SURABAYAPAGI : Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto,
geleng geleng kepala oleh ulah 4 warga negara Indonesia (WNI) yang diduga palsu riset.
"Kami besok (Kamis 4 Juni) baru mau rapatkan pleno," kata Brian, Rabu (3/6/2026). Brian
menuturkan akan memberitahu lebih lanjut hasil keputusan rapat dugaan pemalsuan riset tersebut setelah rapat.
"Besok (Kamis 4 Juni) saja ya setelah rapat saya kabari," ujarnya. Brian sebelumnya mengatakan
terduga pelaku pemalsuan riset di forum internasional saat ini berjumlah empat orang. Brian menyebut seluruhnya merupakan alumni S1 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Hal itu disampaikan Brian dalam Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6). Brian mengatakan pendidikan S2 dari keempat pelaku berbeda-beda.
"Terkait dengan tadi permasalahan kasus beberapa orang yang melakukan pembohongan riset, ini
kami sudah membentuk tim dan sudah berkoordinasi dengan UNY.
Bahwa benar empat orang itu, tadi seperti yang ditanyakan, bahwa benar empat orang itu lulusan S1 -nya adalah UNY. S2-nya berbedabeda," kata Brian dalam rapat.
Brian mengatakan keempat terduga pelaku bukan dosen di perguruan tinggi. Ia menyebut secara
administrasi Kemendiktisaintek tak memiliki payung hukum untuk menindak pelaku.
"Tetapi memang setelah kami cek di seluruh database perguruan tinggi, keempatnya itu tidak
berafiliasi atau bukan dosen di perguruan tinggi tersebut. Sehingga tentu secara administrasi, kita tidak memiliki payung hukum untuk penanganan dan memproses lebih lanjut," ujar Brian.
Konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026 diketahui berlangsung pada 17-21 Mei 2026.
Sekelompok periset asal Indonesia yang terdiri atas Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti
mempresentasikan sejumlah hasil penelitian yang dianggap sangat impresif.
Usut punya usut, muncul dugaan bahwa penelitian yang dibawakan mereka hasil fabrikasi dan tidak
pernah benar-benar dilakukan. Pelaku juga diduga memalsukan identitas. Hal itu diungkap oleh peneliti bernama Ida Bagus Mandhara Brasika melalui akun Threads-nya.
Konferensi Ilmiah ISPPD 2026
"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan
dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli pneumonia di seluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark," tulis Mandhara Brasika di akun Threads-nya, Rabu (27/5).
"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama
saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag. Yang lebih gila... Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu!
Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya
tidak pernah ada. Datanya palsu di generate AI, gambar dan tulisannya juga," lanjutnya. n jk, erc, rmc
Editor : Redaksi