SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Petani di era Rasulullah SAW diposisikan tulang punggung ekonomi yang mulia. Mereka, menanam komoditas seperti kurma, gandum, dan anggur.
Saat itu Nabi sendiri mencontohkan dan mendorong petani kurma sebagai ibadah yang berpahala besar (sedekah), di mana hasil pertaniannya untuk menopang kebutuhan pangan masyarakat dan pasukan Muslim. Sekaligus menjadikan Madinah sebagai kota pertanian berkembang dengan bantuan tanah dari penduduk asli untuk kaum Muhajirin yang hijrah.
Atas pemberian tanah kepada Muhajirin membuat Madinah berkembang menjadi kota pertanian penting. Sejak saat itu Madinah sebagai Pusat Pertanian.
Ini gambaran yang saya pelajari, Nabi Muhammad merupakan sosok paling sempurna di muka bumi ini. Artinya segala perbuatan, ketetapan, dan perkataannya telah menjadi teladan yang diimani oleh seluruh Muslim di sunia, layak diikuti serta diamalkan. Akan tetapi, sebagai seorang manusia, semasa hidup Nabi Muhammad, beliau juga pernah berbuat salah yang berdampak pada masyarakat di sekitarnya.
Sirah Nabawiyah Perhatian Nabi Muhammad disebutkan kalau Allah akan memberi pahala orang yang menanam pohon sebanyak pohon yang ia tanam dan buah yang dihasilkan pohonnya itu.
"Siapa pun Muslim yang menanamkan suatu tanaman atau menabur suatu benih, kemudian hasilnya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang ternak, melainkan ia menjadi sedekah baginya," kata Nabi Muhammad dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Ahmad. Nabi Muhammad tinggal di Kota Madinah selama kurang lebih sepuluh tahun.
Berbeda dengan Makkah yang tandus, Madinah adalah kota yang kaya sumber mata air. Ia dikenal sebagai kota pertanian, penghasil kurma, dan anggur. Oleh karena itu, Nabi Muhammad sedikit banyak bersentuhan dengan dunia cocok tanam. Lebih dari itu, Nabi Muhammad menaruh perhatian yang cukup besar terhadap sektor pertanian dan mendorong agar umatnya bercocok tanam.
Hal itu bisa dilihat dari beberapa hadits Nabi Muhammad yang terkait dengan sektor pertanian. Misalnya, beliau pernah bersabda bahwa ada tujuh orang yang pahalanya terus mengalir selama dia berada di alam kubur; salah satunya adalah orang yang menanam pohon kurma. Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad pernah membantu salah satu sahabatnya, Salman al-Farisi, menanam 300 benih pohon kurma, sebagai harga yang harus dibayar untuk kemerdekaannya. Semula Salman adalah seorang budak. Setelah memeluk Islam, Nabi Muhammad meminta Salman membuat perjanjian kepada majikannya agar bisa dibebaskan. Sang majikan akan memberikan kemerdekaan manakala Salman menanam 300 pohon kurma—tanpa ada satu batang pun yang mati—dan 40 uqiyah. Singkat cerita, Nabi Muhammad memerintahkan para sahabatnya untuk membantu Salman mengumpulkan 300 benih pohon kurma. Setelah terkumpul, Nabi meminta Salman untuk membuat lubang-lubang di tanah untuk menanam ratusan benih pohon kurma tersebut.
Merujuk Akhlak Rasul, menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), Nabi Muhammad, Salman, dan para sahabat kemudian mulai menanam benih pohon kurma tersebut satu per satu ke dalam lubang yang sudah dipersiapkan.
Kemuliaan menjadi petani telah dijamin oleh Rasulullah saw dalam haditsnya, bahwa pahalanya adalah pahala jariyah yang tak putus walaupun si penanam sudah wafat, selama yang ditanamnya masih tumbuh di muka bumi.
Saya baca memilih profesi sebagai petani dahulu kala menurut para ahli fiqih adalah pekerjaan terbaik yang dapat dipilih kaum muslimin. Alasannya adalah dengan pertanian, manfaat yang dituai sangat meluas karena berkaitan dengan hajat orang banyak dan kebutuhan pokok manusia, yaitu makan. Masya Allah. ([email protected])
Oleh:
Hj Lordna Putri
Editor : Moch Ilham