Pasien Covid-19 Alami Penurunan Kecerdasan

Pasien Covid-19 yang mengalami gangguan neurotik akibat Long Covid-19. SP/ SBY

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Menurut riset terbaru, pasien dan mantan Covid-19 terbukti mengalami penurunan kecerdasan dan IQ akibat gangguan kesehatan jangka panjang virus corona atau Long Covid-19, bagi penyintasnya. Penelitian ini telah terbit di jurnal The Lancet.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti hendak mengkonfirmasi hubungan Covid-19 dan kinerja kognitif pasien corona. Riset ini mencakup 81.337 relawan yang diberi tes kecerdasan antara Januari dan Desember 2020. Dari seluruh sampel, 12.689 relawan melaporkan pernah mengalami Covid-19, dengan tingkat keparahan pernapasan yang bervariasi.

Penurunan kecerdasan terbesar mantan pasien corona umumnya terlihat pada tes yang membutuhkan penalaran, perencanaan, dan pemecahan masalah. Penurunan kecerdasan yang lebih besar bahkan dilaporkan mantan pasien corona yang punya riwayat stroke dan gangguan belajar.

Temuan tersebut sejalan dengan "laporan Long Covid, di mana 'kabut otak', kesulitan berkonsentrasi, dan kesulitan menemukan kata-kata yang benar adalah hal biasa (ditemukan pada penyintas corona)," kata para peneliti, Rabu (28/7/2021).

Selain itu, temuan yang dibuat peneliti neurosains di Imperial College London, Adam Hampshire menambah daftar panjang temuan gangguan otak yang dialami mantan pasien corona.

“Secara kebetulan, pandemi meningkat di Inggris di tengah ketika saya mengumpulkan data kesehatan kognitif dan mental dalam skala yang sangat besar sebagai bagian dari kolaborasi BBC2 Horizon, the Great British Intelligence Test,” kata Hampshire.

Pada Juni 2021, kelompok peneliti asal Inggris juga menemukan bahwa penyintas Covid-19 mengalami penyusutan otak pada materi abu-abu (grey matter). Ini merupakan bagian di otak yang mengontrol semua fungsi otak kita, mulai dari gerakan, memori, dan emosi. Kelainan pada grey matter otak dapat mempengaruhi keterampilan komunikasi dan sel-sel otak.

Hingga saat ini para peneliti masih belum tahu bagaimana mekanisme virus corona dan penyakit Covid-19 dapat mengganggu otak manusia. Hal ini dapat dipahami karena virus corona SARS-CoV-2 merupakan virus yang relatif baru, dan para peneliti masih memerlukan lebih banyak waktu untuk memahami dampak yang dihasilkan olehnya pada tubuh manusia.

Meski demikian, dengan bertambahnya riset yang menemukan gangguan otak dan organ lainnya pada pasien corona, para peneliti memberikan satu pesan yang tegas: jangan ambil risiko untuk kena corona. Dsy10