SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ada seorang aktivis perempuan bernama Ajeng, yang saat memperingati International Women's Day 2025 di Jakarta, Sabtu (8/3) menggaungkan perempuan Indonesia mengalami keresahan. Ia menuding pemerintah telah memotong anggaran sehingga "perempuan kehilangan hak mereka".
Ajeng menggelar aksi Peringatan Hari Perempuan Sedunia (International Women's Day) 2025 bersama sejumlah masyarakat sipil dan aktivis peduli perempuan.
Peringatan Hari Perempuan Internasional 2025 kali ini bertema "For ALL women and girls: Rights. Equality. Empowerment" atau "Untuk Semua Perempuan dan Anak perempuan: Hak. Kesetaraan. Pemberdayaan.
Para peserta aksi ada yang menenteng poster dengan berbagai tulisan yang menunjukkan keresahan perempuan. Ada yang menuliskan 'Tubuh ini milikku', kemudian 'Kemuliaan bagi perempuan kelas pekerja'.
"Perempuan dibunuh, dimiskinkan, dikriminalisasi," ujar aktivis perempuan lain.
Di Paris, perempuan dari kelompok aktivis Fermen berbaris tanpa atasan tapi sebagai gantinya mereka melukis gambar bendera Rusia atau AS dan ditandai dengan swastika. Ada kesan aktivis perempuan Indonesia ingin kebebasan seperti perempuan lain di berbagai belahan dunia.
Pihak Republikan di AS mengklaim telah lama dimusuhi maka muncul tuduhan pelecehan seksual dan kebijakan Trump yang dianggap tidak ramah perempuan.
"Kita menuju ke arah yang benar: Trump, kaum maskulinis, mereka membuat banyak kegaduhan tetapi mereka tidak sekuat kita," kata Sabine yang berunjuk rasa bersama putranya.
Media tak menjelaskan siapa Sabine, yang ikut aksi demo di agenda International Women's Day) 2025.
Catatan jurnalistik saya, aktivis perempuan bernama Sabine, adalah perempuan berusia 50-an yang hidup sendiri di apartemen kecilnya di kota Dortmund di barat Jerman.
Ada anaknya yang bergabung dengan kelompok teror ISIS dan tewas di Suriah.
***
Dikutip dari laman dianns.org, bertema Aktivis Perempuan Masa Kini menyebut Dunia aktivis yang memiliki risiko tinggi sudah bukan ranah laki-laki saja tetapi perempuan juga dapat berkecimpung di dalamnya. R.A Kartini adalah salah satu contoh aktivis perempuan dan tanggal lahirnya pada 21 April pun dijadikan sebagai hari perjuangan kaum perempuan.
Namun dalam kacamata sosial dan budaya, ada perbedaan yang jelas antara laki-laki dan perempuan dalam struktur sosial.
Di Indonesia, budaya patriarki menjadi hambatan ketika perempuan ingin melakukan pergerakan. Sistem patriarki memberikan beban domestik bagi perempuan yang ingin masuk ke dunia aktivis. “Masyarakat patriarki membebankan pekerjaan domestik kepada perempuan. Pekerjaan rumah, merawat anak, dan urusan dapur pasti menjadi tanggung jawab perempuan,” ungkap Salma Safitri, seorang aktivis perempuan yang memperjuangkan isu perempuan dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).
Budaya patriarki dan perbedaan struktur sosial antara laki-laki dan perempuan terus berlangsung hingga sekarang. Perbedaan yang jelas mengenai posisi laki-laki dan perempuan menimbulkan dorongan gerakan yang berbeda. Inilah yang menjadi awal perjuangan dari pergerakan perempuan untuk menuntut pemenuhan hak dan kesetaraan gender. Seperti yang diungkapkan oleh Dhanny S. Sutopo selaku dosen sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB).
Akal sehat saya menyimak dari pendapat diatas, menyimpulkan aktivis perempuan punya keberanian untuk bersuara, terlibat aktif dalam isu-isu sosial, dan memiliki semangat untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan hak-hak perempuan. Juga memiliki kemampuan organisasi dan kepemimpinan yang kuat. Luar biasa!
***
Pada hari International Women's Day 2025, Sabtu (8/3) pukul 18.00 WIB, ada perempuan muda ditikam eks pacarnya hingga mengalami luka serius di tubuhnya, .akibat penikaman yang terjadi.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, perempuan berusia 29 tahun yang mengenakan kemeja kotak-kotak cokelat tengah bersama rekannya bersiap untuk menutup toko.
Tak berselang lama, datang eks pacarnya berinisial MNA yang menghampiri korban. Tanpa basa-basi, pelaku mengayunkan sebilah pisau ke arah korban beberapa kali. Korban sempat mencoba menghalangi aksi brutal pelaku dengan tangannya.
"Begitu melihat korban, pelaku langsung melakukan penusukan dan melarikan diri," kata Kapolsek Metro Tanah Abang AKBP Aditya SP Sembiring saat dihubungi, Minggu (9/3/2025).
Ini peristiwa menyedihkan. Gambaran perempuan itu lemah tak berdaya menghadapi seorang atau dua pria.
Peristiwa memilukan ini contoh sebah diskriminasi, kesenjangan, dan kekerasan.
Perempuan berinisial S, tampak mengalami kesulitan dalam aspek kehidupandi lingkungan kerjanya di mal yang terbuka.
***
PerIstiwa yang dialami S, gambaran perempuan itu lemah dan rentan terhadap kekerasan, baik kekerasan fisik, dan seksual.
Wajar isu yang digaungkan dalam acara hari International Women's Day 2025 di Jakarta, melukiskan perempuan Indonesia mengalami keresahan.
Ada bentuk keresahan, yang berdampak pada hak-hak mereka di berbagai aspek kehidupan, seperti diderita perempuan berinisial S.
Ia adalah pencari nafkah. S menjadi korban tindak kekerasan.
Wajar pada hari perempuan Internasional atau International Women’s Day yang diperingati oleh seluruh perempuan di belahan dunia setiap tanggal 8 maret dapat dimaknai sebagai sebuah momentum untuk menuntut adanya perubahan, kesamaan dan keadilan bagi perempuan. Diantaranya perjuangan untuk menghentikan segala bentuk kesewenang-wenangan terhadap ruang hidup perempuan. ([email protected])
Editor : Moch Ilham