Menkes Budi "Remehkan" Stetoskop Terkait Mendeteksi Penyakit Jantung

author Jaka Sutrisna

- Pewarta

Rabu, 19 Jun 2024 19:54 WIB

Menkes Budi "Remehkan" Stetoskop Terkait Mendeteksi Penyakit Jantung

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Dalam bulan Juni ini muncul polemik deteksi penyakit jantung menggunakan stetoskop. Pernyataan itu diduga berawal dari gaduh pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam sebuah agenda yang membahas peran AI dalam sektor kesehatan.

Menkes Budi kala itu menjadi salah satu pengisi acara. Dirinya sempat menyinggung bagaimana kemungkinan perubahan cara kerja kedokteran untuk mengatasi sejumlah penyakit tidak menular, seperti salah satunya penyakit jantung, dengan bantuan AI yakni menjadi lebih mudah, cepat dan presisi.

Baca Juga: Gagasan Menkes: Biaya Kuliah Dokter Spesialis akan Free

"Sebelumnya, dokter deteksi penyakit jantung menggunakan stetoskop, mendengarkan detak jantungnya lalu didiagnosis menderita jantung. Menurut saya ini tidak ilmiah bagaimana mungkin dokter tahu kalau itu penyakit jantung hanya dari suaranya," kata Menkes dikutip dari situs resmi Kemenkes, Kamis (6/6).

Pernyataan itu yang kemudian memicu kegaduhan.

Menkes Budi dinilai meremehkan peran stetoskop lantaran beberapa tenaga medis menilai stetoskop tetap berguna untuk pemeriksaan awal gangguan atau penyakit jantung dan pembuluh darah.

Ramai dibahas kontek Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam viral mengancam tenaga medis dalam sebuah webinar daring. Narasi tersebut ramai dibahas pasca potongan pesan atas nama dirinya berseliweran di X.

 

Keterangan Dokter RSUD

Seorang dokter di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, mengakui Stetoskop 'pintar' memang mudah digunakan untuk menyaring gagal jantung.

"Saya baca satu penelitian yang menemukan bahwa teknologi yang menggunakan kecerdasan buatan ini dapat mengidentifikasi orang yang mengidap penyakit tersebut secara akurat. Tapi sampai kini, penelitian itu belum diakui dunia kedokteran," ungkap dokter pria spesialis Jantung, Rabu siang (19/6).

Dokter yang juga berpraktik di RS swasta ini menyebut, gagal jantung berarti jantung terlalu lemah untuk memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Saat ini, kondisi tersebut biasanya didiagnosis di rumah sakit.

Dalam penelitian itu, ia sebut peneliti menggunakan stetoskop yang familiar (untuk mendengarkan bunyi jantung) dengan sensor tambahan. Ini untuk merekam EKG (elektrokardiogram, ukuran aktivitas listrik jantung). Peneliti menggabungkan kecerdasan buatan (program komputer) untuk menganalisis pembacaan EKG.

Ilmu yang dipelajari, stetoskop pintar mengidentifikasi penderita gagal jantung dengan benar sebanyak 9 dari 10 kali. "Hanya sedikit yang terlewatkan oleh stetoskop, dan hanya sedikit yang salah diidentifikasi sebagai menderita gagal jantung padahal sebenarnya tidak?" ungkapnya.

Para peneliti mengatakan alat ini dapat digunakan untuk mendiagnosis gagal jantung secara dini, di perawatan primer. Hal ini dapat membantu dokter memprioritaskan rujukan ke layanan sekunder bagi orang-orang yang membutuhkan perawatan spesialis.

 

Pernyataan Kemenkes

"Kami dari kemenkes sudah memantau dan mencatat masing2 suara dan nama yg mengikuti webinar ini. Tentunya akan memiliki konsekuensi ke depan, terutama yang ASN," demikian tangkapan layar viral pesan terkait.

 Kementerian Kesehatan RI buka suara. Pihaknya memastikan informasi tersebut keliru alias menyesatkan.

"Tangkapan layar obrolan grup rapat di atas yang mengatasnamakan pesan Budi Sadikin adalah palsu," tegas Kemenkes dalam pernyataan resminya,, Rabu (19/6/2024).

Menkes dinilai meremehkan peran stetoskop lantaran beberapa tenaga medis menilai stetoskop tetap berguna untuk pemeriksaan awal gangguan atau penyakit jantung dan pembuluh darah.

Sontak agenda diskusi yang dilakukan secara daring melalui zoom riuh dan banyak tenaga medis yang memenuhi kolom komentar.

Di situlah, akun mengatasnamakan Menkes memberikan pesan seperti ancaman atas tanggapan para peserta diskusi, yang kemudian diviralkan di X.

