Prediksi Saya, MA akan Menang Taklukan Ambisi Risma

author surabayapagi.com

- Pewarta

Senin, 27 Jul 2020 21:41 WIB

Prediksi Saya, MA akan Menang Taklukan Ambisi Risma

i

Dr. H. Tatang Istiawan

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Bila ternyata rekomendasi dari DPP PDIP memang jatuh ke Eri Cahyadi. Bisa dinyatakan Ery Cahyadi, maju pilkada Surabaya tahun 2020, tapi bukanlah incumbent.

Dalam status seperti itu secara politis, ia tidak diuntungkan. Karena ia mengekor Risma, yang menjadi sponsorshipnya. Eri Cahyadi, birokrat muda hasil karbitan Risma. Maklum

Baca Juga: Gugatan Ditolak MK, MA Legowo

selama menjadi birokrat di Pemkot Surabaya, Eri Cahyadi, saya telusuri tak punya kinerja membanggakan warga kota. Dengan kinerja seperti ini Eri, secara nalar berpotensi tidak akan menang menghadapi MA, seorang pensiunan jenderal yang pernah mengelola kamtibmas provinsi Jatim.

Beda dengan Eri Cahyadi yang kinerjanya tingkat lokalan Pemkot Surabaya. Seperti saya sebut pada awal tulisan, Eri Cahyadi bisa maju pilkada karena dikarbit dan ‘’mengandol’’ kinerja Risma, atasannya di instansi Pemkot Surabaya. Apalagi, temuan Litbang harian Surabaya Pagi, Risma, selama dua periode menjabat Walikota Surabaya, tercatat ada 10 kekurangan dan kelemahan Risma. (akan saya tulis tersendiri).

Diantara 10 masalah itu, ada yang berpotensi melakukan penyalagunaan kewenangan atau menguntungkan suatu korporasi.

Lalu apa yang salah kalau warga kota Surabaya pada akhirnya tidak memilih Eri Cahyadi, jago incumbent Risma ? Tapi memilih  MA, yang  kinerjanya selama di kepolisian benar? Toh,salah satu tujuan Pilkada adalah mencari pemimpin berkualitas.

Justru yang sekarang ini banyak diperdebatkan adalah kinerja petahana mengatasi sebaran pandemi covid-19. Mengingat, incumbent konon mengunakan bansos untuk memobilisasi pemilih berdalih covid-19.

Bagi warga kota yang melek politik punya paham bahwa  bansos, apapun mereknya, sudah ada jauh sebelum ada virus corona.

Saya menyerap bansos sampai hari ini menjadi ‘ancaman’ tersendiri bagi incumbent. Sebab di survei SMRC di awal bulan Mei menujukkan ada  49% warga yang mengatakan bansos disalurkan dengan tidak tepat sasaran.

Situasi seperti ini bisa dikapitalisasi untuk men-downgrade Risma bersama Eri. Apalagi dalam beberapa kali, Eri, yang masih birokrat, “berani” turun ke sejumlah kampung membawa bingkisan ke warga, saat PSBB.

Nah, bila pandemi virus corona di Surabaya, terutama, sampai 9 Desember belum reda atau hilang, praktik seperti money politics, bisa naik dan bisa turun.

Prediksi menurun, karena cawali-cawawali tidak bisa bertatap muka secara langsung. Tetapi bisa jadi mereka blusukan silahturahmi door to door menyelipkan amplop.

***

Sampai menjelang akhir Juli ini, Eri Cahyadi, dalam berinteraksi dengan warga kota, praktis masih malu-malu. Ini berbeda dengan Irjen (Purn) Machfud Arifin (MA).

Mantan Kapolda Jatim yang didukung delapan parpol, bisa terus menyapa warga kota dari semua lapisan . Ini artinya MA telah bergerak lebih cepat dari cawali yang diusung PDIP.

Inilah kelemahan PDIP yang ‘’jual mahal’’ tidak segera menurunkan rekomendasi ke cawali Surabaya. Padahal pilkada di Kabupaten dan Kota lain di provinsi Jawa Timur rekomendasi dari Megawati sudah turun dan diproses KPU setempat.

Apakah ini strategi dan taktik dari DPP PDIP atau siasat Risma? Walahualam. Bisa jadi rekomendasi dari Megawati akan turun saat injury time.

Dalam politik, injury time berbeda dengan sepakbola. Politik injury time adalah keputusan menjelang akhir batas waktu kampanye. Politik injury time adalah keputusan politik lust minute. Bisa jadi DPP PDIP atas masukan dari daerah, mengintip gerakan MA, termasuk dalam memilih wakilnya.

Makanya, saat ini, MA, masih belum mengambil keputusan memilih pendamping politik dalam Pilkada serentak di Surabaya. Padahal, ia telah disodori beberapa nama dari parpol pendukungnya.

Praktis, Eri Cahyadi yang didukung Risma, sampai Juli ini ibarat orang pacaran sedang mempraktikan back-street.

Berbeda dengan MA, tiap hari bisa deklarasi dengan parpol, ormas dan komunitas dimana-mana. Dengan mengantongi dukungan delapan parpol, MA, bisa membuka diri menerima dukungan dari kelompok mana pun. Mengingat, jumlah parpol di Surabaya, yang belum merapat padanya tinggal PSI dan PDIP.

Kegiatan deklarasi, senam bersama dan nyangkruk adalah kreativitas tim relawan MA, dalam menyapa warga kota. Ini sah, karena ia tidak sedang berkampanye.

