SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ada kisah. Yesus mengkritik para ahli Taurat dan orang Farisi yang gemar memamerkan betapa religiusnya mereka. Pamer dengan tali filakteri yang sangat lebar dan rumbai-rumbai yang sangat panjang pada selendang doa mereka.
Yesus melihatnya lebih jauh dari sekadar pertunjukan daripada melihat pribadi yang sebenarnya. Dan pada para pemimpin Yahudi ini, Yesus melihat kesombongan, sikap sok suci, dan tidak ada keinginan untuk berubah.
Ada orang di bawah kaki mereka. Ini bisa dikatakan, sekumpulan orang yang dipandang rendah sebagai orang-orang yang dibenci, terabaikan, dan hina.
Itu salah satu watak sikap sok suci. Pesan moralnya, kesombongan dapat membuat seorang pembunuh benar-benar merasa senang dengan kejahatan mereka.
Tampak kesombongan adalah teman dari kesombongan.
Jadi, kesombongan diri adalah teman tidur kesombongan. Bagi saya, kesombongan diri adalah kesalehan yang dirasakan orang beragama berdasarkan perbuatan dan standar mereka sendiri (atau standar gereja) .
Ini bertentangan dengan kasih karunia Bapa kita dan standar-Nya. Saya katakan keduanya adalah teman tidur.
Orang religius yang merasa benar sendiri akan membenarkan dirinya sendiri.
Dan orang yang merasa benar sendiri akan selalu memiliki orang-orang yang dapat dipandang rendah. Semakin banyak orang yang mereka miliki di bawah kaki mereka, semakin merasa benar sendiri mereka.
Meskipun mereka mungkin tidak menyuarakannya secara terbuka, mereka yang dianggap berada di luar kelompok "yang diselamatkan", kelompok "orang benar" dan diam-diam dibenci. Terkadang hal itu tidak begitu rahasia, terkadang kebencian yang terang-terangan diungkapkan secara terbuka.
Di mata orang-orang yang sok suci secara agama, karena Tuhan akan memperlakukan mereka yang mereka benci dengan cara yang sangat kejam untuk selamanya. Dan mereka merasa cukup dibenarkan untuk meniru Tuhan mereka yang murka. Mereka mungkin tidak berbicara langsung dengan orang-orang yang mereka benci. Dan biasanya mereka bicara melalui gosip, fitnah, sikap dingin, berpura-pura bahwa orang-orang yang mereka benci tidak ada. Sok suci ini kemudian menjadi segunung orang di bawah kaki mereka, bisa dikatakan, sekumpulan orang yang dipandang rendah sebagai orang-orang yang dibenci, terabaikan, dan hina.
Sikap "sok suci" atau merasa paling benar sendiri adalah perilaku seseorang yang menganggap dirinya lebih saleh, bermoral, atau berpengetahuan daripada orang lain. Mereka sering kali bicara dengan cara yang munafik. Orang dengan sikap ini cenderung menghakimi orang lain, memamerkan kebaikan mereka sendiri, dan mencari validasi atas moralitas mereka.
Ciri-ciri orang yang sok suci yaitu suka menghakimi. Orang dengan sikap ini seringkali mengkritik dan menilai orang lain, bahkan untuk hal-hal kecil, sambil merasa diri mereka lebih baik. (Maria Sari)
Editor : Moch Ilham