 

Penelitian Gagal Jantung

Dikutip dari Associated Press (27/02/2024) ilmuwan yang memimpin penelitian gagal jantung  mengatakan, sebagian besar gagal jantung disebabkan oleh penyakit jantung koroner, yaitu ketika pembuluh darah yang memasok darah ke jantung tersumbat kolestrol dan zat lainnya.

Itu juga yang menjadi penyebab utama serangan jantung.

Terdapat video yang diperlihatkan kepada Associated Press, menggambarkan sebuah jantung yang dikembangkan di laboratorium dengan usia relatif muda, sekitar 10-15 hari, dalam kondisi sehat.

Juga terdapat satu jantung lagi yang berusia sekitar 28 hari dalam kondisi tidak sehat. Kondisi itu dapat dideteksi perangkat kecerdasan buatan (AI) melalui caranya berkontraksi dan berelaksasi.

Kedua jantung itu hanya memiliki sekitar 20 ribu sampai 30 ribu sel yang disebut sebagai organoids.

 

Sebagian Besar Gagal Jantung

Akan tetapi, para ilmuwan di University of East London mengklaim keduanya sudah cukup matang untuk digunakan dalam pengembangan perangkat lunak diagnostik yang dapat membantu dokter ahli jantung mengambil tindakan jauh lebih dini.

Prashant Jay Ruchaya, ilmuwan yang memimpin penelitian itu, mengatakan, sebagian besar gagal jantung disebabkan oleh penyakit jantung koroner, yaitu ketika pembuluh darah yang memasok darah ke jantung tersumbat kolestrol dan zat lainnya.

Itu juga yang menjadi penyebab utama serangan jantung.

Namun, apa yang dilakukan Ruchaya dan timnya dalam studi mereka adalah meneliti bagaimana sel-sel dalam jantung menjadi rusak melalui proses penuaan.

"Bagi saya karena sebagai seorang dosen yang mengajar CPR, ayah saya tidak bisa mendapatkan AUD, defibrilator eksternal otomatis, di negara asal saya. Dan ini sebabnya saya meluangkan banyak waktu untuk berinvestasi di kampung halaman saya untuk mengajar CPR," kata Prashant Jay Ruchaya.

 

Teknologi AI Lacak Sel Jantung

Baca Juga: Jokowi Diajak Pecahkan, Mahalnya Harga Obat

Menurut Ruchaya, jantung yang sudah lebih dulu rusak akibat penyakit lebih mudah mengalami kegagalan, karena organ itu tidak dapat meregenerasi cukup sel untuk melawan kerusakan yang disebabkan oleh proses penuaan.

Ia dan timnya mengemukakan, melatih kecerdasan buatan untuk mengenali cara jantung berelaksasi dan berkontaksi secara rinci diharapkan dapat membantu mengindikasi apakah akan terjadi masalah pada jantung di kemudian hari.

Para ilmuwan di laboratorium kampus itu berharap hasil penelitian mereka nantinya digunakan di lingkungan klinis di mana para perawat bekerja.

Mereka mengembangkan teknologi AI yang dapat melacak sel yang sudah tua dalam jantung.

 

Perangkat Kecerdasan Buatan (AI)

Para ilmuwan juga mengembangbiakkan sel jantung di laboratorium untuk mengembangkan perangkat kecerdasan buatan (AI) yang bisa mendeteksi penyakit dalam sel-sel jantung secara lebih cepat. Tujuan akhirnya adalah untuk menciptakan perangkat lunak yang dapat mengenali penyakit melalui gambar USG atau MRI.

Dalam video yang diperlihatkan kepada Associated Press, tampak sebuah jantung yang dikembangkan di laboratorium dengan usia relatif muda, sekitar 10-15 hari, dalam kondisi sehat.

Sementara itu, terdapat satu jantung lagi yang berusia sekitar 28 hari dalam kondisi tidak sehat. Kondisi itu dapat dideteksi perangkat kecerdasan buatan (AI) melalui caranya berkontraksi dan berelaksasi.

Kedua jantung itu hanya memiliki sekitar 20 ribu sampai 30 ribu sel yang disebut sebagai organoids. Akan tetapi, para ilmuwan di University of East London mengklaim keduanya sudah cukup matang untuk digunakan dalam pengembangan perangkat lunak diagnostik yang dapat membantu dokter ahli jantung mengambil tindakan jauh lebih dini.

 

Penyebab Utama Serangan Jantung

Prashant Jay Ruchaya, ilmuwan yang memimpin penelitian itu, mengatakan, sebagian besar gagal jantung disebabkan oleh penyakit jantung koroner, yaitu ketika pembuluh darah yang memasok darah ke jantung tersumbat kolestrol dan zat lainnya.

