SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Sebanyak 67 korban meninggal ambruknya Mushola PP Al- Khoziny, Buduran, Sidoarjo, teryata satu diantaranya adalah Ghifari Haikal Nur (17), warga Desa Wangen, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan.
Ghifari Haikal, santri kelas tiga Aliyah, berhasil diidentifikasi setelah Tim DVI Polda Jatim mencocokkan sampel DNA dengan ibunya. Jenazah santri yang bercita-cita menjadi ulama ini diserahkan pihak Rumah Sakit Bhayangkara kepada keluarga pada Rabu pagi (7/10/2025).
Jenazah baru di makamkan oleh keluarganya pada Kamis, (8/10/2025), di pemakaman Umum Desa Wangen Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan, tepat bersebelahan dengan makam ayahnya yang telah berpulang empat tahun lalu.
Sebelum di makamkan, iring - iringan jenazah disambut dengan isak tangis keluarga dan kerabat, yang tidak mengira Ghifari Haikal harus pulang tanpa nyawa, saat cita-citanya belum kesampaian. Meski demikian, Sundari, ibu korban, terlihat tegar menerima takdir yang menimpa anak bungsunya tersebut.
Sundari menuturkan, Haikal merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Ia dikenal sebagai anak yang pendiam dan memiliki cita - cita mulia untuk menjadi ulama. "Haikal itu anak yang pendiam, dan dia sangat ingin jadi ulama," ungkap Sundari.
Bahkan, Haikal berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah di Ponpes Al Khoziny setelah lulus dari Madrasah Aliyah.
Tak ada firasat yang dirasakan Sundari sebelum tragedi runtuhnya bangunan Musala pondok pesantren Al Khoziny yang terjadi pada Senin (29/9/2025) sore.
Sundari hanya mengingat Haikal sempat mengeluh dan mengungkapkan keinginan agar segera tiba masa liburan sekolah. Keluarga baru mendapatkan kabar pasti mengenai identitas Haikal pada Selasa (7/10/2025) malam, setelah hasil DNA Haikal cocok dengan sampel DNA ibunya yang telah diambil pada hari kelima pasca kejadian.
Meski sempat tertunda karena kesiapan keluarga, jenazah Haikal akhirnya dijemput pada Rabu pagi. Setibanya di kampung halaman ayahnya, jenazah disalatkan di masjid desa setempat sebelum kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga yang lokasinya tidak jauh dari rumah.
Kepergian Haikal meninggalkan duka mendalam, namun cita - cita luhurnya untuk menjadi ulama akan selalu dikenang oleh keluarga dan masyarakat sekitar.jir
Editor : Desy Ayu