5 Juta Vaksin Nusantara, Dipesan Negara Eropa

Dr. dr. Terawan saat menunjukkan boks yang berisi beberapa tool kit vaksin berbasis sel dendritik, di Komisi VII DPR RI, Rabu lalu. SP/Erick

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta- Profesor di Fakultas Kedokteran Hewan Unair mendengar saat ini sudah ada satu negara di Eropa yang tertarik dengan Vaksin Nusantara berbasis sel dendritik. "Negara ini pesan dangan jumlah yang fantastis, sekitar 5 juta dosis," kata Guru Besar Biologi Molekuler dari Universitas Airlangga (Unair), Prof drh. Chairul Anwar Nidom, tanpa menyebutkan nama negaranya.

Ketika dikonfirmasi, Dokter yang juga peneliti utama dalam riset uji klinis Vaksin Nusantara, Kolonel Jonny menerangkan, belum mengetahui negara eropa mana yang ikut meminati Vaksin Nusantara itu.

"Tapi memang peminatnya sudah banyak," kata Dokter Kolonel Jonny, menyebut ketertarikan datang dari beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.

Tapi, lanjut dr Jonny menyatakan bahwa tim peneliti Vaksin Nusantara belum bisa melayaninya karena uji klinis belum memasuki fase final dikarenakan terhambat isi nota kesepahaman antara Kementerian Kesehatan, BPOM, dan TNI AD yang membatasi terapi bukan sebagai vaksin yang bersifat massal.

"Sudah banyak yang tertarik. Filipina sudah mau, Malaysia sudah mau, bahkan Singapura sendiri sudah mau," ujar Jonny melalui sambungan telepon, Jumat (18/6/ 2021) malam.

 

Datangkan Devisa Negara

Bahkan, pencetus vaksin berbasis sel dendritik Dr. dr. Terawan Agus Putranto juga menyebutkan bahwa penelitian vaksin berbasis sel dendritik sudah diminati beberapa negara itu bisa mendatangkan devisa negara. Karena menurut mantan Menteri Kesehatan itu, penelitian hingga uji klinis tahap 2, memiliki nilai yang sangat mahal.

"Karena uji klinis tahap 2 itu nilainya mahal sekali. Nilai ilmiahnya itu yang luar biasa. Banyak negara yang ingin dan minta lisensi ke kita," ujar Terawan yang disampaikan di dalam RDP dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR RI, Rabu (16/6/2021).

Sedangkan bila nanti akan produksi massal, lanjut Terawan, pihaknya tinggal menyiapkan quality control. "Jadi kita bisa ekspor ilmu pengetahuan (sel dendritik) dan vaksiya. Kita bisa dapat dua hasil devisa lho. Yah itu, devisi dalam bentuk box calon vaksin nanti dan devisi dalam bentuk pengetahuan. Bahkan kita bisa melatih di beberapa negara maju, bila mereka menginginkan juga," kata Terawan.

Jadi, Terawan berharap produk anak bangsa seperti vaksin berbasis sel dendritik yang sedang dikembangkannya sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah. "Yah alangkah indahnya kalau pemerintah nanti (bila meloloskan penelitian vaksin Nusantara), bisa mendatangkan devisa, bukan malah mengeluarkan devisa," tegas Terawan di depan anggota Komisi VII DPR RI.

 

Motor Aktivitasnya

Vaksin sel dendritik untuk SARS-CoV-2 dikembangkan dari teknik terapi kanker. Perbedaan vaksin ini dari vaksin umumnya terletak pada motor aktivitasnya yang tidak menggunakan antigen (virus inaktif atau subunit protein si virus).

Vaksin Nusantara memanfaatkan sel dendritik yang dipanen dari darah, tapi bisa diambil juga dari sumsum tulang, si pasien yang akan disuntikkan vaksin.

Sel dendritik disebutkan mampu menangkap antigen-antigen asing yang masuk ke tubuh, lalu bergerak ke area T Sel dari organ limfoid untuk menemukan klon yang tepat dan memulai respons imunitas. Artinya, penerapan vaksinnya bersifat individual.

"Karena sifatnya individu, kami lagi merencanakan biar orang luar negeri itu datang ke Indonesia," ungkap Jonny.

Sambil jalani terapi Vaksin Nusantara, Jonny berangan, mereka datang berwisata ke daerah-daerah di Indonesia.

"Sebelum pulang ke negaranya disuntikkan vaksinnya, ya itu maunya kami supaya mendatangkan devisa buat negara juga," tutur Jonny yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam ginjal-hipertensi itu. n jk/cr2/rmc