Meski Ekspor Impor Naik, Pakar Sebut Masih Minus

Kegiatan ekspor impor naik. SP/ mahbub fikri

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Sejak masifnya penyebaran Covid-19 di seluruh dunia, pertumbuhan laju ekonomi dan sosial masyarakat menjadi sektor yang terkana imbasnya.

WHO bersama International Labour Organization (ILO), Food and Agriculture Organization (FAO) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) pada Oktober 2020 lalu menyatakan bahwa disrupsi sosial ekonomi akibat Covid-19 amat besar. Puluhan juta orang dapat jatuh menjadi amat miskin. Jumlah orang kurang gizi di dunia pada akhir tahun lalu menembus angka 822 juta orang.

Dunia usaha mengalami tantangan amat berat. Sekitar setengah dari 3,3 miliar pekerja di dunia menghadapi risiko kekurangan uang dan atau kehilangan pekerjaan dalam berbagai tingkatannya. Sektor ekonomi informal juga terpukul hebat. Jutaan petani di dunia, begitu juga pekerja migran menghadapi situasi ekonomi yang berat dengan berkurang atau bahkan hilangnya penghasilan mereka.

Pada suatu webinar pertengahan Desember 2020 yang lalu ini pihak Asian Development Bank (ADB) menyampaikan bahwa ekonomi negara-negara berkembang di Asia diperkirakan akan mengalami kontraksi sampai 0,4% di tahun 2020. Sebuah penurunan yang nyata dari pertumbuhan 5,1% di tahun 2019. Ini adalah kontraksi besar di kawasan ini dalam enam dekade terakhir ini.

Ekspor Jatim Meningkat

Mengaca pada pertumbuhan ekspor impor di Jawa Timur, data dari Badan Pusat Statistik Jawa  Timur mencatat kenaikan ekspor per Maret 2021 dengan nilai mencapai USD 2,00 miliar atau naik sebesar 17,94 persen dibandingkan Februari 2021. Nilai tersebut naik sebesar 1,17 epersen dibandingkan Maret 2020.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik BPS Jawa Timur Dadang Hardiwan, Ekspor nonmigas Maret 2021 mencapai USD 1,84 miliar atau naik sebesar 22,45 persen dibandingkan Februari 2021. Akan tetapi nilai tersebut dibandingkan Maret 2020 turun sebesar 4,95 persen. 

"Ekspor migas Maret 2021 mencapai USD 161,69 juta atau turun sebesar 16,90 persen dibandingkan Februari 2021. Akan tetapi nilai tersebut naik sebesar 279,98 persen jika dibandingkan Maret 2020," jelasnya saat melakukan realese beberapa waktu lalu.

Golongan barang utama ekspor nonmigas Maret 2021 adalah Lemak dan Minyak hewan/nabati (HS 15) dengan nilai sebesar USD 189,30 juta, disusul Kayu dan Barang dari kayu (HS 44) dengan nilai sebesar USD 148,45 juta, serta Tembaga (HS 74) dengan nilai sebesar USD 142,30 juta. 

Adapun negara tujuan ekspor nonmigas terbesar pada Januari - Maret 2021 adalah Jepang mencapai USD 777,70 juta (dengan peranan 16,44 persen) disusul ekspor ke Amerika Serikat sebesar USD 748,46 juta (dengan peranan 15,82 persen) dan ke Tiongkok sebesar USD 581,69 juta (dengan peranan 12,30 persen).

Ekspor nonmigas ke kawasan ASEAN mencapai USD 860,08 juta (dengan kontribusi sebesar 18,18 persen),sementara ekspor nonmigas ke Uni Eropa sebesar USD 416,78 juta (dengan kontribusi sebesar 8,81 persen).

Impor Jatim Pada Maret 2021 Naik 25,87%

Sedangkan untuk nilai impor Jawa Timur pada bulan Maret 2021 mencapai USD 2,36 miliar atau meningkat sebesar 25,87 persen dibandingkan Februari 2021. Angka ini meningkat sebesar 31,64 persen dibandingkan Maret 2020. 

Impor nonmigas Maret 2021 mencapai USD 1,76 miliar atau naik 14,98 persen dibandingkan Februari 2021. Nilai impor nonmigas tersebut mengalami peningkatan sebesar 18,07 persen dibanding Maret 2020. 

"Impor migas Maret 2021 sebesar USD 593,28 juta atau naik sebesar 75,23 persen dibanding Februari 2021. Dibandingkan Maret 2020, nilai tersebut juga mengalami peningkatan sebesar 100,02 persen."jelasnya.

Golongan barang utama impor nonmigas bulan Maret 2021 adalah golongan barang Ampas/Sisa industri makanan (HS 23) sebesar USD 204,43 juta, berikutnya golongan barang Besi dan Baja (HS 72) senilai USD 150,35 juta dan golongan barang Mesin-mesin/Pesawat mekanik (HS 84) sebesar USD 143,40 Juta. 

Signifikansi Peningkatan Ekspor dan Impor

Sementara itu, menanggapi nilai ekspor impor yang meningkat memasuki pertengahan tahun ini, Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jawa Timur, Adek Dwi Putranto mengatakan jika dampak dari meningkatnya nilai ekspor impor di Jawa Timur akan sangat terasa untuk masyarakat, khususnya para pelaku ekonomi yang selama ini mengalami kesulitan saat masa pandemi.

"Prinsipnya berarti dengan adanya ekspor yang meningkat, pasar internasional kan kembali terbuka. Tentunya hal ini memiliki konsekuensi meningkatkan produksi untuk kebutuhan ekspor," katanya.

Adek menambahkan, akibat dari meningkatnya produksi dalam negeri, tentu akan menyerap banyak tenaga kerja yang dibutuhkan oleh produsen.

"Kan tentunya kalau seperti itu bisa menyerap tenaga kerja dan normal kembali. Ini berimbas pada pemulihan dan pertumbuhan ekonomi. Banyak yang akan hidup kembali, dari transportir, produksi dan lain sebagainya," paparnya.

Pengaruh ekonomi, katanya menambahkan, tidak hanya akan berpengaruh secara signifikan terhadap pelaku usaha yang sudah besar, namun juga akan berpengaruh kepada pelaku UMKM.

"Tentu berpengaruh, kan bahan pokoknya sudah ada, pasar internasional sudah dibuka, tentu mereka akan dapat barang yang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan," pungkasnya.

Senada dengan hal itu, pakar ekonomi dari Universitas Airlangga, Imron Mawardi menyatakan jika pemulihan ekonomi berangsur membaik.

"Kalau ekspor impor naik, mengindikasikan bahwa ekonomi perlahan membaik. Sementara ini kan impor kita itu bahan baku, kalau bahan baku nanti dioleh oleh industri-industri," ungkapnya.

Sementara untuk ekspor sendiri, Imron mengatakan jika sebenarnya kita tertolong dengan naiknyah harga komoditi.

"Harga komoditi kan naik rata-rata. Ini membantu ekspor kita," imbuhnya.

Sementara untuk prediksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini, Imron berasumsi jika pertumbuhan untuk tahun ini masih belum akan normal. Namun hal tersebut akan berangsur membaik. "Pertumbuhan kita mungkin ada di kisaran 4,3 sampai 4,8 persen," katanya. 

"Untuk triwulan pertama tahun ini overall kita masih minus, tapi untuk triwulan kedua kita akan membaik jika dilihat dari pertumbuhan ekonomi saat ini," pungkasnya. (fm)