Resign Kerja Migas, Sukses Geluti Dunia Kayu Belanda

Eko Tarkinandar. SP/ BJN

SURABAYAPAGI.com, Bojonegoro - Memiliki cita-cita berbisnis sejak kecil membuat Eko Tarkinandar harus memberanikan diri untuk memilih resign bekerja di sektor minyak dan gas bumi (migas) ke luar Jawa pada 2009-2015. Eko Tarkinandar menggeluti perajin jati belanda pada 2016. Bisa dibilang merupakan pionir perajin jati belanda di Bojonegoro.

Eko menerangkan, bahwa jati belanda bukan kayu jati. Tapi, kayu pinus impor dari negara-negara empat musim. Karena berasal dari luar negeri, banyak orang selalu mengasosiasikan luar negeri itu belanda. Sehingga banyak orang mengenal dan menyebutnya jati belanda.

“Jati belanda itu lebih murah dibanding kayu jati asli atau kayu Kalimantan. Namun dari segi tampilan, serat kayunya juga bagus. Tidak murahan,” katanya.

Dibanding kekuatannya, jati belanda tentu kalah dengan kayu jati dan kayu Kalimantan. Sehingga, jati belanda lebih dijadikan furnitur interior rumah, kantor, toko, maupun kafe.

Namun, sebelumnya ia juga sempat didera masa-masa sulit. Pihak keluarga kurang mendukungnya. Pesimistis muncul karena bisnis kafe maupun kayu sering merugi. Tetapi Eko tetap bertahan dan optimistis. Menjadi perajin jati belanda hanya modal Rp 500 ribu dan lahan samping rumah mertuanya.

Karena saat itu uangnya tersedot modal buka kafe. Akhirnya, ia menggandeng salah satu temannya. Modalnya ditambah Rp 3 juta. Jadi, berawal dari total modal Rp 3,5 juta itu, kini omzetnya bisa ratusan juta per bulan.

Perjalanan merintis bisnis tak ada yang mudah. Ia awalnya garap sendiri tiap ada pesanan masuk. Bisnisnya makin berkembang dan merekrut 18 karyawan. Dia mengembangkan usahanya dengan mengombinasikan besi dan triplek HPL (high pressure laminate).

Saat bisnisnya mulai stabil, Eko pernah tertimpa musibah pada medio 2017. Gudang kayunya dilahap si jago merah. Kerugian diperkirakan Rp 70 juta. Banyak pesanan akhirnya tertunda karena hangus terbakar. Ia bangkit dengan meminta tolong para pemesannya mengirim uang dulu untuk beli alat dan bahan.

Nahasnya, selang empat bulan gudangnya hampir saja kebakaran lagi. Untungnya sebelum api membesar, ia mencium bau kayu terbakar. Ia tak ingin mengusut lebih jauh penyebab kebakaran. Hanya, menegaskan seluruh karyawannya lebih hati-hati apabila membuang puntung rokok.

Berkat keuletan dan ketekunan Eko, kini pesanan datang dari berbagai kota seputaran Jawa Timur seperti Malang dan Kediri. Lalu, Pati, Jawa Tengah; Padang, Sumatera Barat; bahkan hingga Papua. Paling banyak pesan meja kursi untuk interior. Tetapi kadang juga bikin kitchen set, meja bar, pigura. Dsy4