Erick Thohir, Apa Lemah Nasionalismenya, Terus "Belanja" Pemain Naturalisasi

author surabayapagi.com

- Pewarta

Jumat, 15 Mar 2024 21:19 WIB

Erick Thohir, Apa Lemah Nasionalismenya, Terus "Belanja" Pemain Naturalisasi

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Sampai Maret 2024 ini, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir berjanji tidak akan menambah pemain naturalisasi untuk Timnas Indonesia dalam waktu dekat. Ini setelah PSSI menaturalisasi pemain yaitu Marteen Paes, Ragnar Oratmangoen dan Thom Haye.

Praktis sejak Erick Thohir menjadi Ketua PSSI pada Februari 2023, sudah 11 pemain diaspora yang telah dinaturalisasi. Lima pemain sebelum Marteen Paes, Ragnar Oratmangoen, Thom Haye, adalah Jordi Amat, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, Ivar Jenner, Rafael Struick, Justin Hubner, Jay Idzes, dan Nathan Tjoe-A-On. Saat ini ketiga pemain tersebut sudah mendapatkan persetujuan dari DPR RI.

Baca Juga: Waspadai! Sindrom Pasca Liburan, Post Holiday

Kisah naturalisasi Indonesia di mulai era Ketua PSSI, Nurdin Halid pada 2003-2011.

Nurdin "mengimpor" dua pemain naturalisasi untuk membela Timnas Indonesia. Keduanya adalah Cristian Gonzales dan Kim Kurniawan. Nama pertama dinilai sebagai satu di antara pemain naturalisasi terbaik.

Tak tahu apa sebab Ketua Umum PSSI Erick Thohir disindir bek timnas Vietnam Do Duy Manh yang bercanda apakah timnya sedang melawan Indonesia atau Belanda jelang pertemuan kedua tim pada 21 dan 26 Maret mendatang. Ini kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia putaran kedua Grup F.

Uniknya, Erick Thohir mau membalas sindiran bek timnas Vietnam Do Duy Manh. Pria yang juga menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu bercanda mengatakan sindiran Do Duy Manh bukan sebagai perang urat syarat, melainkan sebagai bentuk kekaguman Vietnam melihat kualitas Indonesia yang semakin kuat. Wowwww, apa benar?

“Mungkin mereka bingung Indonesia di bawah kepemimpinan saya makin bagus gitu,” kata Erick seusai menghadiri acara Penandatanganan Kerja Sama Official Insurance Partner Timnas Sepak Bola Indonesia di Menara Danareksa, Jakarta, Kamis.

 

**

 

Diantara pemain diaspora yang sudah dinaturalisasi ada Justin Hubner. Ia punya keturunan Indonesia dari orang tua. Si kakek disebut berasal dari Makassar. Nama Hubner sendiri sudah masuk program naturalisasi sejak 2022 lalu.

Juga ada pemain diaspora yang dinaturalisasi hingga menunggu selama tujuh tahun, yakni Sandy Walsh. Kakeknya orang Surabaya, dan telah menuliskan wasiat agar Sandy bisa bermain untuk Timnas Indonesia.

Catatan jurnalistik saya menulis tren naturalisasi pemain untuk membela Timnas Indonesia mengemuka era Erick Thohir.

Apa pentingnya kehadiran para pemain naturalisasi tersebut untuk Skuad Garuda?

Praktis pemain Wolverhampton yang kini dipinjamkan ke Cerezo Osaka itu menambah panjang daftar pemain naturalisasi di Timnas Indonesia.

Jauh sebelumnya, ada era Sandy Walsh Dkk ini, juga ada pemain yang beralih kewarganegaraan RI meliputi Tonnie Cussell hingga Ruben Wuarnabaran. Selain itu, terdapat Stefano Lilipaly, Raphael Maitimo, Bio Paulin, Diego Michiels, Victor Igbonefo, Sergio van Dijk, Jhonny van Beukering, dan Greg Nwokolo.

Konon banyak pemain naturalisasi yang tidak mempunyai darah Indonesia. tetapi menggunakan syarat tinggal lima tahun berturut-turut atau sepuluh tahun tidak beruntun. Misal Bio Paulin, Victor Igbonefo, dan Greg Nwokolo dan Cristian Gonzales.

Pada saat PSSI dipimpin oleh Edy Rahmayadi pada 2016-2018 dan diteruskan oleh Joko Driyono dan Edy Rahmayadi sampai 2019, ada lima pemain naturalisasi memperkuat Timnas Indonesia. Kelimanya ialah Ilija Spasojevic, Esteban Vizcarra, Alberto Goncalves, Ezra Walian, dan Osas Saha. Hanya Ezra Walian yang memiliki darah Indonesia.

Ternyata jumlah pemain yang dinaturalisasi mulai menurun ketika PSSI diketuai oleh Mochamad Iriawan pada 2019-2023. Pensiunan Polri ini hanya merekrut empat pemain yang terdiri dari Marc Klok, Sandy Walsh, Jordi Amat, dan Shayne Pattynama. Keempatnya memiliki darah Indonesia.

 

***

 

Menilik sejarahnya, kebijakan naturalisasi pemain untuk Timnas Indonesia yang dilakukan Erick, memang bukan hal baru. Tren naturalisasi telah dimulai pada 2010-an, saat Cristian Gonzales mendapat status WNI dan menjadi andalan Timnas Indonesia.

Catatan jurnalistik saya menulis sejak saat itu muncul pro dan kontra soal kebijakan naturalisasi pemain.

Apa benar pemain keturunan Indonesia mampu meningkatkan level permainan Timnas Indonesia?.

