Jadi Lahan Basah, Bisnis Vaksin Bisa Raup Income hingga Rp 858 T

Amerika Serikat mulai menyuntikan vaksin Covid-19 merek Pfizer pertamanya ke sejumlah tenaga kesehatan, Selasa (15/12/2020) dinihari WIB atau Senin (14/12/2020) waktu setempat. SP/ Xinhua

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Di balik kebutuhan vaksin untuk mencegah penularan Covid 19, ada bisnis ratusan triliun rupiah. Dari berbagai riset yang dilakukan oleh konsultan perusahaan vaksin dunia seperti Zion Market Research, diketahui tahun ini diprediksi perputaran uang di bisnis vaksin dunia akan mencapai sekitar USD 59,2 miliar atau setara dengan Rp858,4 Triliun (kurs Rp 14.500 per USD). Nilai tersebut melonjak sekitar dua kali lipat dari nilai bisnis vaksin dunia di tahun 2014 lalu yang hanya mencapai USD 32,2 miliar.

Tiga tahun ke depan, 2023, menurut Fortune Business Insight nilai bisnis vaksin dunia akan menjadi UD 65,1 miliar. Dan di tahun 2027 melonjak lagi menjadi USD 104,87 miliar.

Kedatangan Virus Covid 19 membawa berkah bagi bisnis vaksin di dunia. Pasalnya sepanjang kurun waktu 2020-2027 pertumbuhan bisnis vaksin diprediksi oleh Fortune Business Insight rata-rata per tahun akan mencapai 10,7%. Sebelumnya pertumbuhan bisnis vaksin dunia hanya di kisaran 8% hingga 9% saja per tahun.

Bagi mereka yang punya modal besar saat ini, bisnis yang menjanjian memang vaksin. Itu sebabnya juga Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia, rela menggelontorkan dana hingga USD 750 juta setara dengan Rp 10,5 triliun untuk membantu pengadaan dan produksi 300 juta dosis vaksin Covid 19 buatan Oxford University.

Bisnis vaksin memang benar-benar jadi lahan basah saat ini. Apalagi setelah WHO terang-terangan akan membeli 2 miliar dosis vaksin Covid 19. Vaksin yang dbeli oleh WHO itu akan dibagikan kepada penduduk miskin di negara-negara yang tak mampu menyediakan stok vaksin tersebut dalam jumlah yang mencukupi.

Kabarnya harga vaksin Covid 19 ini akan dibandrol dengan harga antara USD5 hingga USD10 per dosis. Jika penduduk dunia saat ini berjumlah 7 miliar dan butuh minimal dua kali vaksin agar tubuhnya kebal dari serangan virus yang mematikan ini, maka dunia membutuhkan tak kurang dari 14 miliar dosis vaksin. Sudah bisa dihitung berapa nilai bisnis untuk vaksin Covid 19 ini.

Dari jumbonya bisnis vaksin ini, Pfizer dan Moderna diproyeksi akan meraup pendapatan sebesar US$ 32 miliar atau setara Rp 453 triliun hanya dari penjualam vaksin Corona di tahun 2021.

Proyeksi itu dikeluarkan oleh Analis Wall Street dilansir CNN, Minggu (13/12/2020). Untuk Pfizer sendiri,  perusahaan diproyeksi meraup pendapatan sebesar USD 19 miliar atau setara Rp 268 triliun dari penjualan vaksin Corona hanya di tahun 2021 menurut analis Morgan Stanley. Angka tersebut jauh dari penjualan vaksin di 2020 yang diproyeksi meraup USD 975 juta atau sekitar Rp 13,8 triliun.

Namun, Pfizer akan membagi hasil penjualan itu dengan BioNTech, perusahaan Jerman yang menjadi mitranya dalam mengembangkan vaksin. Di tahun 2022 dan 2023, Pfizer diperkirakan akan meraup pendapatan penjualan vaksin USD 9,3 miliar atau Rp 131 triliun lebih tinggi dari BioNTech.

Kini, Pfizer-BioNTech telah mengantongi izin edar BPOM AS (FDA) untuk penggunaan darurat vaksin.