Itu juga yang menjadi penyebab utama serangan jantung.

Namun, apa yang dilakukan Ruchaya dan timnya dalam studi mereka adalah meneliti bagaimana sel-sel dalam jantung menjadi rusak melalui proses penuaan.

Sebuah monitor kontrol terlihat selama kateterisasi jantung di Rumah Sakit Universitas Heidelberg, Jerman.

Ia mengatakan: “Salah satu hal tersulit mengenai jantung adalah kapasitas regenerasinya yang rendah. Jantung punya tingkat regenerasi sel yang sangat rendah, yaitu 1%, dan ketika kita mencapai usia 80 tahun, tingkat regenerasinya menurun hingga hampir separuhnya. Jadi, sangatlah penting untuk mencari cara mempertahankan sel jantung yang belum rusak, karena begitu mereka rusak, sangat sulit untuk mengembalikannya ke kondisi semula.”

Menurut Ruchaya, jantung yang sudah lebih dulu rusak akibat penyakit lebih mudah mengalami kegagalan, karena organ itu tidak dapat meregenerasi cukup sel untuk melawan kerusakan yang disebabkan oleh proses penuaan.

Ia dan timnya mengemukakan, melatih kecerdasan buatan untuk mengenali cara jantung berelaksasi dan berkontaksi secara rinci diharapkan dapat membantu mengindikasi apakah akan terjadi masalah pada jantung di kemudian hari.

Baca Juga: Menkes Ikuti Gaya Hidup FOMO

 

Mengintegrasikannya ke Dalam AI

Ruchaya mengatakan, “Cara mereka berkontraksi sangatlah penting, karena fungsi jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh. Maka, secara in vitro, kami meniru model tersebut dengan melihat serangkaian kontraksi sistol dan diastole serta menghitung kecepatan mereka, tingkatnya, dan juga cara dan pola mereka berkontraksi. Itu hal yang cukup baru. Dan dengan mengintegrasikannya ke dalam AI, kita bisa melihat perubahan yang sangat rumit dalam cara sistol dan diastol dilakukan. Dan seiring organ-organ ini berada di cawan petri, kami dapat memprediksi yang mana di antara mereka yang akan menua dengan sehat, yang mana yang akan menua dengan memburuk dengan melihat perubahan fisiologi yang dialami sel-sel jantung itu seiring waktu,” tambahnya.

Sementara itu, para calon perawat di kampus itu belajar cara mendeteksi penyakit jantung di lingkungan rumah sakit virtual.

Siswa diberi petunjuk cara mengoperasikan perangkat lunak yang memperlihatkan kepada mereka isi dan sisi luar jantung yang rusak.

 

Teknologi AI Lacak Sel

Dosen mereka, Kelly Thobekie Ncube, sangat tertarik pada cara untuk mengenali tanda-tanda sakit jantung, karena ayahnya meninggal akibat serangan jantung beberapa tahun lalu di rumahnya di Zimbabwe.

“Sangat mengharukan bagi saya karena sebagai seorang dosen yang mengajar CPR, ayah saya tidak bisa mendapatkan AUD, defibrilator eksternal otomatis, di negara asal saya. Dan ini sebabnya saya meluangkan banyak waktu untuk berinvestasi di kampung halaman saya untuk mengajar CPR.”

Para ilmuwan di laboratorium kampus itu berharap hasil penelitian mereka nantinya digunakan di lingkungan klinis di mana para perawat bekerja.

Mereka mengembangkan teknologi AI yang dapat melacak sel yang sudah tua dalam jantung.

 

Harapan Terhadap Teknologi AI

Menurut Institut Kanker Nasional AS, sel yang menua adalah sel yang berhenti membelah diri secara permanen namun tidak mati. Pada akhirnya, sel itu terlalu banyak menumpuk dalam organ-organ, seperti jantung.

Sel-sel itu lantas melepaskan zat berbahaya yang dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan di dekat sel-sel yang sehat.

Ilmuwan itu juga bereksperimen menggunakan obat-obatan yang berkhasiat menyingkirkan sel-sel tua sebelum menyebabkan terlalu banyak kerusakan.

Ia berharap tidak akan lama lagi teknologi AI yang mereka kembangkan dapat digunakan untuk mengidentifikasi pasien yang dapat menerima obat-obatan yang mereka ujicobakan terhadap organoids.

Ruchaya berharap teknologi AI yang ia kembangkan nantinya dapat diintegrasikan dengan pencitraan USG dan MRI untuk mendeteksi penyakit-penyakit lainnya. n ap/kes/cr5/litbangsp/rmc

Editor : Raditya Mohammer Khadaffi

BERITA TERBARU