Hasil survei litbang Surabaya Pagi sampai tanggal 16 Juli, perolehan suara MA sudah 46%. Sisa waktu enam bulan, dulangan suara untuk cawali MA, prakiraan saya bisa diatas 70%. Ini bila mesin politik delapan parpol dan gerakan relawannya solid berkreasi.

Baca Juga: MA Berharap Keadilan Substansial, Eri Yakin Gugatan MA Ditolak

Survei Litbang harian Surabaya Pagi menggunakan metode Multistage random sampling dengan jumlah responden 600, margin of error ± 5%.Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka dan medsos menggunakan kuesioner, periode 25 Juni-16 Juli 2020.

Prediksi saya dengan suara yang sampai pertengahan Juli sudah mencapai 46%, bisa jadi Jenderal yang hamble ini akan mengakhiri ambisi Risma yang ingin berkuasa terus di Surabaya?

Elektabilitas MA dalam enam bulan ke depan berpeluang meningkat. Ibaratnya, saat ini masih tahap pemanasan. Luar biasanya, MA bisa meraih suara hampir 50%.

Bisa jadi elaktibilitas MA ini sebuah jawaban bahwa warga kota jenuh dengan Risma, yang suka bermain drama. Praktek ini dianggap caranya mempertahankan ambisi kekuasaannya.

Apalagi selama ini Risma habis-habisan menggoalkan Eri Cahyadi, bukan Whisnu Sakti. Padahal Whisnu adalah wakilnya di Pemkot Surabaya. Whisnu juga pernah menjadi Ketua DPC PDIP Surabaya. Bahkan Whisnu di kalangan kader dan simpatisan PDIP, dikenal sebagai anak kandung tokoh PDIP Ir. Sutjipto.

Ambisi? ya orang ambisius, acapkali tidak bisa menikmati kehidupan yang agamis. Seseorang ambisius kadang rela melakukan apa saja demi mewujudkan ambisinya.

Dalam ilmu psikologi yang pernah saya baca, orang yang memiliki ambisi yang terlalu besar akan banyak menyita waktu, emosi, dan tenaganya.

Orang yang ambisi dengan kekuasaan, acapkali memiliki kesibuk luar biasa pagi-siang-malam dan tak mengenal hari libur. Orang-orang ambisius kadang tidak merasa telah kehilangan kesempatan untuk menghabiskan waktu berkualitas dengan orang-orang terdekatnya, suami, istri, anak dan cucu. Hidupnya seperti seorang single parent.

***

Hal yang saya catat, kelebihan MA, pada awal deklarasi  juga mendapat suport dari kalangan muda dan putra-putri purnawirawan TNI-Polri. Selain kader dan simpatisan Ansor dan Muhamadiyah.

Hal yang menurut perhitungan saya, MA bukan hanya memiliki logistik mumpuni. MA juga disokong puluhan pengusaha pribumi dan Tionghoa. Ditambah nyali sebagai mantan kapolda di tiga propinsi di Indonesia yang tak kalah keras dan komplek dengan kota Surabaya.

Baca Juga: MA, Minta Eri-Armuji Diskualifikasi, Cawali PDIP tak Gentar

Beberapa kali ketemu MA di posko dan rumahnya, saya terkagum-kagum dengan persiapan “perang”nya. Perang melawan covid-19, sekaligus menghadapi citra Risma-Ery Cahyadi (saya prediksi bukan Whisnu Sakti, yang mendapat rekomendasi dari Ketum PDIP Megawati).

Poskonya di Jl. Basuki Rahmad dan rumahnya Jl. WR Supratman, bak “barak militer” yang disipilkan.

Saya melihat, di dua tempat ini ada tempat meeting persis ruang konsolidasi perang. Ada monitor besar, laptop, wifi, mobil komando, logistik makanan-minuman sampai baliho dan spanduk slogan dan semboyan MA ‘’Maju Kotane, Makmur Wargane’’.

Saya pagi itu diberi penjelasan rencana besarnya kelak membangun kota Surabaya. Tentu setelah dirinya dilantik sebagai walikota Surabaya periode 2021-2026.

Konsep pembangunannya yang saya serap adalah MA ingin membangun kota Surabaya menjadi metropolitan. Saya kagum, MA yang hanya seorang polisi bisa memiliki pikiran   bak seorang arsitek perkotaan bervisi bisnis dan pariwisata.

Maklum, saat menjadi Kapolda Jatim, ia telah membangun sebuah masjid yang memiliki arsitek megah dan modern bercampur jawa dan timur tengah.

Ada kubah berjumlah tujuh. Konon masjid ini miniatur Masjid Al Falah Di Batu Licin Samarinda Kalimantan Selatan. Maklum, MA pernah menjadi Kapolda Kalsel.

Beberapa kali saya sholat Jumat di masjid area Polda Jatim Jl. A. Yani. Masjid ini memiliki keindahan, terutama pada desain arsitektur bangunannya. Dari sisi interior dan eksterior masjid begitu elegan. Saat sholat, ada hawa dingin AC persis masjidil Haram Makkah. Ada gemerlapan lampu berlapis kuning dalam nuansa Jawa modern.

Dalam Masjid ada lampu gantung khas eropa dari Kristal. Ada juga  ornamen - ornamen relif.

Malahan tulisan kaligrafi  bertebaran menghiasi sudut ruangan masjid. MA juga menanamkan tulisan asmaul husna. Tulisan ini melingkari dibagian bawah cekungan kubah.

Tak salah, konsep dan gagasannya dalam membangun kota Surabaya kelak, saya juluki ia seorang arsitek tata kota Surabaya kota metropolitan. ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU