Pasar Turi Baru akan Maju, Bila Tinggalkan Ego

H. Syukur, perwakilan pedagang Pasar Turi menerima tumpeng dari Wali Kota Eri Cahyadi.

Miming,  Bos Hotel Wyndham Surabaya “Investor” Baru Pasar Turi Baru

 

 

 

 

Taipan-taipan Surabaya yang Terlibat Sengketa Pasar Turi Baru ;  Cen Liang (aktor utama), Turino Junaedi dan Totok Lusida (Join Operation), Aswi alias Heng Hok Soei (Pamodal) dan Teguh Kinarto (Pemberi utang)

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Miming atau Haryono Winata, Bos Hotel Wyndham Surabaya, ternyata pengusaha dibalik penyatuan taipan taipan  Investor Pasar Turi Baru, bersama pedagang pasar turi korban kebakaran dan pemerintah kota. Doktor ilmu keuangan lulusan Amerika Serikat ini dibantu Kho Wefan alias PW Afandi, dan La Nyalla Mataliti. Trio ini adalah pria yang “menjinakkan” ego para taipan yang berkongsi membangun entitas PT Gala Bumi Perkasa.

Tatang Istiawan, wartawan Surabaya Pagi, orang pertama yang diajak Miming, untuk menyatukan taipan yang ditunjuk Pemkot Surabaya, menjadi investor Pasar Turi Baru. “Ngapain cari uang mesti ngakali pedagang. Pasar Turi ini kan aset kota Surabaya. Mas, ajak chino chino yang kelola Pasar Turi jangan serakah, apalagi ngakali pedagang. Yuk kita bersatu tinggalkan ogonya demi kemajuan kota Surabaya,” kata anak pengusaha properti Winata, suatu sore di lobi hotel yang berlokasi di Jl. Basuki Rahmad Surabaya, kepada Tatang Istiawan.

Dalam diskusi sore itu, pembeli 1.664 stan dari Almarhum Henry J Gunawan, ini sependapat dengan analisa Tatang Istiawan, bahwa kongflik ini didasarkan sifat serakah dan rakus dari taipan yang pegang kendali PT Gala Bumi Perkasa.

Taipan-taipan yang terlibat dalam pusaran pembangunan Pasar Turi baru selain Cen liang alias Henry J Gunawan, ada H. Turino Junaedi, Totok Lusida, Teguh Kinarto, Aswi alias Heng Hok Soei

atau Shindo Sumidomo. Tiga taipan yang disebut pertama terlibat dalam perkongsian atau Join Operational. Dua taipan terakhir, pengusaha yang diutangi Cen Liang.

 

Biaya Operasional Rp 68 Miliar

Taipan Aswi, bos Siantar adalah pengusaha yang diutangi Cen Liang, sebesar Rp 68 miliar. Dana ini untuk dana taktis dan operasional awal saat akan ada perjanjian dengan Pemkot tahun 2010 lalu.

Siapa saja pejabat Pemkot yang mendapat semburan dana Rp 68 miliar,  namanya sempat diusik oleh para taipan itu sendiri.

Sedangkan dengan taipan Teguh Kinarto, terkait utang piutang dengan bunga.

Hasil investigasi dan under cover wartawan senior Tatang Istiawan, menemukan bahwa sengketa yang panjang ini semuanya dibiayai para taipan ini.

Salah satu taipan yang jadi JO membiayai pedagang untuk melawan Cen Liang. Termasuk biaya umroh sejumlah pedagang Pasar Turi yang ngotot tempati TPS. Makanya konflik terkait pembagian cuan ini berlangsung panjang, sebab kuat-kuatan para taipan membiayai konflik. “Bila Henry tidak meninggal, pasar turi belum tentu bisa kondusif di resmikan walikota eri, tanggal 21 Maret kemarin,” kata seorang pengusaha Surabaya.

Praktis uang jualan stan digunakan peluru berperkara di berbagai instansi dan biaya lawyer.

 

 

Sowan ke Kho Wefan

Makanya masuk akal bila Miming, awal turun urus Pasar Turi baru, sowan ke Kho Wefan, taipan sekelas Tommy Winata yang ada di Surabaya.

 Dalam pertemuan itu, kedua tokoh Tionghoa ini sepakat kembangkan bisnis Pasar Turi dengan konsep cingli dan profesional yaitu tidak akan teruskan policy almarhum Henry J Gunawan yang dikritik pedagang dan pejabat Pemkot Surabaya serta komunitas Tionghoa Indonesia. Baik Miming maupun Kho Wefan, sepakat mengajak La Nyalla Matalitti, tokoh pemuda yang pernah dimintai bantuan Henry J Gunawan, selesaikan konflik antara dirinya dengan taipan Turino Junaedi dan Totok Lusida. Terjadilah “kesepakatan Seruni” antara Miming, Kho Wefan dan La Nyalla.

Setelah rapat informal dan formal dengan Pemkot, Kejaksaan, Polri dan KPK, dua taipan kongsi almarhum Cen Liang yaitu H. Junaedi dan Totok Lusida, bersedia melebur dengan semangat pengusaha nusantara yang mau tinggalkan ego. Juga adik almarhum Henry J Gunawan yaitu Candra Gozali serta istri sambungan Henry, ikuti norma hukum bisnis.

Dalam kesepakatan ini juga sampai dibuat moratorium untuk buang ego. “Tanpa buang ego para taipan, peresmian Pasar Turi baru tanggal 21 Maret, tidak bisa terwujud,” kata Tatang Istiawan, yang juga dikenal konseptor perjuangan pedagang Pasar Turi melawan Almarhum Henry J Gunawan. Tatang ikut demo dan dialog dengan Walikota Risma dan pimpinan DPRD Surabaya. Tatang ikut protes bersama Santoso Tedjo dan pedagang sampai di Jakarta.

 

Moment Tepat

Dalam pembukaan Pasar Turi baru Senin (21/3/2022), Walikota Eri menyempatkan diri memberi potongan tumpeng ke H. Syukur, wakil pedagang Pasar Turi Baru.

Sejumlah pedagang rasan-rasan, mengapa bukan H. Taufik, pedagang keturunan arab asal Sidoarjo. Konon, stan H. Taufik sudah dijual. H. Taufik, dikenal andalan taipan lawan almarhum Henry J Gunawan.

Mengapa pilihan terima tumpeng, mesti H. Syukur. Ada yang bilang pria kelahiran Madura ini disegani pedagang yang jualan di TPS.

Sebagai Wakil pedagang yang menerima potongan tumpeng dari Wali kota Eri, para pedagang mengakui H. Syukur, selama ini dikenal paling keras dan vokal menolak kebijakan investor PT Gala Bumi Perkasa, almarhum Henry J Gunawan.

H. Syukur, yang berpeci putih, menggenakan baju koko putih dan bersarung, tak henti-hentinya mengurai air mata. Berkali kali, pria asal Madura menengadahkan kedua tangannya, saat walikota Eri, berdoa.

H. Syukur juga beberapa kali menyeka air mata sambil terisak. ”Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada pak Wali (Eri Cahyadi). Pasar Turi bisa beroperasi lagi. Saya terharu, perjuangan selama ini, bisa didengar oleh pak Wali,“ kata H. Syukur usai tasyakuran.

 

Pesan Wali kota Eri

Sementara, dalam sambutannya, Wali kota Eri berpesan, hendaknya Pasar turi baru sekarang dan mendatang dijalankan dengan kebersamaan dan jauhkan sifat-sifat ego.

Sekretaris Paguyuban pedagang M. Elham, saat ditemui Surabaya Pagi usai peresmian dan sedang memindah barang-barang yang berada di TPS, merasa senang dan bangga bisa berjualan di stan gedung yang megah.

"Kita manut dengan wali kota dan siap berjualan lagi di dalam gedung. Para pedagang berharap wali kota memberi jaminan para pedagang yg di eks TPS ini bisa ikut berjualan lagi," harap Elham.

 

Bongkar secara Mandiri

Usai pengajian, sejumlah pedagang Pasar Turi baru yang masih ngemper di Tempat Penampungan Sementara (TPS) beramai ramai mengemasi barang dagangannya secara mandiri.

SURABAYAPAGI.com memantau, suasana pembongkaran berjalan kondusif. Kekhawatiran investor bakal ada perlawanan dari pedagang yang di TPS, tidak terbukti.

Padahal sejak semalam, Pemkot menurunkan beberapa truk berisi personil Satpol PP yang disertai petugas dari Polri.

”Ternyata ada kesadaran tinggi dari para pedagang. Alhamdulillah, pedagang bersikap dewasa dan kooperatif," Komentar petugas Satpol PP Pemkot Surabaya, yang ditemui Surabaya Pagi, berjaga di posko depan kantor Pemadam Kebakaran (PMK) yang persis di barak TPS yang sudah reot. n er, rmc