•   Sabtu, 7 Desember 2019
Bisnis Makro

Faida Jadi Pembicara di Seminar Kementerian Keuangan dan World Bank Group

( words)


SURABAYAPAGI.com, Jember- Patut dibanggakan, bupati perempuan pertama di Jember, dr. Hj. Faida, MMR menjadi salah satu pembicara dalam seminar yang diselenggarakab Kementerian Keuangan bekerjasama dengan World Bank Group, Kamis (2/8/2018). Bertempat di Hotel Sheraton Surabaya, seminar berskala internasional ini dihadiri langsung oleh 2 menteri sekaligus, yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Perlindungan Anak dan Perempuan Yohana Susana Yembise, yang bertema Women’s Participation for Economic Inclusiveness.

Duduk bersebelahan dan memberikan materi soal perempuan, Bupati Faida menyampaikan presentasibya bersana 5 panelis lainnya, yang rata-rata adalah penggiat perjuangan perempuan berskala internasional. Mereka adalah Nurhaida dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rubin Japhta dari SME Asia Tenggara, Vivi Alatas dari World Bank Group, Sabine Muchl dari perwakilan PBB untuk perempuan wilagah ASEAN dan Philia Wibowo dari NGO internasional. Seminar ini juga dimoderatori oleh mantan Puteri Indonesia, Zivan Letiska.
Dalam rilisnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyatakan bahwa dari penghitungan Wolrd Bank Group, saat ini masih ada kesenjangan hak perempuan setidaknya 15%. "Jika kita bisa menurunkan angka kesenjangan ini, pendapatan masyarakat akan jauh lebih tinggi dan salah satunya adalah melalui kebijakan keuangan yang mendukung eksistensi perempuan," ujarnya. Pihaknya juga meyakini bahwa jika kesempatan kerja dan peluang finansial diperluas untuk perempuan, maka potensi perkembangan perekonomian secara makro akan meningkat.
"Kita menghitung, jika tidak ada percepatan peluang untuk perempuan, maka kita butuh waktu setidaknya 200 tahun untuk setara dengan negara-negara maju, tetapi jika peluang perekonomian perempuan diperluas, setidaknya kita bisa percepat menjadi 30 tahun," lanjutnya.
Senada, Menteri Perlindungan Anak dab Perempuan, Yohana Susana Mambise menegaskan bahwa Indonesia terpilih dari 10 negara di dunia oleh PBB sebagai negara pioner kesetaraan gender.
"Indonesia punya kompleksitas agama yang kuat, dan peran perempuan sebagai pilar, sehingga peran agama dalam hubungannya dengan perempuan ini memiliki peran yang tinggi," ungkapnya.
Selain itu, tingginya potensi peran perempuan di Indonesia, akhirnya menjadikan Indonesia menjadi salah satu pioner yang dipilih oleh PBB untuk mewujudkan ’World 50:50’.
"Kita carikan formulasi dalam seminar ini, supaya kesenjangan gender yang terjadi di Indonesia bisa segera terselesaikan," tambahnya.
Sementara Bupati Faida memaparkan penguatan peran perempuan bisa dilakukab dengan beberapa hal. "Dari kebijakan pemerintah, keikutsertaan lembaga-lembaga perempuan dalam bersinergi dengan pemerintah, manajerial seperti melatih perempuan secara riil, dan yang tidak kalah penting adalah kesehatan perempuan yang prioritas," katanya. Hal yang sudah dilakukan di Jember misalnya adalah dengan mengedukasi perempuan untuk lebih banyak menempati peran-peran politik, pemerintahan dan managerial.
"Perempuan tercatat memiliki record yang bagus untuk urusan bisnis dan catatan bank, tidak ada penunggak nakal dari perempuan. Artinya tingkat tanggungjawab dan kejujurannya tinggi, sehingga layak untuk dikembangkan agar potensi mereka bisa meminimalisir kesenjangan gender," pungkasnya. Tak lupa, Bupati Faida juga mempopulerkan potensi Jember, seperti JFC yang sebentar lagi diselenggarakan.ndik

Berita Populer