Moderna sendiri dikabarkan akan mengantongi izin FDA untuk vaksin Coronanya dalam waktu dekat.

Pada saat Pfizer mengumumkan vaksinnya telah efektif 90%, sahamnya melejit. Sepanjang 2020, harga saham Pfizer melonjak 12%. Namun, pada pengumuman izin FDA ini, sahamnnya tak menunjukkan kenaikan drastis lagi.

Sementara itu, harga sama BioNTech di AS telah melonjak hampir 300%, meningkatkan valuasi perusahaan menjadi US$ 30 miliar atau setara Rp 424 triliun berkat sentimen mulai dikebutnya produksi vaksin Corona.

Jadi Lahan Bisnis BUMN

Lalu bagaimana dengan di Indonesia yang sudah mengimpor vaksi Sinovac dari China? Indonesia sendiri membutuhkan sekitar 350 juta dosis Vakisn Covid 19. Menurut Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Dany Amrul Ichdan, untuk memenuhi kebutuhan vaksin sebanyak itu, pemerintah harus menyiapkan anggaran sebesar Rp 25 triliun hingga Rp 30 triliun.

Dan yang terbaru, isu 'bisnis vaksin' untuk memperkuat holding BUMN farmasi mendadak viral di masyarakat, khususnya di kalangan pengguna media sosial Twitter. Warganet khawatir 'bisnis vaksin' berkonotasi hanya menguntungkan perusahaan pelat merah di tengah kebutuhan vaksin corona atau covid-19.

Hal ini bermula dari unggahan akun Instagram @forumhumasbumn bertajuk 'Bisnis Vaksin Corona Bakal Semakin Menyehatkan Holding BUMN Farmasi' pada Senin (14/12).

Dalam unggahan yang kemudian dihapus itu dinyatakan bahwa penguasaan pasar holding BUMN farmasi akan semakin kuat di industri farmasi nasional. Hal ini karena mendapat sokongan dari bisnis seputar penanganan pandemi virus corona atau covid-19, di mana holding BUMN terlibat dalam pengadaan vaksin dan keperluan vaksinasi.

"Bisnis seputar penanganan virus corona (covid-19) seperti alat rapid test, masker medis hingga pengadaan vaksin turut mendukung proyeksi tersebut," tulis unggahan Forum Humas BUMN.

Tak hanya itu, PT Indofarma (Persero) Tbk rencananya juga akan memasok jarum suntik untuk mendukung program vaksinasi. Emiten berkode INAF itu merupakan salah satu bagian dari holding BUMN farmasi.

Para anggota holding BUMN farmasi akan bekerja sama terkait pengadaan vaksin dengan beberapa pihak. PT Bio Farma (Persero) akan melakukan pengadaan vaksin dengan Sinovac, Indofarma dengan Novavax, dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk dengan G-42.

Unggahan ini kemudian dibagikan akun @diambagus ke Twitter. Dalam unggahannya, ia mempertanyakan maksud 'bisnis vaksin' yang dianggap memberikan menggunakan diksi yang salah. Unggahan ini viral dan banjir nyinyiran dari netizen.

Tak mau disudutkan, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengungkapkan pemerintah membentuk holding BUMN farmasi sejatinya memang untuk menjamin ketersediaan produk-produk di bidang farmasi dan alat kesehatan. Pengadaan stok ini tentu akan memberi dampak bagi bisnis holding ke depan.

Begitu juga dengan pengadaan produk-produk terkait penanganan covid-19 oleh para perusahaan pelat merah. Kebetulan, pengadaan produk-produk itu meningkat di tengah pandemi.

"Tapi tidak ada covid pun, kami sudah melakukan fungsi yang sesuai dengan core business. Memang karena covid kebutuhannya naik dan tentu kami juga melakukan hal-hal terbaik untuk membantu penanganan covid-19," kata Honesti, kemarin.

Kendati begitu, menurutnya, hal ini tak serta merta membuat para perusahaan negara di holding BUMN farmasi akan melakukan 'bisnis vaksin' yang berkonotasi hanya menguntungkan holding. Sebab, Bio Farma dalam pengadaan vaksin covid-19 ini hanya menjalankan penugasan dari pemerintah. jk/cnn/xin/was/ril