Catatan jurnalistik saya menulis tidak berkorelasi. Apa cukup naturalisasi pemain, merupakan cara untuk meningkatkan level Timnas Indonesia tingkat Asia dan dunia?. Apa sudah pernah diuji kualitas pemain lokal di Liga 1 dan Liga 2, belum sesuai harapan dibanding pemain naturalisasi?

Mengapa PSSI era Erick, tidak fokus ke pembinaan pemain muda. Khususnya untuk mencari pemain masa depan.

Baca Juga: Libur Lebaran 10 Hari, Holiday Anomali

Apakah pantas, Erick dicap kurang membangun jiwa nasionalisme enggan mengandalkan pemain lokal untuk membela Timnas Indonesia.

 

***

 

Catatan jurnalistik saya mencatat sampai saat ini Indonesia masih jadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang pernah tampil di Piala Dunia. Ini terjadi di Piala Dunia 1938 yang berlangsung di Prancis. Saat itu tak ada pemain naturalisasi. Saat itu, Indonesia masih menyandang nama Hindia Belanda. Pemain yang ikut serta pun dari berbagai macam etnis, termasuk ada beberapa pemain dari Belanda.

Sayangnya, saat itu Indonesia langsung kalah 0-6 dari Hungaria pada laga pertama. Hongaria merupakan satu di antara kekuatan sepak bola Eropa saat itu.

Kemudian pada era 1980-an, juga dicatat era keemasan sepak bola Indonesia. Dan tanpa pemain naturalisasi.

Tahun 1986, ada prestasi membanggakan yang diraih Timnas Indonesia tanpa pemain naturalisasi. Tahun itu, Timnas Indonesia nyaris lolos ke Piala Dunia di Meksiko. Indonesia saat itu memasuki fase kedua kualifikasi Piala Dunia 1986 zona Asia.

Sayang, pada laga penentuan, Indonesia kalah 1-6 dari Korea Selatan. Padahal kemenangan atas Korsel akan otomatis mengantarkan Bambang Nurdiansyah dan kolega ke Meksiko.

Korea Selatan lagi-lagi jadi momok bagi Indonesia. Juga di ajang Asian Games 1986 yang berlangsung di ibu kota Korea Selatan, Indonesia lolos ke semifinal.

Pada fase empat besar itu, Timnas Indonesia justru kalah 0-4 dari Korea Selatan. Ricky Yacob dan kawan-kawan sebenarnya berpeluang membawa pulang medali perunggu di ajang tersebut.

Namun, pada laga perebutan medali perunggu, Indonesia kalah dari Uni Emirat Arab dengan skor telak 0-5.

Tercatat, medali emas SEA Games 1987 adalah penutup era emas Timnas Indonesia di era 1980-an. Saat itu medali emas diraih dengan cukup manis.

Baca Juga: Ahli-ahli Beberkan Rasionalitas Dugaan Pemilu tak Jurdil

Selain diraih saat Indonesia menjadi tuan rumah, medali emas itu juga didapatkan Tim Merah-Putih dengan mengalahkan rival abadi, Malaysia di final. Juga pemain naturalisasi.

Satu-satunya gol kemenangan Indonesia atas Malaysia, dicetak oleh Ribut Waidi.

Medali emas kedua Indonesia di ajang SEA Games diraih pada 1991 lalu. Saat itu kota Manila di Filipina jadi tuan rumah SEA Games 1991. Di babak final, Timnas Indonesia mengalahkan rival mereka yang lain, Thailand. The War Elephant ditaklukkan lewat babak adu tendangan penalti.

Sayangnya, itu adalah gelar juara level internasional terakhir yang diraih Indonesia. Belakangan, Timnas Indonesia identik dengan "prestasi lain" yakni enam kali menjadi juara kedua alias runner-up Piala AFF.

Halo Erick Thohir, Anda baca catatan jurnalistik saya ini, agar jiwa nasionalisme Anda tidak diragukan oleh pecinta sepak bola di tanah air.

Ingat! Eks Pelatih Timnas Indonesia U-19 Fakhri Husaini, pernah menyindir PSSI terkait rencana naturalisasi besar-besaran untuk Piala Dunia U-20 2021 di Tanah Air.

Dengan ramai wacana pemain naturalisasi untuk Timnas U-19 di Liga 1, Fakhri mengkritik lagi.

"Jika memang PSSI sudah kehilangan rasa percaya dirinya terhadap para pemain lokal, serahkan saja status tuan rumah Piala Dunia U-20 kepada negara lain," kritik Fakhri di Instagram setelah banyak wartawan meminta pendapatnya.

Catatan jurnalistik saya menyebut, saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (04/03/2021), Presiden RI Joko Widodo, pernah minta Kementerian Perdagangan harus mempunyai kebijakan dan strategi yang tepat untuk mengembangkan pasar produk dalam negeri.  Salah satunya melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI).

Satu tahun kemudian, Presiden Joko Widodo mengajak masyarakat mencintai produk-produk buatan dalam negeri. Utamanya berbagai produk kerajinan lokal yang dapat memajukan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) milik masyarakat. "Saya mengajak masyarakat untuk mencintai produk-produk produksi dalam negeri utamanya produk kerajinan. Ini akan memajukan para perajin kita, memajukan UMKM kita," ujar Jokowi saat membuka The Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2022 di Jakarta Convention Center, Rabu (23/3/2022).

Dengan adanya warning presiden dua tahun berturut-turut, kok tidak menggugah nasionalisme Erick Thohir, percaya diri isi semua pemain timnas Indonesia, asli pemain Indonesia.

Saya masih ingat seseorang yang meragukan kemampuan dirinya adalah inferiority complex.

Semoga Erick Thohir yang tidak mau menjalankan pesan Presiden tidak mengalami gangguan kepribadian yang membuat kehilangan rasa percaya dirinya, baik kehidupan intelektualnya sosialnya, dan fisiknya. Semoga. ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU