SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Kabar kurang menyenangkan datang dari General Motors (GM) yang mengumumkan langkah dramatis dengan memangkas produksi kendaraan listrik (EV) dan baterai di Amerika Serikat, serta merumahkan lebih dari 3.000 pekerjanya, Kamis (30/10/2025).
Pasalnya, pada bulan Oktober ini dunia kerja tengah diguncang gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang melanda berbagai sektor, mulai dari logistik, teknologi, hingga manufaktur.
Akibatnya, sebanyak ribuan karyawan dari sejumlah perusahaan raksasa dunia kini kehilangan pekerjaan, menandakan pasar tenaga kerja global sedang melemah. Keputusan ini diambil pada Rabu, 29 oktober sebagai respons langsung terhadap perlambatan signifikan permintaan mobil bertenaga baterai di pasar AS.
Lebih lanjut, GM menyatakan akan memangkas sekitar 1.200 pekerjaan pabrik di pabrik EV Detroit. Selain itu, perusahaan juga akan memberhentikan 550 karyawan tanpa batas waktu di pabrik baterai Ohio, sebuah usaha patungan dengan LG Energy Solution Korea Selatan.
GM juga mengumumkan penghentian sementara produksi sel baterai di dua pabrik patungan baterai AS (di Tennessee dan Ohio )selama kurang lebih enam bulan mulai Januari. Kebijakan ini akan berimbas pada pemutusan hubungan kerja sementara (layoff) terhadap sekitar 1.550 pekerja di fasilitas tersebut.
Di pabrik EV Detroit yang memproduksi truk pikap listrik besar seperti Chevrolet Silverado dan GMC Sierra, serta EV Escalade IQ dan Hummer SUV, GM akan memangkas produksi hingga sekitar 50 persen dengan mengurangi shift kerja menjadi hanya satu, berlaku mulai Januari.
GM menjelaskan bahwa pemotongan ini dilakukan "sebagai respons terhadap adopsi EV jangka pendek yang lebih lambat dan lingkungan regulasi yang terus berkembang."
Keputusan ini sejalan dengan pernyataan CEO GM, Mary Barra, pekan lalu yang menyebut, "Dengan kerangka regulasi yang berkembang dan berakhirnya insentif konsumen federal, jelas bahwa adopsi EV jangka pendek akan jauh lebih rendah dari yang direncanakan." jk-03/dsy
Editor : Desy Ayu