beberapa waktu yang lalu Instagram dari almarhum saat ini ON. Padahal dikatakan HP-nya hilang," kata Nicholay dalam sebuah konferensi pers di sebuah kafe, Yogyakarta, DIY, Sabtu (24/8).
"Dan salah satu fakta lainnya adalah, istri atau keluarga dari almarhum, itu mencoba lagi mengirimkan pesan singkat lewat WhatsApp, dan (status) centang dua. Berarti kan ON," sambungnya.
Jangkau Ulang Kedua
Nicholay belum menanyakan lebih lanjut kepada pihak keluarga untuk mengetahui secara lebih detail kapan kedua media sosial almarhum itu aktif.
Akan tetapi, yang jelas ketika pihak keluarga mencoba menjangkau ulang kedua media sosial Daru tersebut keduanya sudah tidak aktif.
"Saat ini sudah nonaktif kembali," ujarnya.
Dalam jumpa pers kali ini, ayah kandung Daru bernama Subaryono muncul pertama kali di hadapan media. Dia pun mengungkap alasan selama ini belum bersuara karena kondisi psikis keluarga yang terpukul, serta kesehatan istrinya atau ibu dari Daru yang masih belum memungkinkan pascaoperasi kanker usus.
Pada akhir Juli lalu, Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Wira Satya Triputra, mengatakan jika handphone Samsung S22 yang sehari-hari dipakai oleh Daru itu masih dicari oleh penyelidik. HP tersebut terakhir terlacak di Mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat.
Wira mengakui pihaknya kesulitan untuk mencari atau melacak handphone tersebut lantaran dalam kondisi off atau mati.
Polisi sejauh ini hanya berhasil mendapatkan handphone lawas Arya yakni Samsung Note 9 yang pertama kali diaktifkan pada 2019. Hasil penelitian menunjukkan jika ponsel tersebut kemudian dinyalakan lagi pada September 2022.
Dari Samsung Note 9 itu, polisi menemukan jejak digital Daru pernah mengirim email perihal keinginannya untuk bunuh diri, dikirim ke salah satu badan amal penyedia layanan dukungan terhadap orang yang mengalami perasaan tertekan dan putus asa. Termasuk yang dapat menyebabkan bunuh diri.
Salah Kirim Pesan WhatsApp
Dalam narasi yang ditampilkan disebutkan Arya sedang mengantre taksi sambil membawa tas gendong dan tas belanja. Masih dalam narasi itu, disampaikan pula rekaman CCTV itu sesuai dengan keterangan saksi bahwa Arya salah mengirim pesan WhatsApp.
"BERDASARKAN CCTV TERLIHAT KORBAN ANTRI TAXI BLUE BIRD. KORBAN MEMBAWA TAS GENDONG DAN TAS BELANJA, SESUAI DENGAN KETERANGAN SAKSI BAHWA KORBAN SALAH MENGIRIM PESAN WHATSAPP," demikian narasi pada monitor.
Namun, saat konferensi pers, kepolisian tidak memberikan penjelasan ihwal momen tersebut. Termasuk, soal pesan yang salah dikirim oleh Arya tersebut.
Dalam sesi tanya jawab, sempat ditanyakan soal Arya yang salah mengirim pesan WhatsApp. Namun, pertanyaan soal salah kirim pesan itu tak dijawab oleh pihak berwajib.
Kepolisian hanya membenarkan ihwal Arya Daru yang mengubah tujuan perjalanannya. Disebut bahwa Arya Daru mulanya berencana pergi ke bandara setelah pulang dari Grand Indonesia, namun berubah tujuan ke Gedung Kemlu. n bin/jk/rmc
Editor : Moch Ilham